ABK Arupadatu I Ditemukan di Enggano, Lima Jurnalis Masih Hilang dan Kapal Belum Terlacak

SUKABUMITIMES.com – Identitas jenazah laki-laki yang ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, akhirnya terungkap. Jenazah tersebut dipastikan merupakan Sukarman alias Surakman (60), anak buah kapal (ABK) Arupadatu I yang hilang saat membawa lima jurnalis menuju Gunung Anak Krakatau.

Kepastian identitas Sukarman diperoleh setelah Tim Disaster Victim Identification (DVI) melakukan pemeriksaan DNA. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kecocokan antara DNA jenazah dengan DNA anak kandung Sukarman, Yayat.

Jenazah Sukarman sebelumnya ditemukan pada Sabtu, 12 September 2026, di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Bengkulu.

Proses identifikasi membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Hasil pemeriksaan DNA kemudian dinyatakan selesai pada Selasa, 22 September 2026.

Lokasi penemuan jenazah tersebut berada sekitar 360 kilometer jika ditarik dalam garis lurus dari kawasan Gunung Anak Krakatau.

Meski satu korban telah berhasil diidentifikasi, keberadaan kapal Arupadatu I hingga kini masih menjadi misteri. Kapal tersebut diketahui membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis dan tiga kru.

Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi mengenai keberadaan kapal yang digunakan rombongan tersebut.

“Yang pasti sampai dengan sekarang, Arupadatu I, kapalnya tidak ditemukan, sekarang masih hilang, belum ada kejelasan kapal itu ke mana,” kata Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Menurut Hengki, belum terdapat data yang dapat memastikan apakah kapal tersebut terbawa arus, terendam, atau bahkan tenggelam ke dasar laut.

“Kita juga belum bisa memastikan apakah kapal itu terbawa arus, terendam atau tenggelam,” ujarnya.

Kondisi serupa juga masih terjadi terhadap tujuh orang lainnya yang berada dalam kapal tersebut. Termasuk lima jurnalis yang sebelumnya berangkat untuk menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kelima jurnalis itu masing-masing Muhammad Bagus Khoirunnas (28) dari ANTARA, Arie Basuki (52) dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto (43) dari iNews, Firdaus Wajidi (42) dari Anadolu, serta Donal Husni (51), jurnalis lepas.

Sementara tiga kru kapal terdiri atas Warta (55) sebagai nakhoda, Sukarman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka bertolak menuju Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi gunung tersebut.

Salah seorang anggota rombongan sempat mengirimkan titik lokasi terakhir sekitar pukul 14.42 WIB. Namun, komunikasi kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB ketika kapal berada di perairan antara Carita dan Gunung Anak Krakatau.

Pencarian dilakukan melalui operasi SAR yang berlangsung selama 10 hari. Pada hari terakhir pencarian, sebanyak 523 personel dikerahkan dengan cakupan wilayah penyisiran mencapai 8.509 mil laut persegi.

Namun, upaya tersebut belum berhasil menemukan Arupadatu I maupun tujuh orang lainnya.

Dengan ditemukannya Sukarman di Pulau Enggano, misteri hilangnya Arupadatu I kini menyisakan pertanyaan besar mengenai keberadaan kapal dan tujuh orang lainnya, terutama lima jurnalis yang hingga kini belum diketahui kondisinya.

Pihak berwenang masih belum dapat memastikan apa yang terjadi terhadap kapal tersebut sejak komunikasi terakhir terputus pada 7 September 2026. (*/sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *