SUKABUMITIMES.COM – Di sudut tenang Kota Sukabumi, tepatnya di RW 10 Babakan Jampang, sebuah perubahan besar sedang berlangsung.
Sebuah tempat yang dulunya dikenal kumuh dan tak terurus kini disulap menjadi pusat aktivitas kuliner dan sosial yang diberi nama Pojok Kuliner Pujasera RW 10 Baja Cisarua.
Lokasinya berada di Jalan Samsi Cisarua Baja Babakan Jampang, dan kini menjadi kebanggaan baru bagi warga setempat.
Inisiatif ini lahir dari semangat gotong royong dan kekompakan warga RW 10, khususnya masyarakat sekitar Samsi Resort dan Grand Sakinah Land.
Menurut Indra, salah satu warga setempat, tempat ini dulunya sempat mengalami longsor sekitar empat tahun lalu. Setelah kejadian itu, lahan ini menjadi tidak terpakai dan sempat direncanakan untuk menjadi tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Namun, karena kondisi tanah yang miring, rencana tersebut tidak berjalan.
Alih-alih membiarkannya terbengkalai, warga justru melihat peluang di balik keterbatasan. Mereka bersepakat untuk mengubah tempat ini menjadi ruang komunitas terbuka yang bisa dinikmati semua kalangan.
Maka lahirlah ide untuk membuat warung pojokan yang kemudian dikenal sebagai Pojok Kuliner. Di tempat ini, masyarakat dapat bersantai sambil menikmati jajanan khas daerah, kopi hangat, dan suasana kekeluargaan yang hangat.
Yang membuat inisiatif ini begitu menginspirasi adalah sumber dananya. Seluruh pembangunan Pojok Kuliner ini murni berasal dari hasil patungan warga RW 10. Tidak ada bantuan besar dari luar, hanya semangat kebersamaan dan keinginan untuk menciptakan perubahan positif di lingkungan sendiri.
Bangunan didominasi material bambu, memberikan kesan alami dan menyatu dengan alam sekitarnya.
Tidak hanya menjadi pusat kuliner, warga juga merancang Pojok Kuliner sebagai ruang multifungsi. Rencananya, setiap akhir pekan tempat ini akan digunakan untuk senam pagi, pengobatan gratis, dan kegiatan sosial lainnya.
Hal ini menjadi bentuk komitmen warga untuk menjadikan pojok kuliner sebagai sarana peningkatan kualitas hidup bersama.
Pojok Kuliner juga menjadi simbol harapan akan tumbuhnya ekonomi kerakyatan. Dengan adanya tempat ini, para pelaku UMKM di lingkungan RW 10 memiliki tempat untuk menjajakan produk mereka.
Dari gorengan tradisional, kopi seduh manual, hingga makanan kekinian, semua bisa ditemukan di sini dengan harga terjangkau dan cita rasa yang memikat.
Lebih dari itu, keberadaan pojok ini juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Ruang-ruang yang dulu jarang digunakan kini menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan berbagi cerita.
Anak-anak memiliki tempat bermain yang aman, orang tua bisa menikmati sore sambil minum teh, dan para pemuda bisa menyalurkan ide kreatif mereka dalam bentuk kegiatan positif.
Langkah kecil ini diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kota Sukabumi. Bahwa untuk membangun lingkungan yang nyaman dan produktif, tidak harus menunggu pemerintah atau pihak luar, tetapi bisa dimulai dari kemauan dan gotong royong warga itu sendiri.
Indra menyampaikan harapannya agar Pojok Kuliner ini terus berkembang dan menjadi ikon lokal RW 10. Ia juga mengajak warga lain untuk terlibat aktif dalam pengelolaan dan pemanfaatannya, sehingga manfaatnya bisa dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kini, setiap sudut Pojok Kuliner menyimpan cerita perjuangan, harapan, dan kebersamaan. Dari tempat yang tak terpakai menjadi ruang hidup yang penuh warna, RW 10 Babakan Jampang membuktikan bahwa dari keterbatasan bisa tumbuh keindahan yang bermanfaat bagi banyak orang.
Semoga langkah awal ini terus berlanjut menjadi gerakan yang lebih luas. Dari pojok kecil inilah, roda ekonomi lokal mulai berputar, semangat warga semakin menyala, dan harapan akan masa depan yang lebih baik tumbuh subur di tengah Kota Sukabumi. (rus)































