Langit Sukabumi Belum Bersahabat, BMKG: Hujan Masih Dominan di Jabar Meski Kemarau Mulai Mengintip

SUKABUMITIMES.com – Cuaca di wilayah Sukabumi dan sebagian besar Jawa Barat masih didominasi potensi hujan dengan intensitas bervariasi pada Jumat (17/4/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cenderung dinamis, terutama pada masa peralihan musim seperti saat ini.

Berdasarkan data resmi BMKG, kondisi cuaca di Sukabumi dalam beberapa hari ke depan diprakirakan berada pada pola berawan hingga hujan ringan dan sedang, dengan suhu udara relatif sejuk berkisar antara 19 hingga 26 derajat Celsius dan kelembapan tinggi mencapai 98 persen.

“Untuk wilayah Sukabumi, cuaca umumnya didominasi berawan hingga hujan dengan intensitas ringan sampai sedang,” demikian keterangan BMKG dalam rilis prakiraan cuacanya.

BMKG menjelaskan, hujan berpotensi turun terutama pada siang hingga malam hari, sementara pagi hari cenderung cerah berawan. Kondisi ini merupakan ciri khas masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan menuju kemarau.

“Pada periode peralihan musim, biasanya terjadi pemanasan pada pagi hingga siang hari yang memicu pertumbuhan awan hujan di sore hingga malam,” tulis BMKG.

Secara umum, wilayah Jawa Barat, termasuk Sukabumi, masih berada dalam pengaruh pola cuaca basah. Dalam beberapa waktu terakhir, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih kerap terjadi di berbagai daerah.

BMKG sebelumnya juga mencatat bahwa wilayah Jawa Barat termasuk daerah yang memiliki curah hujan cukup tinggi pada periode musim hujan 2026.

“Curah hujan tinggi masih terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat,” ungkap BMKG dalam laporan klimatologi terbarunya.

Selain itu, dalam proyeksi cuaca nasional, BMKG menyebut bahwa hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di Jawa Barat dalam berbagai periode, bahkan disertai peluang hujan lebat pada kondisi tertentu.

“Meski didominasi hujan ringan hingga sedang, terdapat peluang hujan sedang hingga lebat di wilayah Jawa Barat,” tulis BMKG.

BMKG juga memaparkan bahwa suhu udara di wilayah Jawa Barat secara umum berada pada kisaran 19 hingga 34 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan cukup tinggi antara 60 hingga 98 persen.

“Kelembapan udara yang tinggi ini menjadi salah satu faktor yang mendukung terbentuknya awan hujan,” jelas BMKG.

Kondisi tersebut membuat potensi hujan tetap ada meskipun intensitasnya mulai berkurang dibanding puncak musim hujan sebelumnya.

Meski hujan masih sering terjadi, BMKG mengungkapkan bahwa sebagian wilayah Jawa Barat mulai menunjukkan tanda-tanda peralihan menuju musim kemarau.

Dalam prediksi terbaru, sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.

“Sebagian wilayah Jawa Barat diprediksi mulai masuk musim kemarau pada Mei 2026,” ungkap BMKG.

Namun demikian, masa transisi ini justru sering ditandai dengan cuaca yang tidak menentu, termasuk hujan tiba-tiba yang bisa disertai angin kencang.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di Sukabumi dan Jawa Barat, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Perlu diwaspadai potensi hujan yang dapat disertai petir dan angin kencang, terutama pada sore hingga malam hari,” tulis BMKG dalam keterangannya.

Selain itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diminta untuk memperhatikan perkembangan cuaca harian guna menghindari risiko seperti banjir, longsor, maupun gangguan perjalanan.

“Pantau terus informasi cuaca terbaru dari BMKG sebagai langkah mitigasi dini terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” tegas BMKG.

Dengan kondisi cuaca yang masih fluktuatif, Sukabumi dipastikan belum sepenuhnya lepas dari ancaman hujan. Bahkan di sejumlah kecamatan, hujan ringan diprediksi masih terjadi hampir setiap hari dalam sepekan ke depan.

Situasi ini menegaskan bahwa meski kemarau mulai mendekat, warga tetap harus meningkatkan kewaspadaan.

“Cuaca saat ini masih berada pada masa transisi, sehingga perubahan bisa terjadi dengan cepat,” tutup BMKG. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *