SUKABUMITIMES.com – Viral di media sosial dan perpesanan aplikasi, sebuah video berdurasi kurang lebih 13 detik, menggambarkan kemunculan seekor black panther atau macan kumbang yang sempat terjerat perangkap meski kemudian berhasil kabur.
Berdasarkan hasil penelusuran, kemunculan black panther atau macan kumbang terjadi di kawasan perkebunan dekat permukiman warga di Kampung Cirendang Atas, Desa Cirendang, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Kamis (2/7/2026) kemarin.
Menurut warga setempat, Andri Firmansyah, macan kumbang itu diduga melintas di jalur babi hutan yang kebetulan berada tidak jauh dari kandang domba milik warga. Satwa liar yang diduga sedang mencari mangsa itu dilaporkan nyaris terjerat perangkap babi hutan yang dipasang warga di kawasan perkebunan Saghiang Yanita, tepatnya di wilayah yang dikenal warga sebagai Puncak Angin. Lokasi tersebut berada di luar kawasan Taman Nasional, namun berbatasan langsung dengan hutan.
“Perangkap itu sebenarnya dipasang untuk babi hutan. Mungkin macan kumbang sedang melintas sehingga sempat terjerat. Kemarin siang petugas Taman Nasional datang dan rencananya akan melumpuhkan menggunakan senapan bius, tetapi sebelum sempat dievakuasi, satwa itu terpeleset dan sekitar pukul 12.30 WIB berhasil melarikan diri kembali ke arah gunung atau hutan,” ujarnya.
Andri menuturkan, kemunculan macan kumbang bukanlah peristiwa baru bagi warga Cirendang. Menurutnya, hampir setiap musim kemarau atau pada bulan Safar, satwa predator tersebut kerap turun dari kawasan hutan menuju wilayah perkebunan dan perkampungan.
“Kalau di sini memang sudah biasa. Setiap musim kemarau atau bulan Safar biasanya ada yang turun, kadang macan tutul, kadang macan kumbang,” katanya.
Beberapa pekan sebelum kejadian ini, lanjut Andri, seekor predator diduga macan kumbang juga memangsa dua ekor anjing yang diikat di kawasan persawahan Cijemblong. Saat ditelusuri warga, bangkai kedua anjing itu ditemukan sudah dalam kondisi dimangsa di kawasan Leuweng Awi.
“Anjingnya hilang, setelah dicari ternyata tinggal sisa-sisanya saja. Diduga dimakan macan di kawasan hutan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, masyarakat yang tinggal di perbatasan Desa Cirendang dan Desa Gandasoli memang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan satwa liar karena aktivitas pertanian mereka berbatasan langsung dengan kawasan hutan.
Karena itu, dirinya mengimbau warga, khususnya petani dan peternak yang beraktivitas di lahan dekat kawasan hutan, agar selalu meningkatkan kewaspadaan.
“Kami hanya bisa mengingatkan masyarakat supaya hati-hati, terutama yang bekerja di sawah, kebun, atau menggembalakan ternak di wilayah perbatasan hutan,” ujarnya.
Menurut Andri, tahun lalu macan kumbang sempat turun hingga wilayah Kecamatan Cikidang dan memangsa puluhan ekor domba milik warga. Sementara tahun ini, pergerakannya terpantau mulai dari Cirendang, kemudian menuju kawasan sumber mata air, sempat muncul di Cisagu, Desa Margalaksana, bahkan diduga mencoba mendekati kandang ternak sebelum kembali ke hutan.
“Sebenarnya satwa ini tidak selalu menyerang manusia. Kemungkinan dia turun karena ketersediaan makanan di habitatnya berkurang. Saya sendiri yang sering masuk hutan untuk kegiatan survival beberapa kali bertemu macan dari jarak sekitar seratus meter. Di kawasan Gunung Koneng memang masih ada beberapa ekor yang sesekali menampakkan diri,” pungkasnya. (stm)































