SUKABUMITIMES.COM – Kondisi pendidikan di pelosok Kabupaten Sukabumi kembali menjadi sorotan. Dua sekolah yang berada di satu lokasi, yakni SD Negeri Cilimus dan SMP Negeri 5 Jampangtengah Satu Atap, Desa Nanggerang, Kecamatan Jampangtengah, terpaksa melangsungkan kegiatan belajar dalam keterbatasan fasilitas yang memprihatinkan.
Di SDN Cilimus yang menampung 131 siswa, hanya tersisa satu ruang kelas yang bisa digunakan. Lima ruang kelas lainnya sudah ambruk sejak 2023, hingga membuat siswa harus belajar berpindah-pindah tempat. Ada yang menumpang di ruang SMP, sebagian di Madrasah Diniyah, bahkan ada yang belajar di kantor sekolah seadanya.
“Sekarang tinggal satu kelas. Lima ruang lainnya sudah ambruk, atapnya hilang. Akhirnya siswa dibagi tiga kelompok, sebagian di SMP, sebagian di Madrasah Diniyah, dan satu kelas di kantor sekolah,” ungkap Habudin, salah satu pengajar SDN Cilimus.
Lebih ironis, kerusakan gedung sekolah itu sudah terjadi sejak lama. Menurut Habudin, kerusakan awal terlihat sejak 2003 dan semakin parah pada 2023 akibat bencana alam. Namun hingga kini, perbaikan tak kunjung dilakukan meski sudah sering dilaporkan ke dinas terkait.
“Hampir setiap bulan kami buat laporan. Pihak dinas juga sudah pernah meninjau, tapi belum ada realisasi. Kami sampai harus mengingatkan siswa setiap hari untuk tidak mendekati bangunan lapuk karena khawatir tertimpa runtuhan,” ujarnya penuh harap.

Sementara di SMPN 5 Jampangtengah Satu Atap yang berlokasi di area yang sama, kondisi tak kalah mengkhawatirkan. Dua ruang kelas terancam ambruk karena rangka penyangga atap kayu lapuk dimakan usia. Salah satunya bahkan sudah tak memiliki atap.
“Kalau hujan, atap kelas bocor, air masuk ke ruangan. Siswa sampai pindah-pindah tempat agar tidak terkena kucuran air. Saat hujan deras, saya khawatir atapnya ambruk, jadi kami siaga untuk mengevakuasi anak-anak,” terang Pahrul Suganda, guru SMPN 5 Jampangtengah Satu Atap.
Pahrul mengaku, kondisi tersebut kerap memaksanya meliburkan sekolah apabila hujan turun sejak pagi. Selain faktor keselamatan, akses menuju sekolah yang berada di pelosok dengan jalan berbatu terjal dan licin membuat guru maupun siswa kesulitan datang ke sekolah.
“Kadang terpaksa meliburkan anak-anak kalau hujan deras. Rumah guru jauh, termasuk kepala sekolah yang tinggal di Sukalarang. Apalagi satu ruang kelas kami harus digunakan siswa SD Cilimus karena kekurangan ruangan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Pahrul mengatakan, kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah dengan keterbatasan tenaga pengajar. Dari dua sekolah tersebut, hanya ada tiga guru berstatus ASN, sementara empat lainnya masih berstatus guru honorer yang diperbantukan.
“Masyarakat berharap, pemerintah daerah segera turun tangan agar siswa dapat belajar dengan aman dan layak. Sebab, di balik gedung rapuh itu tersimpan harapan besar generasi penerus bangsa yang tengah berjuang meraih masa depan,” tandasnya. (stm)































