SUKABUMITIMES.com – Di balik geliat pembangunan yang terus berlangsung di Kota Sukabumi, tersimpan sebuah kisah pilu yang nyaris luput dari perhatian. Selama kurang lebih enam tahun terakhir, Meti (43), warga RT 003 RW 003 Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, menjalani hidup di sebuah bangunan mandi, cuci, kakus (MCK) umum karena tak memiliki rumah untuk berteduh.
Bangunan yang seharusnya menjadi fasilitas sanitasi bagi masyarakat itu kini berubah fungsi menjadi tempat Meti menjalani kehidupannya. Di ruangan sederhana tersebut, ia tidur, menyimpan pakaian, beristirahat, hingga menjalani aktivitas sehari-hari dengan segala keterbatasan.
Ironisnya, lokasi MCK umum yang menjadi tempat tinggal Meti berada tidak jauh dari kawasan rumah Wali Kota Sukabumi. Pemandangan itu menjadi potret kontras di tengah pembangunan kota yang terus berkembang.
Di balik dinding bangunan MCK yang lembap dan sempit, Meti berusaha bertahan hidup. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, perempuan berusia 43 tahun itu hanya mengandalkan pekerjaan serabutan yang datang sewaktu-waktu. Saat tidak memperoleh pekerjaan, ia bertahan dari bantuan warga sekitar, termasuk makanan yang diterimanya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut warga, kehidupan Meti semakin berat karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Meski masih memiliki suami, selama ini ia disebut tidak mendapatkan nafkah maupun perhatian sehingga harus berjuang sendiri menjalani kehidupan.
Tetangga Meti, Novi, mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan menjadi perhatian masyarakat sekitar.
“Ibu Meti tidak memiliki rumah sehingga untuk sementara waktu menempati bangunan MCK yang merupakan fasilitas umum. Kondisinya tentu sangat memprihatinkan karena MCK bukanlah tempat yang layak dijadikan sebagai tempat tinggal,” ujar Novi pada Kamis (16/7/2026).
Novi menuturkan, penghasilan Meti sama sekali tidak menentu karena hanya mengandalkan pekerjaan serabutan.
“Kedua orang tuanya juga sudah meninggal dunia. Kadang ada pekerjaan, kadang tidak sama sekali. Karena itu, warga sekitar berusaha membantu sesuai kemampuan masing-masing,” katanya.
Menurutnya, kepedulian warga selama ini menjadi penopang kehidupan Meti. Masyarakat bergotong royong memberikan makanan, sembako, pakaian hingga kebutuhan pokok lainnya ketika memiliki rezeki lebih.
Namun, bantuan tersebut dinilai hanya mampu meringankan kebutuhan sehari-hari, bukan menyelesaikan persoalan utama yang dihadapi Meti.
“Kami berharap pemerintah maupun para dermawan dapat membantu agar Ibu Meti tidak lagi tinggal di bangunan MCK,” ucap Novi penuh harap.
Harapan yang sama disampaikan Ketua DKM Masjid Jami Al Ikhlas Kampung Liung Tutut, Aka Sabana. Menurutnya, kondisi Meti sudah lama diketahui warga dan sudah semestinya mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.
“Semoga ada para dermawan maupun donatur yang tergerak membantu agar Ibu Meti memiliki rumah yang layak huni. MCK umum bukanlah tempat yang pantas dijadikan hunian,” kata Aka Sabana.
Ia berharap kepedulian tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga dari pemerintah agar persoalan yang dihadapi Meti dapat segera diselesaikan.
“Kami berharap Pemerintah Kota Sukabumi dapat mengambil langkah nyata untuk membantu Ibu Meti memperoleh tempat tinggal yang aman, sehat, dan layak huni sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar warga negara,” tegasnya.
Kisah Meti menjadi cermin bahwa persoalan kemiskinan masih nyata di tengah wajah pembangunan kota. Di balik gedung-gedung yang terus berdiri dan berbagai program pembangunan yang berjalan, masih ada warga yang menghabiskan hari-harinya di bangunan yang semestinya hanya difungsikan sebagai fasilitas sanitasi umum.
Bagi Meti, harapan itu sesungguhnya sangat sederhana. Ia tidak menginginkan kemewahan. Setelah enam tahun hidup di MCK umum, ia hanya mendambakan sebuah rumah kecil yang layak, tempat ia bisa beristirahat dengan tenang, terlindung dari hujan dan panas, serta menjalani hidup dengan lebih bermartabat seperti warga lainnya. (sya)


























