SUKABUMITIMES.com – Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Prinsip itulah yang dibuktikan Muhammad Faiq Abdillah dan Muhammad Fakhri Zafran Khairi, dua siswa MTsN Kota Sukabumi, saat berhasil mengharumkan nama madrasah di ajang Olimpiade Informatika Nasional (OTN) 2026 di Jakarta.
Berbekal waktu persiapan yang hanya beberapa hari, peralatan seadanya, serta pengalaman yang masih minim di dunia robotika, keduanya justru berhasil membawa pulang Juara 1 bidang Robotik kategori Pemrograman Terbaik.
Kompetisi yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 29 Oktober hingga 1 November 2026 itu menjadi pengalaman luar biasa bagi Muhammad Faiq, siswa kelas 9A MTsN Kota Sukabumi.
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita tentang keberanian mencoba, proses belajar dari nol, perdebatan dalam tim, hingga perjuangan mengubah keterbatasan menjadi sebuah keunggulan.
Faiq mengisahkan, keterlibatannya dalam kompetisi robotik bermula dari ajakan salah seorang gurunya, Ihsan. Saat itu, ia diminta mengikuti seleksi untuk menjadi peserta lomba robotik.
“Awalnya, saya diajak oleh guru saya, yaitu Pak Ihsan, untuk mengikuti lomba robotik. Namun, sebelum mengikuti lomba tersebut, saya harus melewati tahap seleksi terlebih dahulu. Beliau mengatakan, ‘Anggap saja sebagai pengalaman’,” ungkap Faiq.
Ajakan tersebut sempat membuatnya ragu. Pasalnya, ia mengaku belum mempunyai bekal pengetahuan robotika, bahkan belum pernah sekalipun membuat proyek robotik.
“Saya memutuskan mengikuti seleksi, meskipun tidak terlalu berharap bisa lolos. Sebab, sejak awal saya memang belum memiliki dasar pengetahuan di bidang robotik,” tuturnya.
Namun, hasil seleksi justru memberikan kejutan. Faiq bersama Fakhri dinyatakan lolos dan berhak mewakili MTsN Kota Sukabumi dalam kompetisi tingkat nasional.
“Perasaan saya senang sekaligus bingung. Senang karena berhasil lolos, tetapi juga khawatir karena ini kompetisi nasional, sedangkan saya belum punya pengalaman apa pun di bidang robotik,” katanya.
Sejak saat itu, tantangan sesungguhnya dimulai. Faiq dan Fakhri harus mencari gagasan, mempelajari pemrograman robot secara mandiri, sekaligus menentukan inovasi yang memungkinkan untuk diwujudkan.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, keduanya sepakat membuat alat pemilah sampah logam dan nonlogam.

Menurut Faiq, pilihan tersebut bukan lantaran mereka tidak ingin menciptakan teknologi yang lebih kompleks. Akan tetapi, keterbatasan komponen, bahan, waktu, dan kemampuan menjadi pertimbangan utama.
“Kami akhirnya mendapatkan ide membuat alat pemilah sampah logam dan nonlogam. Bukan karena tidak ingin membuat proyek yang lebih kompleks, tetapi karena bahan yang tersedia terbatas dan kemampuan kami saat itu juga masih terbatas,” jelasnya.
Proses pengerjaan pun tidak selalu berjalan mulus. Mulai dari menentukan material, menyiapkan komponen, merancang sistem kerja, hingga memastikan alat dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Bahkan, beberapa kali mereka sempat berpikir untuk menyerah. Rancangan awal belum bekerja optimal, sementara waktu terus berjalan.
“Kami berkali-kali berpikir untuk menyerah karena keterbatasan bahan dan waktu. Rancangan awal juga belum berfungsi dengan baik dan masih banyak kekurangan,” ujar Faiq.
Meski demikian, perbedaan pendapat dan berbagai kendala tidak membuat keduanya menghentikan pekerjaan.
“Kami tetap percaya bahwa kami mampu bersaing di tingkat nasional. Jadi, meskipun ada perdebatan dan perbedaan pendapat selama pengerjaan, kami berusaha terus melanjutkan proyek ini,” imbuhnya.
Alih-alih membuat robot dengan desain yang rumit, Faiq dan Fakhri memilih menonjolkan kemampuan pemrograman. Mereka ingin membuktikan bahwa alat sederhana pun bisa memiliki nilai lebih apabila dirancang dengan sistem kerja yang efektif.
“Kami berpikir karena konsep proyek ini cukup sederhana, keunggulannya harus ditonjolkan dari sisi efisiensi dan produktivitas. Karena itu, kami lebih fokus pada pemrogramannya agar robot bisa memilah sampah dalam waktu kurang lebih satu detik,” paparnya.
Setelah melalui proses perakitan dan penyempurnaan, proyek tersebut akhirnya rampung. Keduanya kemudian bertolak ke Jakarta untuk mempresentasikan hasil karyanya di hadapan tim penilai.
Rasa percaya diri sempat diuji ketika melihat berbagai karya peserta lain yang dinilai lebih menarik dan kompleks.
“Awalnya kami sempat minder ketika melihat karya peserta lain yang bagus-bagus. Tetapi, kami berusaha meyakinkan diri bahwa rancangan kami juga punya keunggulan, terutama dari segi efisiensi dan fungsionalitas,” kenangnya.

Dalam presentasi, mereka tidak hanya menjelaskan cara kerja robot, tetapi juga memaparkan peluang pengembangannya agar bisa diproduksi secara massal dan diterapkan di lingkungan industri.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah menunggu pengumuman dengan penuh harap dan doa, nama tim MTsN Kota Sukabumi keluar sebagai peraih Juara 1 kategori Pemrograman Terbaik.
“Alhamdulillah, perjuangan kami tidak sia-sia. Kami berhasil meraih Juara 1 dalam kategori Pemrograman Terbaik,” ucapnya penuh syukur.
Bagi Faiq, pencapaian tersebut bukan sekadar trofi kemenangan. Lebih dari itu, pengalaman ini mengajarkannya bahwa keberanian memulai jauh lebih penting daripada menunggu diri merasa benar-benar siap.
“Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa sesulit apa pun tantangan di depan dan sejauh apa pun kita merasa tertinggal dari orang lain, kita tidak boleh menyerah,” ungkapnya.
“Setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang berharga dan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan,” sambungnya.
Persiapan Hanya 5–6 Hari, Belajar Bersama dari Nol
Di balik keberhasilan dua siswa tersebut, terdapat peran pembimbing tim robotik MTsN Kota Sukabumi, Muhammad Abdurrahman, yang turut mengawal proses persiapan hingga kompetisi berakhir.
Abdurrahman mengungkapkan, waktu yang dimiliki tim untuk mempersiapkan diri terbilang sangat singkat. Mereka hanya mempunyai waktu sekitar lima hingga enam hari untuk menyelesaikan proyek.
“Sejujurnya, persiapan kami sangat singkat, hanya sekitar 5–6 hari. Dengan waktu yang terbatas serta peralatan dan komponen yang kami miliki juga tidak terlalu lengkap, saya mencoba memaksimalkan apa yang ada,” ungkap Abdurrahman.
Dalam kondisi tersebut, ia terlebih dahulu memetakan kemampuan masing-masing siswa. Langkah itu dilakukan agar konsep dan strategi pengerjaan bisa disesuaikan dengan potensi yang dimiliki serta waktu yang tersedia.
“Hal pertama yang saya lakukan adalah memetakan kemampuan anak-anak, kemudian menentukan konsep dan strategi pengerjaan yang paling memungkinkan untuk diselesaikan dalam waktu singkat,” jelasnya.
Ia juga tidak ingin siswa hanya menjadi pelaksana instruksi. Sebaliknya, Faiq dan Fakhri dilibatkan langsung dalam setiap tahapan pembuatan robot.
“Saya tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga mengajak mereka terlibat langsung mulai dari merancang, merakit, memprogram, menguji, sampai memperbaiki setiap kendala yang ditemukan,” katanya.
Menurutnya, proses belajar justru berlangsung melalui berbagai percobaan. Ketika mengalami kegagalan, mereka kembali mengevaluasi dan mencari solusi bersama.
“Kami belajar bersama, mencoba, gagal, kemudian memperbaikinya lagi. Bagi saya, kunci utamanya adalah pemahaman logika pemrograman, kerja sama tim, keberanian mencoba, dan kemampuan menyelesaikan masalah,” tuturnya.
Abdurrahman menilai, keterbatasan fasilitas semestinya tidak menjadi penghalang bagi peserta didik untuk berinovasi. Justru kondisi tersebut dapat melatih kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
“Saya selalu menanamkan kepada mereka bahwa keterbatasan alat bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru dari keterbatasan itu kita belajar bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal,” tegasnya.
Ia pun bersyukur kerja keras kedua siswa, semangat belajar, serta dukungan keluarga besar madrasah akhirnya mengantarkan tim meraih prestasi nasional.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras, semangat belajar anak-anak, dan doa dari keluarga besar madrasah, kami berhasil meraih Juara 1 Pemrograman Terbaik,” ucapnya.
Abdurrahman berharap kemenangan tersebut tidak membuat Faiq dan Fakhri cepat berpuas diri. Menurutnya, prestasi ini harus menjadi pintu masuk bagi keduanya untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi dan robotika.
“Untuk anak-anak, saya berharap prestasi ini bukan menjadi akhir, tetapi menjadi awal perjalanan mereka di dunia teknologi dan robotika. Jangan cepat puas, terus belajar, terus berlatih, dan jangan takut mencoba hal-hal baru,” pesannya.
Ia juga ingin para siswa madrasah ke depan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu melahirkan karya dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya ingin mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi kelak mampu menjadi pencipta inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Lebih jauh, prestasi ini diharapkan menjadi penyemangat bagi MTsN Kota Sukabumi untuk semakin serius mengembangkan potensi peserta didik di bidang informatika, teknologi, dan robotika.
Abdurrahman menegaskan, keberhasilan tersebut bukanlah hasil kerja satu atau dua orang semata. Ada kolaborasi siswa, pembimbing, pimpinan madrasah, guru, orang tua, serta seluruh keluarga besar MTsN Kota Sukabumi di dalamnya.
“Prestasi seperti ini bukan hasil kerja satu orang, melainkan hasil kolaborasi antara siswa, pembimbing, pimpinan madrasah, guru, orang tua, dan seluruh keluarga besar MTsN Kota Sukabumi,” pungkasnya. (sya)































