SUKABUMITIMES.com – Dosen Teknologi dan Manajemen Ternak Sekolah Vokasi IPB, Annisa Hakim mengungkapkan bahwa penerapan manajemen peternakan yang baik, mulai dari biosekuriti hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, merupakan langkah penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan ternak domba di tingkat peternak.
Hal tersebut disampaikan Annisa Hakim saat kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar di Desa Sudajaya Girang, Kabupaten Sukabumi, pada (28/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri dosen Annisa Hakim, Tera Fitrayani, Dian Eka Ramadhani, Founder Taznika Zia Ul Haq, para peternak domba, asisten dosen, serta mahasiswa Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak dan Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan.
Dalam sambutannya, Annisa menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir, terutama 11 peternak domba yang mengikuti kegiatan hingga selesai.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh peternak yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan ini. Terima kasih juga kepada dosen, mahasiswa, dan seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga kegiatan pengabdian ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar Annisa.
Ia berharap materi yang diberikan tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan, tetapi juga dapat diterapkan secara langsung dalam pengelolaan usaha peternakan.
“Harapan kami, ilmu yang disampaikan hari ini dapat memberikan manfaat nyata bagi para peternak untuk meningkatkan pengelolaan usaha ternaknya, sehingga produktivitas meningkat dan kesehatan ternak tetap terjaga,” katanya.
Pada sesi materi, peserta mendapatkan pemaparan mengenai manajemen pemeliharaan ternak dengan fokus pada penerapan sistem biosekuriti. Materi tersebut menekankan pentingnya menjaga kebersihan kandang, melakukan sanitasi secara rutin, mengendalikan lalu lintas manusia maupun hewan di area peternakan, hingga penggunaan desinfektan sebagai upaya mencegah masuk dan menyebarnya penyakit.
Selain itu, peserta juga mendapatkan materi bertema “Dari Limbah ke Manfaat” yang menjelaskan bagaimana limbah peternakan dapat diolah menjadi kompos bernilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Founder Taznika, Zia Ul Haq, kemudian memandu sesi diskusi interaktif bersama para peternak. Dalam diskusi tersebut, berbagai persoalan di lapangan dibahas, mulai dari penyakit diare, kembung, ternak kurus, hingga gangguan kesehatan lainnya yang kerap dialami domba.
“Pencegahan penyakit jauh lebih murah dibandingkan pengobatan. Karena itu, kebersihan kandang, biosekuriti, dan manajemen pemeliharaan harus menjadi kebiasaan sehari-hari di peternakan,” jelas Zia.
Tak hanya membahas kesehatan ternak, Zia juga memberikan materi mengenai strategi pemasaran hasil peternakan agar peternak mampu memperluas pasar.
“Langkah pertama adalah memperkenalkan bahwa peternakan kita ada. Buat profil usaha dan daftarkan lokasi peternakan di Google Maps agar mudah ditemukan calon pembeli,” ujarnya.
Menurutnya, peternak juga perlu mulai menjalin kerja sama dengan rumah makan, pedagang sate, dan pelaku usaha kuliner di sekitar wilayah peternakan.
“Kebutuhan daging di wilayah sekitar sebaiknya dipenuhi oleh peternak lokal. Jangan sampai pasar di daerah sendiri justru dipasok dari wilayah yang lebih jauh,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pembagian tugas dalam kelompok peternak agar kegiatan pemasaran berjalan lebih efektif.
“Kalau setiap anggota memiliki peran yang jelas, mulai dari produksi hingga pemasaran, maka kelompok peternak akan lebih kuat dan berkembang,” tambahnya.
Sementara itu, dosen Tera Fitrayani memberikan materi mengenai penyusunan pakan ternak yang baik. Ia menjelaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan nutrisi serta penyusunan ransum yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas kambing maupun domba.
Usai seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan kompos menggunakan BIORES yang dipandu mahasiswa. Para peserta diperlihatkan secara langsung tahapan pengomposan mulai dari persiapan bahan, proses pencampuran, hingga aplikasi kompos sehingga lebih mudah diterapkan di peternakan masing-masing.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penerapan biosekuriti, panitia juga membagikan paket alat sanitasi kepada seluruh peternak yang terdiri atas sapu, sikat, sekop, dan desinfektan. Selain itu, peserta menerima papan tulis beserta spidol untuk pencatatan kegiatan pemeliharaan ternak, serta topi dan botol minum sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam kegiatan pengabdian tersebut.
Melalui kegiatan ini, para dosen dan mahasiswa berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan peternak dapat terus terjalin sehingga inovasi di bidang peternakan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat pemasaran hasil ternak, sekaligus menciptakan usaha peternakan yang lebih sehat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. (*/sya)

































