SUKABUMITIMES.COM – Menghadapi ancaman musim kemarau yang berkepanjangan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bumi Wibawa (TBW) Kota Sukabumi terus melakukan langkah antisipatif untuk memastikan distribusi air bersih tetap berjalan lancar kepada pelanggan.
Musim kemarau yang menyebabkan penurunan debit air secara signifikan, tak menyurutkan semangat PDAM untuk terus memberikan layanan terbaik meski dengan berbagai keterbatasan sumber daya alam.
Menurut keterangan dari Kepala Bagian Hubungan Langganan (Kabag Hublang) PDAM TBW Kota Sukabumi adalah Tia Kusumawanti, penurunan debit air permukaan bisa mencapai 50 persen saat musim kemarau. Bahkan, sumber air dari Batu Karut yang menjadi salah satu andalan pasokan air bersih di kota ini dapat menyusut hingga 70 persen pada musim kering ekstrem. Hal ini tentu menjadi tantangan serius dalam pengolahan dan distribusi air baku.
“Air yang kami olah bersumber dari air permukaan, sifatnya baku. Sehingga kami hanya dapat memaksimalkan pengolahan dan pendistribusian sesuai dengan apa yang alam hasilkan,” ujar Tia saat ditemui sukabumitimes.com di ruang kerjanya pada Jumat (18/7/2025).
Meski menghadapi keterbatasan, PDAM tidak tinggal diam. Salah satu strategi yang diterapkan adalah dengan mengaktifkan sumur bor sebagai alternatif ketika pasokan air utama mengalami penurunan drastis.
Sumur bor tersebut menjadi cadangan vital yang diaktifkan hanya saat kondisi pasokan air mulai mengkhawatirkan. Dengan teknologi dan perencanaan yang tepat, sumur bor ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Tak hanya itu, untuk menjangkau daerah-daerah yang terdampak lebih parah, PDAM juga menyiagakan mobil tangki air. Armada ini akan dikerahkan guna mendistribusikan air bersih secara langsung ke pelanggan yang mengalami gangguan suplai.
Langkah ini merupakan bentuk komitmen PDAM untuk tetap hadir di tengah kebutuhan masyarakat meski di tengah musim sulit.
Namun, Tia mengakui bahwa hingga saat ini PDAM Kota Sukabumi belum memiliki embung sebagai waduk penampung air cadangan. Absennya fasilitas ini menjadi salah satu keterbatasan besar dalam upaya menjaga ketahanan air saat kemarau datang. Meski begitu, tim PDAM tetap berupaya optimal dengan apa yang tersedia.
“Alhamdulillah, dibanding tahun 2024, penurunan debit air di tahun 2025 ini masih relatif stabil. Sumber air Batu Karut yang biasanya mengalami penurunan ekstrem hanya turun ke 70 liter per detik, tidak sampai 30 liter seperti tahun sebelumnya. Begitu pula di Cinumpang, dari kapasitas 250 liter per detik hanya turun ke 180 liter per detik,” jelas Tia.
Optimisme tetap dijaga. PDAM berharap tren stabil ini bisa berlanjut sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu secara signifikan. Meski ancaman kemarau tetap menghantui, kesiapan teknis dan manajerial yang dilakukan TBW Kota Sukabumi diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dengan baik.
Di akhir pernyataannya, Tia mengimbau kepada seluruh pelanggan untuk menggunakan air secara bijak.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak boros dan menggunakan air seperlunya. Jika dalam pelayanannya nanti ada kekurangan, kami mohon maaf dan akan terus berupaya memberikan yang terbaik,” tutupnya.
Dengan berbagai langkah antisipasi yang dilakukan, PDAM TBW Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus menjaga pasokan air bersih bagi seluruh warganya. Dukungan masyarakat untuk ikut menjaga dan menghemat air menjadi kunci keberhasilan dalam melewati musim kemarau panjang ini. (rus).






























