SUKABUMITIMES.com – Kementerian Agama (Kemenag) mengajak masyarakat Indonesia memanfaatkan fenomena astronomi Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat yang akan terjadi pada 15–16 Juli 2026 untuk memastikan kembali ketepatan arah kiblat.
Momentum langka saat matahari berada tepat di atas Ka’bah itu akan dimanfaatkan melalui Gerakan 1.448.000 Titik Verifikasi Arah Kiblat Nasional: Hari Sejuta Arah Kiblat.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menegaskan bahwa gerakan nasional tersebut merupakan bagian dari rangkaian Peaceful Muharam 1448 Hijriah yang tidak hanya memperingati Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya ilmu falak dalam kehidupan beragama.
“Melalui Gerakan 1.448.000 Verifikasi Arah Kiblat Nasional, kami ingin mengajak masyarakat memastikan arah kiblat secara mudah dan akurat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah lama dikenal dalam tradisi ilmu falak. Ini adalah momentum edukasi sekaligus penguatan kualitas ibadah umat,” ujar Arsad di Jakarta.
Menurutnya, fenomena Istiwa A’zam yang terjadi dua kali setiap tahun merupakan kesempatan terbaik bagi masyarakat untuk melakukan verifikasi arah kiblat secara mandiri dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Arsad menjelaskan, gerakan ini menyasar berbagai elemen masyarakat, mulai dari penghulu, penyuluh agama Islam, pengurus masjid dan musala, pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan Islam hingga masyarakat umum.
Ia mengatakan, Kementerian Agama menargetkan sedikitnya 1.448.000 peserta dari seluruh Indonesia. Angka tersebut dipilih sebagai simbol Tahun 1448 Hijriah, yang menjadi momentum penyelenggaraan gerakan nasional tersebut.
“Gerakan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya arah kiblat sekaligus mengenalkan pemanfaatan ilmu falak dalam kehidupan sehari-hari,” kata Arsad.
Ia menambahkan, program tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama agar layanan keagamaan semakin berdampak, inklusif, serta memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan ilmu falak membuktikan bahwa perkembangan sains dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai keagamaan.
Sementara itu, Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kementerian Agama, Ismail Fahmi, menjelaskan bahwa proses verifikasi arah kiblat akan memanfaatkan fenomena Istiwa A’zam, ketika posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah.
“Fenomena ini akan terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 sekitar pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA. Masyarakat cukup menyiapkan benda yang berdiri tegak lurus, kemudian mengamati arah bayangannya pada waktu tersebut untuk mengetahui arah kiblat,” jelas Ismail.
Ia menerangkan, metode Rashdul Kiblat merupakan salah satu teknik paling sederhana dalam ilmu falak karena tidak memerlukan peralatan khusus. Verifikasi dapat dilakukan di rumah, masjid, musala, sekolah, kampus maupun lokasi terbuka yang mendapat sinar matahari langsung saat waktu pengamatan berlangsung.
“Metode Rashdul Kiblat merupakan salah satu metode paling praktis dalam ilmu falak karena dapat dilakukan tanpa alat khusus,” ujarnya.
Ismail juga mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan nasional tersebut dengan mendaftarkan diri melalui tautan yang telah disediakan Kementerian Agama. Selain memperoleh informasi teknis pelaksanaan, peserta juga akan menjadi bagian dari gerakan serentak yang digelar di seluruh Indonesia.
“Keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Karena itu kami mengajak seluruh elemen umat Islam untuk ikut serta, mengajak keluarga dan lingkungan sekitar, serta menjadikan momentum ini sebagai sarana memperkuat pemahaman keagamaan dan kebersamaan umat,” tandasnya. (sya)


























