Ilmuwan Ungkap Sisa Umur Kehidupan di Bumi, Tumbuhan Diprediksi Bertahan hingga 1,8 Miliar Tahun Lagi

SUKABUMITIMES.com  – Tim peneliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal JGR Atmospheres menyatakan bahwa rentang hidup maksimum biosfer Bumi dibatasi oleh peningkatan kecerahan Matahari yang terus berlangsung seiring waktu. Kondisi tersebut diperkirakan akan membuat kehidupan di Bumi berakhir jauh sebelum Matahari berubah menjadi bintang raksasa merah.

“Rentang hidup maksimum biosfer Bumi terbatas karena peningkatan kecerahan Matahari seiring berjalannya waktu,” tulis tim peneliti dalam jurnal tersebut.

Menurut para peneliti, meningkatnya luminositas Matahari akan memicu perubahan jangka panjang pada iklim Bumi. Salah satu dampaknya adalah berkurangnya kadar karbon dioksida (CO₂) di atmosfer akibat proses alami dalam siklus karbon.

“Siklus karbon jangka panjang Bumi merespons dengan menarik karbon dioksida dari atmosfer, memasukkannya ke dalam batuan karbonat, sehingga mengurangi efek rumah kaca dan mengimbangi peningkatan sinar Matahari,” jelas para peneliti.

Padahal, karbon dioksida merupakan unsur penting bagi tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Jika kadarnya terus menurun hingga di bawah batas minimum, tumbuhan tidak lagi mampu bertahan hidup. Hilangnya tumbuhan pada akhirnya akan mengganggu seluruh rantai kehidupan di Bumi.

Dalam penelitian terbaru tersebut, tim ilmuwan menjalankan 29 model iklim untuk memproyeksikan masa depan biosfer Bumi melalui dua skenario berbeda.

Pada skenario pertama, ketika kadar CO₂ tetap mencukupi, tumbuhan dengan mekanisme fotosintesis CAM (Crassulacean Acid Metabolism) diperkirakan masih mampu bertahan hingga sekitar 1,87 miliar tahun lagi.

Sementara pada skenario kedua, ketika kadar CO₂ terus menurun, kehidupan tumbuhan diperkirakan akan berakhir lebih cepat, yakni sekitar 1,35 miliar tahun dari sekarang.

Penelitian ini juga mengulas studi-studi sebelumnya yang memperkirakan kehidupan tumbuhan hanya mampu bertahan sekitar 100 juta tahun lagi. Namun, dengan mempertimbangkan variasi mekanisme fotosintesis, estimasi tersebut kemudian diperpanjang hingga lebih dari 1,5 miliar tahun.

Meski demikian, tim peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian ini masih memiliki sejumlah keterbatasan karena hanya didasarkan pada kemampuan fotosintesis tumbuhan yang ada saat ini.

“Kami mengakui hasil studi ini harus diperiksa dengan model tiga dimensi lainnya, dan upaya bersama yang membandingkan hasil model insolasi tinggi maupun rendah dapat membantu mempersempit skala waktunya,” tulis para peneliti.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa akhir kehidupan di Bumi kemungkinan bukan hanya ditentukan oleh saat Matahari berubah menjadi raksasa merah sekitar lima miliar tahun mendatang, tetapi juga oleh perubahan bertahap pada iklim dan siklus karbon yang membuat planet ini tidak lagi mampu menopang kehidupan tumbuhan sebagaifondasi utama ekosistem. (*/sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *