Gelombang PHK Raksasa Teknologi Menggila, AI Disebut Jadi Pemicu Krisis Tenaga Kerja Global

SUKABUMITIMES.com – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam industri teknologi global. Dua raksasa teknologi dunia, Meta Platforms dan Microsoft, dilaporkan berpotensi memangkas lebih dari 20.000 tenaga kerja secara gabungan di tengah masifnya investasi pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Langkah efisiensi besar-besaran tersebut memicu kekhawatiran baru di kalangan ekonom dan pengamat industri teknologi. Mereka menilai ancaman AI terhadap lapangan kerja kini bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan sudah menjadi kenyataan.

Mengutip dari laporan CNBC International, perusahaan-perusahaan teknologi besar tengah melakukan restrukturisasi dengan menggantikan sejumlah pekerjaan manusia menggunakan teknologi AI. Langkah itu juga disebut sebagai bagian dari penyesuaian setelah perekrutan besar-besaran selama pandemi Covid-19.

Pakar kepemimpinan sekaligus mantan praktisi AI, Anthony Tuggle, menilai situasi ini menunjukkan perubahan mendasar dalam dunia kerja global.

“Ini mewakili pergeseran struktural yang mendasar daripada sekadar koreksi pasar sementara. Kita sedang menyaksikan awal dari transformasi permanen dalam bagaimana pekerjaan diorganisir dan dilaksanakan di seluruh industri,” ujar Tuggle dalam analisisnya.

Data dari Layoffs.fyi mencatat lebih dari 92.000 pekerja teknologi terkena PHK sepanjang tahun 2026 hingga pekan ini. Jumlah tersebut membuat total pekerja sektor teknologi yang kehilangan pekerjaan sejak 2020 mendekati angka 900.000 orang.

Kekhawatiran pekerja semakin meningkat sejak kemunculan ChatGPT dan berbagai alat AI generatif lain yang dinilai mampu menggantikan tugas-tugas di berbagai divisi bisnis secara lebih efisien.

Meta dikabarkan akan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya atau setara 8.000 posisi mulai 20 Mei mendatang. Selain itu, perusahaan juga membatalkan perekrutan untuk sekitar 6.000 posisi yang sebelumnya direncanakan.

Dalam memo internal perusahaan, Meta menyebut langkah tersebut dilakukan demi menjaga efisiensi perusahaan di tengah besarnya investasi AI yang sedang digelontorkan.

“Ini semua adalah bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk menjalankan perusahaan dengan lebih efisien dan memungkinkan kami mengimbangi investasi lain yang sedang kami lakukan,”tulis Meta dalam memo kepada karyawan.

Sementara itu, Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela atau voluntary buyout kepada sekitar 7 persen karyawannya di Amerika Serikat. Jumlah tersebut diperkirakan mencapai 8.750 orang dan menjadi langkah efisiensi terbesar dalam sejarah 51 tahun perusahaan.

CEO Chef Robotics, Rajat Bhageria, mengatakan AI memang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, namun bentuk pekerjaan tersebut hingga kini masih belum jelas.

“Kita baru mulai memahami seberapa banyak pekerjaan harian kita yang dapat ditangani oleh AI di berbagai jenis pekerjaan yang berbeda,”kata Bhageria.

Di tengah badai PHK, perusahaan teknologi justru menggelontorkan investasi fantastis untuk pengembangan AI. Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon diperkirakan menghabiskan hampir US$700 miliar atau sekitar Rp12.077 triliun tahun ini untuk membangun infrastruktur AI.

Analis TD Cowen memperkirakan pemangkasan 20.000 hingga 30.000 pekerja di perusahaan teknologi dapat menghasilkan tambahan arus kas bebas hingga US$10 miliar atau sekitar Rp172,5 triliun.

Chief Economist Glassdoor, Daniel Zhao, menyebut kondisi pasar kerja yang tidak stabil membuat pekerja kini enggan mengundurkan diri secara sukarela. Situasi itu membuat perusahaan memilih langkah lebih agresif untuk memangkas biaya tenaga kerja.

“Karena pengunduran diri alami tidak banyak terjadi, perusahaan menjadi lebih agresif dalam mendorong orang keluar dari pintu. Entah itu berarti PHK eksplisit atau menaikkan standar tinjauan kinerja, ada berbagai tindakan yang diambil pemberi kerja untuk memotong biaya tenaga kerja,”jelas Zhao.

Efisiensi berbasis AI juga dilakukan Snap Inc. yang memangkas sekitar 1.000 pekerja atau 16 persen dari total stafnya. CEO Snap, Evan Spiegel, secara terbuka menyebut AI sebagai faktor utama efisiensi perusahaan.

Hal serupa dilakukan Salesforce. CEO Salesforce, Marc Benioff, memangkas sekitar 4.000 posisi dukungan pelanggan karena merasa operasional perusahaan kini membutuhkan lebih sedikit tenaga manusia berkat bantuan AI. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *