SUKABUMITIMES.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan agenda besar bertajuk Karnaval Binokasih Keliling Jawa Barat yang akan menyusuri sejumlah titik bersejarah di Tanah Pasundan. Tak sekadar pawai budaya, kegiatan ini disebut bakal menjadi pintu masuk penataan kawasan heritage, wisata, hingga lingkungan di berbagai daerah.
“Kegiatan karnaval ini lokasinya di Jawa Barat dan sekarang diintegrasikan dengan Pemerintah Provinsi agar gaungnya lebih besar dan kita akan melakukan secara bersama-sama,” kata Dedi Mulyadi.
Menurutnya, rangkaian karnaval akan dimulai dari Sumedang dan bergerak ke sejumlah daerah yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Sunda dan perkembangan peradaban di Jawa Barat.
“Tanggal 2 karnaval di Sumedang. Tanggal 3 di Ciamis, tepatnya di Kawali, karena itu merupakan pusat Kerajaan Sunda Galuh yang pertama,” ujarnya.
Perjalanan budaya tersebut kemudian berlanjut ke Tasikmalaya dengan tujuan Kampung Naga yang dinilai sebagai salah satu destinasi penting warisan budaya Sunda.
“Tanggal 4 di Tasikmalaya, kita menuju ke Kampung Naga karena itu salah satu destinasi penting,” ungkap Dedi.
Setelah itu, rombongan karnaval akan bergerak menuju Cianjur. Dedi menyebut kawasan Gedung Karesidenan Cianjur menjadi salah satu titik penting karena memiliki sejarah sebagai pusat pemerintahan Priangan tempo dulu.
“Berikutnya di Cianjur, menuju Gedung Karesidenan Cianjur zaman dulu, yang merupakan ibu kota Priangan lama,” katanya.
Tak berhenti di sana, Karnaval Binokasih juga akan menyambangi Bogor dengan rute dari Batu Tulis menuju Kebun Raya Bogor.
“Bogor dari Batu Tulis menuju Kebun Raya Bogor,” ucapnya.
Dedi menambahkan, rangkaian kegiatan akan berhenti sementara pada malam Jumat sebelum kembali dilanjutkan dan diintegrasikan dengan peringatan Hari Jadi Kota Depok.
“Malam Jumatnya kita libur dulu, kemudian nanti terintegrasi dengan Hari Jadi Kota Depok,” katanya.
Di Depok, pemerintah akan mengangkat kawasan peninggalan kolonial sebagai bagian dari penguatan sejarah daerah.
“Di Depok, tujuannya adalah kawasan Heritage Belanda Depok agar sejarahnya terangkat,” ujar Dedi.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Karawang dan berakhir di Cirebon sebagai puncak kegiatan.
“Setelah itu kita ke Karawang menuju Pesantren Syekh Quro. Puncaknya nanti dari Balai Jayadewata menuju Kesepuhan Cirebon,” katanya.
Dedi menegaskan, Karnaval Binokasih bukan hanya seremoni budaya semata. Ia menyebut ada misi besar yang ingin dibangun, mulai dari edukasi sejarah hingga penataan lingkungan di Jawa Barat.
“Makna dari kegiatan ini ada beberapa hal penting bagi warga,” ujar Dedi.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan mampu mengingatkan masyarakat terhadap sejarah panjang Sunda.
“Edukasi sejarah, mengingatkan kembali tentang sejarah panjang Sunda, mulai dari terbentuknya Kawali sampai terbentuknya Kesultanan Cirebon,” katanya.
Selain sejarah, Dedi juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan di setiap daerah yang dilalui karnaval.
“Tata kelola lingkungan, membangun semangat menjaga kebersihan lingkungan. Daerah yang dilewati karnaval ini harus bersih,” tegasnya.
Lebih jauh, Dedi mengungkapkan setelah karnaval selesai akan ada tindak lanjut berupa program pembangunan dan revitalisasi sejumlah kawasan bersejarah di Jawa Barat.
“Setelah kegiatan ini, akan ada tindak lanjut berupa program pembangunan seperti renovasi Keraton Sumedang, renovasi Kawali, peningkatan daya dukung wisata di Kampung Naga, Cianjur Area Wiratanudatar, Belanda Depok, Pesantren Syekh Quro, hingga Kesultanan Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan di Cirebon,” ungkapnya.
Menurutnya, program tersebut juga akan berdampak pada penataan infrastruktur dan wajah kota di berbagai daerah.
“Implikasinya nanti pada penataan jalan, trotoar, dan lingkungan. Tujuannya agar seluruh wilayah Jawa Barat bersih, tidak hanya Kota Bandung saja,” pungkas Dedi Mulyadi. (sya)

























