SUKABUMITIMES.com – Kepedulian terhadap sesama dibuktikan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muawanah bersama warga Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.
Melalui semangat gotong royong dan pemanfaatan dana sosial dari kas masjid, mereka membangun rumah layak huni untuk Neneng Solihat (65), seorang lansia dhuafa yang selama bertahun-tahun hidup di rumah yang nyaris roboh.
Selama ini, Neneng menjalani hari-harinya di sebuah rumah sederhana yang kondisinya sangat memprihatinkan. Dinding kayu yang telah lapuk dimakan usia, atap yang bocor setiap kali hujan turun, hingga lantai tanah menjadi pemandangan yang harus ia hadapi setiap hari. Saat musim penghujan tiba, rasa cemas selalu menghantui karena bangunan itu sewaktu-waktu dapat ambruk.
Kini, doa yang selama ini dipanjatkan Neneng perlahan mulai terjawab. Berkat kepedulian pengurus DKM Al-Muawanah, dukungan jamaah, dan swadaya masyarakat, rumah yang sebelumnya tak layak huni itu mulai dibangun kembali agar menjadi tempat tinggal yang aman, sehat, dan nyaman.
Ketua DKM Masjid Al-Muawanah, Ustaz Ade Ramlan, mengatakan pembangunan rumah tersebut merupakan wujud nyata komitmen pengurus masjid dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, setiap dana yang masuk ke kas DKM tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan operasional masjid.
“Semua dana yang masuk ke kas DKM kami sisihkan 30 persen untuk dhuafa dan anak yatim. Dari dana itulah salah satunya digunakan untuk membangun rumah warga yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Ade menjelaskan, masjid sejatinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat kepedulian sosial yang mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
“Sebagai seorang muslim, kita harus membantu orang yang kurang mampu. Nilai berjamaah di masjid harus dibuktikan di luar masjid, yaitu dengan bersama-sama memikirkan nasib warga yang membutuhkan,” katanya.
Semangat kebersamaan juga terlihat selama proses pembangunan. Warga bergantian datang membantu pekerjaan secara sukarela, sementara tenaga tukang tetap diberikan upah agar pembangunan dapat berlangsung lebih cepat dan hasilnya maksimal.
Menurut Ade, langkah yang dilakukan DKM Al-Muawanah diharapkan mampu menginspirasi pengurus masjid lainnya agar lebih aktif menjalankan fungsi sosial di tengah masyarakat.
“Saya ingin memberikan contoh bahwa DKM bukan hanya mengurus dan mempercantik masjid. Masjid juga harus hadir untuk memikirkan kehidupan jamaahnya, bagaimana mereka makan, bagaimana kondisi rumahnya, dan bagaimana kesejahteraannya. Jangan sampai yang terus diperbaiki hanya bangunan masjid, sementara warga di sekitarnya masih hidup dalam kesulitan,” tegasnya.
“Pembangunan rumah Neneng telah berlangsung sekitar satu pekan dan hingga kini masih terus dikerjakan dengan semangat gotong royong,” imbuhnya.
Di sisi lain, Neneng Solihat tak mampu menahan haru saat melihat rumah impiannya mulai berdiri. Perempuan yang merupakan putri seorang tokoh agama di Desa Cimaja pada era 1970-an itu mengaku selama ini hanya bisa berharap melalui doa karena keterbatasan ekonomi membuat keinginannya memiliki rumah layak terasa mustahil.
“Sudah lama saya berharap punya rumah yang aman dan nyaman. Saya hanya bisa berdoa, rasanya seperti mimpi yang sulit terwujud,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Neneng, setiap bata yang kini tersusun bukan sekadar material bangunan, melainkan lambang harapan baru untuk menjalani sisa hidup dengan lebih tenang dan bermartabat.
“Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Ustaz, seluruh pengurus DKM, jamaah, dan warga yang telah membantu membangun rumah saya. Saya tidak menyangka akhirnya bisa memiliki rumah yang layak. Semoga Allah membalas semua kebaikan ini,” tandasnya. (stm)































