SUKABUMITIMES.COM – Sebagai orang tua, tentu kita biasa untuk menidurkan si kecil, terkadang mereka sudah untuk ditidurkan karena inginnya bermain terus.
Nah, kita bisa coba untuk mendongengkan si kecil yang kaya akan pesan moral dan pelajaran bijak.
Enggak cuma untuk hiburan saja, cerita dongeng juga bisa jadi bekal untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan Si Kecil sejak dini. Lewat cerita yang ringan, anak pun bisa belajar memahami perilaku yang baik.
Selain itu, membaca dongeng juga dapat menjadi waktu yang hangat antara orang tua dan Si Kecil. Anak pun akan merasa diperhatikan, didengar, dan mau jika diajak bercerita.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau kita membacakan cerita dongeng tentang zaman dahulu yang sarat pesan positif untuk Si Kecil. Simak, yuk.
Mengutip dari berbagai sumber, berikut kumpulan cerita dongeng dari zaman dahulu kala yang sarat pesan moral, cocok diceritakan sebelum anak tidur.
Cerita yang Tiada Akhirnya
Cerita dongeng Cerita yang Tiada Akhirnya ini diambil dari buku Kumpulan Dongeng Anak oleh Teguh Setiawan.
Dahulu kala, ada seorang raja yang suka sekali mendengarkan cerita. Oleh karena itu, banyak tukang cerita dari berbagai negeri yang jauh datang kepadanya untuk membawakan sebuah cerita. Sebagai imbalannya, orang yang berhasil membawakan cerita kepadanya diberi hadiah berupa emas, pakaian, dan uang.
Pada suatu hari, sang Raja menyampaikan sebuah berita bahwa jika ada seorang tukang cerita yang dapat membawakan sebuah cerita yang tak ada akhirnya, ia akan dikawinkan dengan putrinya. Namun sebaliknya, jika cerita yang dibawakan oleh si tukang cerita itu ada akhirnya, ia akan dimasukkan ke dalam penjara.
Para tukang cerita pun bertanya-tanya, apa ada cerita yang tak ada akhirnya? Semua cerita pasti ada akhirnya. Karena itu, banyak di antara mereka yang mengundurkan diri untuk ikut serta dalam sayembara tersebut.
Pada suatu hari, datanglah seorang tukang cerita ke hadapan sang Raja. Ia berkata, “Oh, Yang Mulia, bolehkah hamba menceritakan sesuatu yang tak ada pada akhirnya?”
“Oh, tentu saja, ceritakanlah!” perintah Raja. Lalu, orang itu pun bercerita sepanjang hari. Namun, karena tidak ada ide lagi yang dapat diceritakan, ia pun berhenti di tengah jalan, dan sebagai hukumannya ia dimasukkan ke dalam penjara.
Beberapa hari kemudian, datang lagi seorang tukang cerita. “Oh, Baginda. Aku punya cerita yang tak ada akhirnya,” kata si tukang cerita itu dengan sombongnya.
“Apa kau benar-benar yakin kalau ceritamu itu tidak ada akhirnya? Awas, kalau tidak, akan kumasukkan kau ke dalam penjara seperti temanmu itu.”
“O, tentu, tentu…” jawab si tukang cerita itu. Kemudian ia duduk dan mulai bercerita. Namun, setelah satu minggu bercerita, ia pun kehabisan bahan. Oleh karena itu, ia juga dimasukkan ke dalam penjara.
Setelah beberapa hari, datang pula tukang cerita yang lain, dan berkata kepada sang Raja, “Izinkanlah hamba untuk menceritakan sesuatu yang tak ada pada akhirnya.”
“Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu. Tapi jika gagal, kau akan kumasukkan ke dalam penjara seperti orang-orang yang datang sebelumnya,” jawab sang Raja.
Si tukang cerita itu pun mulai bercerita. Hari ke hari ia lewati, minggu ke minggu lalu. Namun, di penghujung bulan pertama, ia berhenti bercerita. Entah apa alasannya. Lalu dimasukkanlah ia ke dalam penjara.
Setelah itu, ada lagi tukang cerita yang lain. Ia berhasil bercerita sampai enam bulan namun berhenti. Ada juga yang mampu bercerita sampai satu tahun, tetapi berhenti juga. Semuanya dimasukkan ke dalam penjara. Begitulah seterusnya, hingga tidak ada lagi tukang cerita yang datang untuk mengikuti sayembara itu.
Pada suatu hari, ketika sedang duduk-duduk di istana, sang Raja mendengar kabar dari pengawal istana bahwa ada seorang petani yang ingin masuk ke dalam istana. Meski sudah dilarang, petani tersebut tetap bersikeras untuk masuk. Akhirnya, sang Raja menyuruh pengawalnya untuk membawa masuk petani itu.
“Aku punya cerita yang Baginda inginkan,” kata petani itu.
“Hai petani miskin, apa kau sudah siap menanggung akibatnya? Jika cerita yang kau bawakan itu ada akhirnya, akan kumasukkan kau ke penjara seumur hidup,” ucap sang Raja.
“Ya,” jawab petani itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda ia setuju dengan syarat-syarat yang diberikan oleh sang Raja tadi, lalu ia pun mulai bercerita.
“Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang zalim. Ia suka mengambil penghasilan rakyatnya dan menghukum rakyat tanpa sebab yang jelas. Raja itu pun membangun sebuah gudang yang sangat besar dan luas, melebihi besar dan luasnya kota. Gudang itu ia gunakan untuk menyimpan hasil tanaman yang ia ambil dari rakyatnya. Karena takut isi gudang dicuri orang, tak ada satupun pintu atau jendela yang ia buat untuk dapat masuk ke dalamnya, kecuali sebuah lubang yang sangat kecil, yang hanya bisa dilalui oleh seekor lebah. Pada suatu hari, secara tidak diduga-duga, gudang itu diserang oleh jutaan lebah sehingga permukaannya tertutup. Lebah-lebah itu keluar masuk gudang, mengambil hasil tanaman yang ada di dalamnya. Karena lubangnya hanya cukup untuk satu lebah, maka masing-masing lebah bergantian mengambil hasil tanaman itu. Setiap ekor lebah mengambil satu biji gandum, kemudian keluar. Lalu masuk lagi yang lain dan keluar lagi. Antreannya pun memakan waktu yang lama.”
Setiap kali seekor lebah masuk, petani itu mengucapkan kata-kata, “Seekor lebah masuk mengambil satu biji gandum, lalu keluar lagi, dan masuk lagi yang lain, lalu keluar lagi…” sehingga sang Raja bosan mendengar kata-kata itu.
“Lalu bagaimana kelanjutan dari cerita itu?” tanya sang Raja.
“Sabar Baginda, hamba belum bisa meneruskan kelanjutan dari cerita itu sebelum hamba habis menghitung lebah-lebah ini karena jumlahnya sangat banyak,” jawab petani itu sambil terus mengulang kata-kata, “Seekor lebah masuk, membawa biji gandum, kemudian keluar lagi, lalu masuk lagi yang lain, dan keluar lagi…” Setiap kali sang Raja menanyakan bagaimana kelanjutan dari cerita itu, petani pun menjawab, “Sabar Baginda, Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Akhirnya, sang Raja pun lelah mendengarkan cerita yang kata-katanya itu saja, seekor lebah masuk, membawa biji gandum, kemudian keluar lagi, lalu masuk lagi yang lain, dan keluar lagi. Lalu ia berkata kepada petani itu, “Cukup, cukup, tak usah kau teruskan lagi cerita itu. Kalau begitu terus tidak ada akhirnya.”
“Benar, Yang Mulia, cerita ini memang tidak ada akhirnya,” jawab si petani itu dengan tenang.
Sang Raja itu pun mengakui kehebatan si petani yang bisa membawakan sebuah cerita yang tak ada akhirnya, lalu ia pun dinikahkan dengan putrinya. Setelah menikah dengan sang putri Raja, semua pencerita yang dipenjara oleh sang Raja dibebaskan oleh si petani itu. Setelah sang Raja wafat, si petani itu pun dinobatkan menjadi seorang raja dan hidup bersama istrinya dengan bahagia.
Pesan moral: Kesabaran dan ketekunan akan membawa keberhasilan dan penghargaan dalam hidup. (*/sya)































