SUKABUMITIMES.com – Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Loji akhirnya angkat bicara terkait insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.
Asisten Lapangan SPPG Loji, Yanyan Sugiyanto, secara terbuka mengakui adanya kelalaian dalam proses pendistribusian makanan dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh Daftar Penerima Manfaat (DPM) yang terdampak.
“Terkait kejadian kemarin, saya secara pribadi dan atas nama kru dapur menyampaikan permohonan maaf. Betul, telah terjadi keracunan di wilayah Kecamatan Simpenan, khususnya penerima manfaat SPPG Loji. Kami akui ada kelalaian dari kami dan kami meminta maaf kepada seluruh DPM,” ujar Yanyan.
Yanyan menjelaskan, begitu menerima laporan dari pihak sekolah terkait temuan tahu yang diduga berjamur, pihaknya langsung melakukan langkah cepat untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Yanyan menyebutkan, sekitar pukul 08.50 WIB, dirinya langsung mengirimkan pesan suara melalui grup PIC (Person in Charge) sekolah agar makanan yang telah dikirimkan tidak dikonsumsi dan akan diganti dengan porsi dobel pada hari berikutnya.
“Itu upaya pertama saya. Lalu yang kedua, saya langsung mengejar mobil distribusi terakhir yang menuju ke arah Babakan Astana. Saat barang diturunkan, semuanya langsung saya naikkan kembali ke mobil. Itu bentuk ikhtiar kami untuk meminimalisir korban,” jelasnya.
Terkait pengawasan mutu makanan, Yanyan menegaskan bahwa dapur SPPG Loji sejatinya memiliki tenaga ahli yang berkompeten. Ia mengaku cukup tenang saat proses produksi karena adanya pengawasan dari tenaga profesional.
“Kami punya ahli gizi yang bersertifikat dan juga memiliki SPPI yang memang disekolahkan khusus untuk program MBG. Jadi sebenarnya dari sisi proses masak dan pengemasan, saya merasa aman. Namun mungkin ini murni karena keteledoran atau kelalaian,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Yanyan menjelaskan bahwa bahan makanan berupa tahu tersebut bukan diproduksi di dapur, melainkan berasal dari pihak pemasok.
“Tahu itu dari supplier, dibeli dalam kondisi sudah matang, tahu Sumedang siap makan. Di dapur kami hanya melakukan pengemasan ke ompreng, tidak ada proses pengolahan lagi. Jadi memang tidak ada campur tangan dapur dalam proses memasaknya,” terangnya.
Ia menegaskan, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi pihaknya untuk memperketat pengawasan bahan pangan sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah penerima manfaat.
“Kami sangat menyesal atas kejadian ini dan ke depan akan lebih ketat lagi dalam pengawasan, agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya. (stm)






























