Menyambung Ukhuwah, Memurnikan Tauhid: Refleksi Kurban dan Semangat Hijrah

Oleh: Boby es-Syawal (Penulis, Kolumnis)

Bulan Dzulhijjah baru saja berlalu dengan ibadah haji dan kurban, bulan Muharram kini menyapa dengan semangat hijrah. Dua momentum ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan dua sekolah kehidupan tentang ketaatan, pengorbanan, dan perubahan menuju yang lebih baik.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa hakikat kurban bukanlah daging dan darah yang mengalir, melainkan ketulusan hati meninggalkan sesuatu yang dicintai karena Allah. Ibrahim rela menyembelih putra kesayangannya. Ismail muda pun ikhlas untuk disembelih. Ini adalah puncak perjuangan melawan hawa nafsu dan kesetiaan mutlak pada perintah Allah.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37:

Artinya: “Daging dan darah kurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”

Berkurban mengajarkan kita untuk “menyembelih” sifat-sifat tercinta namun melampaui batas: egoisme, keserakahan, cinta dunia yang berlebihan. Setiap helai bulu kurban adalah catatan amal kebaikan, asalkan disertai iman dan ihsan.

Bulan Muharram mengingatkan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Secara harfiah, hijrah berarti berpindah tempat. Tetapi secara maknawi, hijrah memiliki definisi yang lebih dalam. Rasulullah ﷺ bersabda:

_Artinya: “Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ ditanya, ‘Siapakah muslim yang paling utama?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.'” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam riwayat lain yang juga shahih, Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya: _”Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ahmad dan lainnya)_

Maka setelah kita belajar berkorban di bulan Dzulhijjah, sekarang saatnya “berhijrah” memperbaiki diri: tinggalkan kebiasaan maksiat, perkataan dusta, sikap merugikan orang lain, menuju akhlak mulia, disiplin ibadah, dan kepedulian sosial.

Nabi Ibrahim hijrah dari negeri kaumnya menuju tanah suci. Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Keduanya diawali dengan pengorbanan besar. Tanpa pengorbanan, hijrah hanya perpindahan fisik tanpa perubahan spiritual.

Mari kita sambung nilai kurban dengan gerakan hijrah: kita berkorban harta di hari raya Idul Adha sebagai perwujudan kepekaan sosial, lalu kita berhijrah di bulan Muharram dengan komitmen menjauhi maksiat dan mengisi waktu dengan hal bermanfaat.

Mari kita perkuat amalan di bulan Muharram ini dengan perbanyak puasa sunnah, terutama puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim).

Mari kita latih lisan dan tangan untuk selalu menyelamatkan orang lain, bukan menyakiti. Ini hakikat muslim sejati sebagaimana hadits yang telah disampaikan. Tinggalkan satu maksiat yang biasa dilakukan, lalu perbanyak istighfar. Hijrah tidak harus pindah kota, cukup hijrah menuju keadaan yang lebih baik. Jaga ukhuwah dengan saling memaafkan, sebagaimana semangat kurban mengajarkan ketulusan berbagi.

Jangan sampai ibadah kurban dan label hijrah hanya seremonial tanpa dampak nyata pada kehidupan sehari-hari. Buktikan keimanan dengan amal saleh, buktikan hijrah dengan perubahan perilaku.

Dan bagi anda para pemimpin, kini saatnya anda memberikan pengorbanan yang tulus kepada masyarakat yang anda pimpin, bukan malah sebaliknya mengorbankan masyarakat untuk kepentingan pribadi dan golongan. Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed