SUKABUMITIMES.com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dunia. Jalur strategis seperti Selat Hormuz—yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak global—kini berada dalam sorotan tajam.
Sejumlah negara di Asia pun bergerak cepat memastikan ketahanan energi nasional mereka. Langkah ini dilakukan guna menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menjamin kebutuhan domestik tetap terpenuhi jika terjadi gangguan pasokan minyak dunia.
Berbagai negara bahkan telah menyiapkan cadangan minyak dalam jumlah besar yang mampu menopang kebutuhan dalam negeri selama berbulan-bulan. Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menjadi contoh negara dengan kesiapan energi yang relatif kuat menghadapi potensi krisis.
Jepang Paling Siap, Cadangan Tembus 254 Hari
Jepang menjadi negara dengan ketahanan energi paling solid di kawasan. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memastikan negaranya memiliki cadangan minyak yang mampu memenuhi kebutuhan domestik hingga sekitar 254 hari.
“Pasokan energi tetap stabil meskipun ada kekhawatiran terganggunya distribusi akibat potensi penutupan Selat Hormuz,” ujar Takaichi dalam sidang parlemen pada awal Maret lalu.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah Jepang terus memantau perkembangan situasi global, seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Korea Selatan dan China Tak Kalah Tangguh
Korea Selatan juga menunjukkan kesiapan signifikan. Wakil Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi, Moon Shin-hak, menyebutkan cadangan minyak negaranya mencapai sekitar 157 juta barel.
“Jumlah ini terdiri dari cadangan pemerintah dan sektor swasta, yang secara keseluruhan mampu menopang kebutuhan hingga kurang lebih 208 hari,” jelasnya.
Sementara itu, Tiongkok memiliki cadangan strategis yang sangat besar, mencapai sekitar 1,5 miliar barel. Dengan jumlah tersebut, negeri Tirai Bambu mampu memenuhi kebutuhan impor hingga sekitar 200 hari, meskipun sekitar 50 persen pasokan minyaknya bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Selain itu, Tiongkok juga terus memperluas kapasitas penyimpanan minyak mentah hingga tahun 2028, sekaligus mengamankan pasokan alternatif dari berbagai negara, termasuk Rusia.
Negara Asia Tenggara Siapkan Langkah Antisipasi
Di kawasan Asia Tenggara, sejumlah negara juga menunjukkan kesiapsiagaan meski dengan kapasitas cadangan yang lebih terbatas.
Thailand, misalnya, memiliki cadangan minyak hingga 95 hari. Menteri Energi Thailand, Auttapol Rerkpiboon, menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah darurat.
“Kami menyiapkan pembatasan ekspor, peningkatan kewajiban cadangan, hingga opsi penggunaan biodiesel untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan,” ujarnya.
Singapura juga menerapkan kebijakan ketat dengan mewajibkan perusahaan pembangkit listrik menjaga stok minyak minimal selama 90 hari, sebagai langkah mitigasi terhadap krisis energi.
Vietnam tercatat memiliki cadangan sekitar 56 hari impor bersih, yang terdiri dari stok komersial, operasional kilang, serta cadangan nasional. Sementara Filipina memiliki stok energi sekitar 51,5 hari, mencakup berbagai jenis bahan bakar seperti solar, minyak tanah, hingga LPG.
Pemerintah Filipina memastikan cadangan tersebut cukup untuk menopang kebutuhan nasional hampir dua bulan ke depan.
Indonesia Masih Rentan, Cadangan Hanya 20 Hari
Di tengah kesiapan negara-negara Asia lainnya, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal ketahanan energi. Cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional tercatat hanya mampu bertahan sekitar 20 hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan kondisi pasokan saat ini masih aman.
“Masih cukup (untuk) 20 hari,” ujarnya di Istana Kepresidenan.
Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada gangguan terhadap pasokan energi dalam negeri. “Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu,” tambahnya.
Meski demikian, pemerintah terus memantau perkembangan konflik global, terutama jika ketegangan di Timur Tengah berlangsung lebih lama dan berdampak pada distribusi minyak dunia.
Ancaman Nyata di Balik Stabilitas Semu
Dengan ketergantungan tinggi terhadap jalur distribusi global seperti Selat Hormuz, ketegangan geopolitik yang terus meningkat menjadi ancaman nyata bagi stabilitas energi dunia.
Negara-negara dengan cadangan besar memang memiliki ruang napas lebih panjang. Namun bagi negara dengan cadangan terbatas seperti Indonesia, situasi ini menjadi alarm serius untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah strategis, mulai dari peningkatan cadangan nasional, diversifikasi energi, hingga pengembangan energi terbarukan, menjadi kunci untuk menghadapi potensi krisis di masa depan. (*/sya)
































