SUKABUMITIMES.com – Alunan gitar, dentuman drum, dan lantunan lagu yang menggema di kawasan wisata alun alun Gadobangkong yang berlokasi di jalan Kidang Kencana Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi pada Jumat (17/7/2026) malam bukan sekadar hiburan bagi pengunjung.
Di balik panggung sederhana itu, tersimpan semangat besar para musisi lokal Palabuhanratu dan sekitarnya yang ingin membuktikan bahwa di kawasan ibu kota Kabupaten Sukabumi ini masih memiliki potensi melahirkan talenta musik hingga ke tingkat nasional.
Semangat itulah yang melahirkan Music on the Street (MOTS), sebuah komunitas yang kini menjadi wadah berkumpulnya para musisi lokal untuk berkarya, berkolaborasi, sekaligus menghidupkan denyut pariwisata dan perekonomian masyarakat.
Penasihat MOTS, Aang Heriana, mengatakan komunitas tersebut lahir sekitar delapan bulan lalu dari keprihatinan sejumlah pegiat musik di Pelabuhanratu yang melihat minimnya ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat mereka.
“Ide ini berawal dari teman-teman musisi di Palabuhanratu yang merasa tidak memiliki wadah untuk berkarya. Akhirnya kami berkumpul bersama, di antaranya Pak Dera, Ecau, Sendy dan rekan-rekan lainnya, kemudian sepakat membentuk Music on the Street atau MOTS,” ujar Aang.
Menurutnya, Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi sejatinya pernah melahirkan sejumlah grup band yang mampu menembus panggung nasional. Namun, regenerasi musisi dinilai mulai terhambat karena minimnya ruang ekspresi.
“Kami ingin regenerasi itu terus berjalan. Jangan sampai potensi anak-anak muda di Palabuhanratu hilang begitu saja karena tidak memiliki tempat untuk tampil,” katanya.
Awalnya, lanjut Aang, kegiatan MOTS digelar di kawasan Batu Sapi jalan Ahmad Yani Palabuhanratu. Namun, dalam dua pekan terakhir, lokasi pertunjukan dipindahkan ke kawasan wisata Gadobangkong agar lebih dekat dengan masyarakat dan wisatawan.
“Seiring berjalannya waktu, antusiasme para musisi terus meningkat. Jika pada awal berdiri pengurus harus menghubungi satu per satu grup band agar bersedia tampil, kini justru kondisinya berbalik,” terangnya.
“Dulu kami yang mencari band untuk mengisi acara. Sekarang justru banyak grup band yang menghubungi kami dan ingin tampil di panggung MOTS,” imbuhnya.
Hingga saat ini, tegas Aang, sedikitnya 24 grup band dari berbagai genre telah bergabung dalam komunitas tersebut. Mulai dari rock, punk rock, reggae, musik Melayu hingga genre lainnya tampil secara bergiliran setiap pekan.
Bagi Aang, tujuan utama MOTS bukan sekadar menggelar pertunjukan musik. Lebih dari itu, komunitas ini ingin menjadi ruang kreatif bagi anak-anak muda sekaligus mendukung pengembangan pariwisata Kabupaten Sukabumi, khususnya di Palabuhanratu.
“Ketika ada pertunjukan musik, masyarakat berkumpul, wisatawan datang menikmati suasana. Dampaknya bukan hanya bagi musisi, tetapi juga menggerakkan pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi,” jelasnya.
Meski demikian, kata Aang lagi, perjalanan MOTS hingga saat ini masih mengandalkan semangat gotong royong. Seluruh perlengkapan panggung, mulai dari alat musik, sound system hingga perlengkapan lainnya, disediakan secara swadaya oleh para anggota.
“Ada yang membawa drum, gitar, sound system, mixer dan perlengkapan lainnya. Semua kami lakukan secara patungan. Sampai hari ini belum ada dukungan dari sponsor ataupun donatur,” ujarnya.
Meski serba sederhana, lanjut Aang, semangat para musisi tidak pernah surut. Mereka berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memberikan perhatian berupa dukungan sarana dan prasarana agar aktivitas seni ini semakin berkembang.
“Kami bersyukur mendapat fasilitas tempat dari Dinas Perkim dan dukungan dari pihak keamanan karena kegiatan ini positif. Harapan kami ke depan ada perhatian lebih agar musisi Pelabuhanratu bisa tampil dengan fasilitas yang lebih baik,” katanya.
Kegiatan MOTS sendiri rutin digelar setiap akhir pekan atau Jumat malam. Persiapan dimulai sejak sore hari dengan pengecekan peralatan, sedangkan pertunjukan berlangsung mulai pukul 19.00 WIB hingga sekitar pukul 23.00 atau tengah malam.
Aang optimistis, dari panggung sederhana tersebut akan lahir musisi-musisi berbakat yang mampu membawa nama Pelabuhanratu ke tingkat nasional.
“Sekarang sudah ada beberapa grup yang mulai rekaman, seperti Pattepang dan Namla. Mudah-mudahan mereka bisa menembus industri musik nasional dan mengharumkan nama Pelabuhanratu,” harapnya.
Sementara itu, salah seorang warga sekaligus pengunjung, Diki Permana (41), mengaku sangat mengapresiasi kehadiran MOTS. Menurutnya, kegiatan musik rutin tersebut memberikan dampak nyata terhadap geliat ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM yang berjualan di kawasan Gadobangkong.
“Saya berharap kegiatan ini bisa terus dilaksanakan setiap minggu. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, lokasi ini juga merupakan kawasan wisata sehingga pertunjukan musik bisa menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang datang ke Palabuhanratu,” ujarnya singkat. (stm)





























