SUKABUMITIMES.com – Kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Mojtaba Hosseini Khamenei atau Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran. Pernyataan tersebut disampaikan melalui pesan resmi yang dipublikasikan di platform Telegram pada Minggu (8/3/2026).
Dalam pernyataan itu, Houthi menyebut terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai momen penting bagi Iran sekaligus kelanjutan dari garis ideologis Revolusi Islam.
“Kami mengucapkan selamat kepada Republik Islam Iran, para pemimpinnya, dan rakyatnya atas terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pada momen penting dan menentukan ini,” tulis kelompok Houthi dalam pernyataan mereka.
Kelompok tersebut juga menilai penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran merupakan kemenangan baru bagi Revolusi Islam serta pukulan bagi pihak-pihak yang selama ini dianggap sebagai musuh Iran.
“Pemilihan ini merupakan kemenangan baru bagi Revolusi Islam dan pukulan telak bagi musuh-musuh Republik Islam Iran,” lanjut pernyataan itu.
Dipilih Majelis Ahli Iran
Mojtaba Khamenei dipilih oleh Majelis Ahli Iran, lembaga yang memiliki kewenangan konstitusional untuk menentukan pemimpin tertinggi negara tersebut. Setelah pengumuman keputusan itu, majelis juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Iran agar bersatu mendukung kepemimpinan baru.
Dalam seruan resminya, Majelis Ahli meminta masyarakat Iran untuk menunjukkan loyalitas terhadap pemimpin baru demi menjaga stabilitas negara di tengah situasi yang dinilai krusial.
Majelis tersebut menyatakan bahwa masyarakat di seluruh negeri, “terutama para elite dan intelektual dari kalangan seminar dan universitas”, diharapkan menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru serta menjaga persatuan nasional.
Seruan tersebut menegaskan bahwa momen pergantian kepemimpinan dianggap sebagai fase penting bagi Iran di tengah situasi geopolitik yang memanas.
Dukungan dari Parlemen dan Aparat Keamanan
Di dalam negeri Iran, sejumlah pejabat tinggi negara menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan Mojtaba Khamenei. Ketua parlemen Iran memuji keputusan para ulama yang memilih Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut.
Ia bahkan menegaskan bahwa mengikuti kepemimpinan Mojtaba Khamenei merupakan kewajiban bagi masyarakat Iran.
“Mengikuti kepemimpinan pemimpin tertinggi adalah kewajiban agama dan nasional bagi seluruh rakyat Iran,” ujar Ketua Parlemen Iran dalam pernyataannya.
Sementara itu, kepala keamanan negara menyatakan keyakinannya bahwa Mojtaba Khamenei mampu memimpin Iran melalui masa-masa sulit yang sedang dihadapi negara tersebut.
“Pemimpin baru memiliki kapasitas untuk membimbing Iran melalui masa yang sensitif ini,” kata pejabat keamanan Iran tersebut.
Dukungan juga datang dari Garda Revolusi Iran (IRGC). Institusi militer elite tersebut menyatakan kesiapan mereka untuk mengikuti kepemimpinan Mojtaba Khamenei dan mempertahankan stabilitas negara.
IRGC menegaskan bahwa mereka siap menjalankan arahan pemimpin tertinggi baru demi menjaga keamanan nasional dan kelangsungan Revolusi Islam.
Kepemimpinan yang Memicu Perdebatan
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga menjadi sorotan karena menandai pertama kalinya sejak Revolusi Islam Iran pada 1979 kepemimpinan tertinggi negara itu berpindah langsung dari ayah kepada anak.
Peristiwa ini diperkirakan akan memicu perdebatan di dalam negeri Iran, terutama terkait kemungkinan munculnya sistem dinasti dalam negara yang sebelumnya menggulingkan sistem monarki Shah.
Sejumlah pengamat menilai perkembangan ini dapat memunculkan pertanyaan mengenai konsentrasi kekuasaan di dalam struktur politik Iran.
Bagi para pendukungnya, Mojtaba Khamenei dianggap sebagai sosok yang mampu menjaga kesinambungan ideologi Revolusi Islam yang dirintis oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini dan dilanjutkan oleh ayahnya.
Namun bagi para pengkritik, kemunculan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi munculnya kepemimpinan yang bersifat turun-temurun.
Latar Belakang Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di Kota Mashhad. Ia merupakan putra kedua dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai figur yang berada di lingkaran dalam kekuasaan Iran meski jarang tampil di depan publik.
Ia menempuh pendidikan teologi di pusat pendidikan ulama Syiah di Kota Qom. Pada masa mudanya, ia juga dilaporkan terlibat dalam tahap akhir perang Iran–Irak.
Berbeda dengan banyak tokoh politik Iran lainnya, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan publik ataupun posisi resmi dalam pemerintahan.
Namun, ia diyakini memiliki pengaruh besar di balik layar melalui perannya di kantor ayahnya serta hubungan dekat dengan ulama konservatif dan sejumlah unsur dalam Garda Revolusi Iran.
Namanya mulai banyak diperbincangkan setelah pemilihan presiden Iran yang kontroversial pada 2009. Pada saat itu, sejumlah tokoh reformis menuduhnya memiliki peran dalam mendukung tindakan keras aparat keamanan terhadap demonstrasi oposisi.
Meski demikian, Mojtaba Khamenei sendiri tidak pernah secara terbuka membahas kemungkinan dirinya menjadi penerus kepemimpinan Iran.
Kematian Ali Khamenei di Tengah Perang
Pergantian kepemimpinan ini terjadi setelah pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, meninggal dunia dalam serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut terjadi pada hari pertama pecahnya perang yang melibatkan Iran dengan kedua negara tersebut.
Kematian Khamenei setelah memimpin Iran selama 37 tahun menjadi titik balik besar dalam politik Iran sekaligus memicu percepatan proses suksesi kepemimpinan.
Reaksi dan Ancaman dari Amerika Serikat dan Israel
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga memicu reaksi keras dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai kandidat penerus yang paling mungkin bagi posisi pemimpin tertinggi Iran.
Trump secara terbuka menyatakan bahwa pilihan tersebut tidak dapat diterima oleh pemerintah Amerika Serikat.
Ia bahkan mengeluarkan pernyataan keras mengenai masa depan pemimpin baru Iran.
“Pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan bertahan lama jika tidak terlebih dahulu mendapatkan persetujuan saya,” kata Trump.
Sementara itu, militer Israel juga mengeluarkan pernyataan melalui unggahan berbahasa Farsi di platform X. Dalam pesan tersebut, Israel menegaskan akan terus memburu setiap penerus Khamenei serta pihak-pihak yang berperan dalam penunjukan pemimpin baru Iran.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pergantian kepemimpinan di Iran berpotensi memperburuk eskalasi konflik yang saat ini sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Simbol Ketahanan Rezim Iran
Bagi sebagian analis politik internasional, pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran juga dimaknai sebagai simbol bahwa rezim Iran tetap bertahan di tengah tekanan internasional.
Penunjukan tersebut dipandang sebagai pesan politik bahwa struktur kekuasaan Iran masih solid meskipun menghadapi tekanan militer dan politik dari negara-negara Barat.
Namun di sisi lain, langkah ini juga dinilai dapat memicu dinamika baru di dalam politik Iran sekaligus meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat. (sya)


























