Oleh: Boby es-Syawal el-Iskandar (Pengurus MUI Kota Sukabumi, tinggal di Sukabumi)
Hari Raya Iduladha dan hari-hari tasyrik bukan sekadar perayaan tahunan umat Islam. Di dalamnya terdapat pelajaran besar tentang ketakwaan, pengorbanan, keikhlasan, dan bagaimana manusia menentukan prioritas hidupnya. Ibadah kurban menjadi simbol nyata bahwa seorang hamba rela mengorbankan sebagian hartanya demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di tengah kehidupan modern saat ini, pesan tentang kurban menjadi semakin relevan. Banyak orang merasa berat untuk berkurban, tetapi tanpa sadar sangat mudah menghabiskan uang untuk kebutuhan konsumtif dan kesenangan sesaat. Karena itu, Iduladha sejatinya bukan hanya momentum menyembelih hewan, melainkan juga momentum menyembelih sifat egois, cinta dunia berlebihan, dan kebakhilan dalam diri manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yangdapat mencapainya.”(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti utama dari ibadah kurban bukanlah pada besarnya hewan atau banyaknya daging yang dibagikan, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan hati seseorang. Allah tidak membutuhkan darah ataupun daging kurban manusia. Yang Allah nilai adalah ketulusan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya.
Kurban dan Keikhlasan Nabi Ibrahim
Sejarah kurban tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Nabi Ismail pun menerima perintah itu dengan penuh ketakwaan.
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’” (QS. Ash-Shaffat: 103–105)
Kisah tersebut mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya, termasuk harta dan keluarga. Semangat inilah yang diwariskan dalam ibadah kurban setiap tahun.
Persoalan Bukan Selalu Ketidakmampuan
Dalam kehidupan sehari-hari, sering terdengar alasan bahwa seseorang tidak mampu berkurban karena kebutuhan hidup yang semakin berat. Memang, Islam tidak memaksa orang yang benar-benar tidak mampu. Namun dalam banyak kasus, persoalannya justru terletak pada prioritas pengeluaran.
Tidak sedikit orang yang merasa berat menabung untuk kurban, tetapi tidak pernah merasa berat membeli rokok, kopi, hiburan, atau kebutuhan gaya hidup lainnya. Pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus akhirnya menjadi besar jika dihitung dalam setahun.
Inilah yang perlu menjadi bahan renungan. Kurban bukan hanya soal kemampuan ekonomi, tetapi juga tentang kelapangan hati dan kemauan untuk mendahulukan akhirat dibanding kesenangan dunia yang sementara.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan betapa besar anjuran untuk berkurban bagi mereka yang memiliki kemampuan.
Allah Melihat Usaha dan Niat Hamba-Nya
Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Jika seseorang benar-benar belum mampu membeli hewan kurban secara utuh, masih ada kesempatan untuk bersedekah dan berbagi sesuai kemampuan. Semangat berkurban tidak boleh hilang hanya karena keterbatasan materi.
Yang paling penting adalah niat dan kesungguhan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebab Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”(HR. Ahmad)
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mudah berputus asa atau merasa dirinya tidak pantas melakukan kebaikan. Ketika ada niat yang tulus, Allah akan membuka jalan dan memberikan kemudahan.
Momentum Memperbaiki Prioritas Hidup
Iduladha seharusnya menjadi momentum evaluasi diri. Sudahkah harta yang kita miliki digunakan untuk sesuatu yang bernilai akhirat? Sudahkah kita lebih mengutamakan perintah Allah dibanding kesenangan dunia yang sementara?
Kurban mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang menikmati dunia, tetapi juga tentang berbagi, berempati, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sebab pada akhirnya, yang akan dibawa manusia bukanlah banyaknya harta yang dikumpulkan, melainkan amal dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Semoga ibadah kurban menjadikan kita pribadi yang lebih ikhlas, lebih peduli kepada sesama, dan lebih mampu menata prioritas hidup menuju ridha Allah SWT. (*)






























