Diresensi oleh: Shafa Mumtaz Hidayat (Kelas IXA MTsN Kota Sukabumi) Juara 3 Resensi Buku Tingkat SMP/MTs se-Kota Sukabumi)
Pendahuluan
Buku yang berjudul Seribu Wajah Ayah karya Azhar Nurun Ala dengan penerbit Grasindo ini diterbitkan pada Maret 2020 dengan jumlah halaman 124 halaman.
Pertama kali membaca judul cover buku ini, hati saya menghangat. Cover buku yang gelap dengan gambar foto seseorang di dalam buku penuh kenangan, Seribu Wajah Ayah, menceritakan kehidupan sebuah keluarga, khususnya hubungan seorang ayah dengan anaknya. Novel ini seolah mengajak pembaca untuk merenungi kasih sayang seorang ayah yang luar biasa, namun kerap kali tak disadari oleh anaknya. Rasa penyesalan, kerinduan, kasih sayang hingga penghargaan untuk seorang ayah yang tak kenal lelah dalam berjuang dan tak pernah mengeluh tentang kehidupan. Salah satu karya dari Azhar Nurun Ala yang mengandung bawang. Membuat saya tertarik mengulasnya, terlebih saya pun terlahir menjadi anak tunggal dan anak kesayangan ayah saya satu-satunya.

Ringkasan Isi
Cerita bermula pada seorang anak yang pulang kampung saat ayahnya telah tiada. Di tengah kondisi berduka tak sengaja ia menemukan album foto tua berwarna biru berisi sepuluh foto momen. Setiap foto seolah menceritakan momen perjuangan hidup yang pernah ia lalui bersama sang ayah, mulai dari lahir, sekolah, merantau, hingga wisuda dan dewasa.
Alur sederhana dalam novel ini mengajak pembaca untuk menyaksikan perjuangan seorang ayah tunggal (single parent) dalam membesarkan anaknya. Sosok ayah tak kenal lelah berjuang memberikan yang terbaik untuk anaknya meski harus bertemu berbagai keterbatasan. Seiring bertambah dewasa sang anak, hadir beragam konflik antara ayah dan anak akibat perbedaan pemikiran dan ego dari masing-masing, bahkan pertemuan terakhir mereka harus berakhir dengan pertengkaran.
“Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga” , potongan lirik lagu legendaris berjudul “Kehilangan” yang dipopulerkan oleh Rhoma Irama dirasakan betul oleh sang anak. Ia menyesali sikap dan perilakunya yang tidak peka terhadap beragam ekspresi cinta yang ayahnya berikan selama ini. Ia anggap kemarahan ayah Adalah kebencian, padahal dibaliknya ada cinta tulus yang tersimpan.
Analisis
Di sini Azhar Nurun Ala tidak memakai nama untuk tokoh utamanya dan bahkan jenis kelaminnya pun tidak disebutkan. Saya sadar di sini letak kelebihannya. Sehingga siapapun yang membacanya langsung merasa “ini cerita saya juga”. Alur mundur yang digunakan, foto sebagai penanda waktu dan pemisah bab. Ringan dibaca, tapi emosinya tidak ringan sama sekali. Penulis seperti tahu persis kapan harus membuat pembaca sesak napas, dan kapan harus memberi sedikit ruang untuk bisa bernapas kembali.
Saya sedih sejak halaman awal ketika menyadari tokoh “kamu” ini lahir dalam kondisi piatu, ibunya meninggal saat melahirkannya. Sejak hari pertama ia hadir di dunia, yang ada hanya ayahnya seorang. Seorang guru SD di kampung kecil yang harus merawat bayi sendirian, membesarkan anak sendirian, sambil bekerja sekaligus memerankan peran ganda sebagai ibu. Satu kalimat pengetar jiwa, “ibuku adalah ayahku”.
Dari segi penokohan, karakter ayah digambarkan sosok kuat dan realistis. Ia menunjukkan kasih sayang melalui tindakan, bukan kata-kata. Sementara tokoh anak mewakili banyak orang sering mengabaikan pengorbanan orang tua hingga akhirnya terlambat menyadarinya, penyesalan tiada arti. Bahasa yang digunakan novel ini sederhana, puitis, dan mudah dipahami. Nilai moral yang disampaikan juga kuat, terutama mengenai rasa syukur, penghormatan kepada orang tua, dan pentingnya menjaga hubungan keluarga.
Evaluasi
Novel ini memiliki beberapa kelebihan. Pertama, tema yang diangkat sangat relevan dan dekat dengan kehidupan pembaca. Kedua, penyampaian emosi mampu menggugah perasaan. Ketiga, alur yang dibangun melalui album foto berwarna biru memberikan keunikan tersendiri. Ceritanya mengalir, bahasanya mudah dicerna, dan bukunya bisa selesai dalam sekali duduk. Saya tidak menemukana adanya saltik dalam novel ini.
Namun, terdapat pula beberapa kekurangan. Konflik yang disajikan mayoritas sederhana sehingga sebagian pembaca mungkin menganggap cerita mudah ditebak. Ada momen-momen yang rasanya ingin saya nikmati lebih lama tapi cerita sudah berpindah pada bab berikutnya. Meskipun demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai keseluruhan novel. Justru kesederhanaan cerita menjadi daya tarik karena membuat pesan yang ingin disampaikan oleh penulis lebih mudah diterima.
Refleksi
Dari sepuluh foto menyimpan segala kenangan, foto kesembilan yang paling membekas. Momen wisuda saat ayah datang memakai kemeja batik, duduk di antara kerumunan orang tua lain. Tidak banyak bicara. Cukup hadir, berdiri dengan senyum terbaiknya melihat anaknya berhasil memakai toga. Meski di balik itu semua ada perjuangan, pengorbanan dan kerja keras seorang ayah tak pernah mengeluh. Namun di momen wisuda itu semuanya seolah terbayar lunas. Saya berhenti sejenak di bagian ini, langsung teringat wajah ayah saya sendiri. Betapa perjuangan seorang ayah luar biasa untuk anak-anaknya.
Berikutnya, cerita tentang sebatang pensil disampaikan oleh guru SMP ayah dulu. Pesannya sederhana namun mendalam, bahwa sebagai manusia kita berhak memilih jalan hidup sendiri. Tapi di tengah jalan pasti ada lelah, pasti ada salah, dan saat itulah kita perlu “diasah” kembali supaya bisa tajam dan berguna seperti sedia kala.
Makna tertangkap dari bagian ini, jatuh itu bukan pertanda gagal justru di saat kita merasa paling terpuruk dan tidak berguna, di situlah proses menjadi lebih baik sedang berjalan.
Usai membaca novel ini, saya belajar bahwa kasih sayang orang tua sering kali hadir dalam bentuk yang tidak selalu kita pahami. Sosok ayah yang tampak keras sebenarnya menyimpan cinta yang mendalam. Novel ini juga mengingatkan bahwa waktu bersama orang tua sangat berharga dan tak dapat diulang ketika mereka telah tiada.
Simpulan
Seribu Wajah Ayah bukan tipikal novel menawarkan plot twist mengejutkan atau konflik rumit. Tapi ia membuat pembaca diam sejenak seraya membayangkan luar biasanya perjuangan dan kasih seorang ayah. Pada akhirnya, tiada yang lebih disesali selain waktu yang terlewat begitu saja bersama orang paling tulus menyayangimu sejak hari pertama kamu lahir. Secara keseluruhan, novel ini layak dibaca karena tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca untuk lebih menghargai keluarga, terutama sosok ayah yang sering menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. (*)































