Tiga Wajah Politik Indonesia: Antara Unyil, Pak Raden, dan Pak Ogah

Oleh: Syarif Hidayat (Pemerhati Sosial dan Reporter sukabumitimes.com)

Politik Indonesia selalu menarik untuk dibahas karena tidak pernah benar-benar sepi dari dinamika. Pergantian pemimpin, tarik-menarik kepentingan, koalisi yang berubah-ubah, hingga perdebatan di ruang publik menjadi bagian dari kehidupan demokrasi yang terus berkembang. Namun di balik kompleksitas tersebut, sebenarnya ada cara sederhana untuk membaca watak para pelaku politik. Komedian sekaligus pengamat sosial Cak Lontong pernah menyampaikan analogi yang menggelitik sekaligus sarat makna.

Menurutnya, karakter politikus di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni politisi Unyil, politisi Pak Raden, dan politisi Pak Ogah. Meskipun disampaikan dalam balutan humor, klasifikasi tersebut sesungguhnya merupakan kritik yang tajam terhadap wajah politik Indonesia. Bahkan hingga hari ini, ketiga karakter itu masih dapat ditemukan dalam berbagai level kekuasaan, mulai dari pusat hingga daerah, dari lembaga legislatif hingga eksekutif, bahkan dalam kehidupan politik sehari-hari.

Karakter pertama adalah politisi Unyil, yaitu mereka yang masih memandang politik layaknya sebuah permainan. Dalam cerita anak-anak, Unyil adalah sosok yang polos, penuh rasa ingin tahu, senang bermain, dan belum memiliki kedewasaan dalam mengambil keputusan. Analogi itu digunakan Cak Lontong untuk menggambarkan politikus yang belum matang secara mental. Mereka lebih sibuk memainkan strategi sesaat dibandingkan menyusun kebijakan yang berdampak panjang bagi masyarakat. Politik dipenuhi manuver, pencitraan, saling sindir, dan pertarungan opini, tetapi sering kali miskin gagasan yang benar-benar menyelesaikan persoalan rakyat. Karakter ini disebut sebagai playback, karena selalu mengulang pola-pola lama. Setiap kali muncul persoalan baru, respons yang diberikan hampir selalu sama. Yang berubah hanya aktornya, sedangkan cara bermainnya tetap identik. Tidak ada keberanian melakukan terobosan, tidak ada inovasi dalam pengambilan kebijakan, bahkan tidak sedikit yang justru menikmati kegaduhan politik karena dianggap mampu meningkatkan popularitas. Akibatnya, energi bangsa habis untuk menyaksikan pertengkaran elite, sementara persoalan mendasar seperti kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hingga kesenjangan ekonomi berjalan lambat mendapatkan solusi.

Karakter playback juga menggambarkan kecenderungan sebagian politikus yang sulit keluar dari zona nyaman. Mereka enggan mengambil risiko karena lebih memilih langkah yang dianggap aman secara politik. Kebijakan yang seharusnya berorientasi pada kepentingan jangka panjang akhirnya dikorbankan demi keuntungan elektoral jangka pendek. Tidak mengherankan jika menjelang kontestasi politik berbagai program populis bermunculan, tetapi setelah pesta demokrasi selesai, sebagian besar janji tersebut perlahan menghilang. Politik kemudian berubah menjadi panggung hiburan yang penuh drama, sementara substansi pemerintahan justru berada di belakang layar. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat akhirnya lebih sering disuguhi konflik antar-elite daripada melihat kompetisi gagasan yang sehat. Demokrasi memang membutuhkan perbedaan pendapat, tetapi demokrasi tidak dibangun untuk menjadikan pertengkaran sebagai tontonan tanpa akhir.

Karakter kedua menurut Cak Lontong adalah politisi Pak Raden. Jika Unyil menggambarkan politik yang kekanak-kanakan, maka Pak Raden melambangkan politik yang masih dibelenggu budaya feodal. Tokoh ini identik dengan sosok yang ingin selalu dihormati, merasa memiliki otoritas tertinggi, sulit menerima kritik, dan cenderung memandang jabatan sebagai simbol kehormatan. Dalam praktik politik Indonesia, karakter seperti ini masih cukup mudah ditemukan. Tidak sedikit pejabat yang lebih senang dipuji daripada dikoreksi, lebih nyaman berada di lingkungan yang selalu mengiyakan pendapatnya daripada mendengar suara masyarakat secara jujur. Jabatan akhirnya diperlakukan sebagai privilese, bukan sebagai amanah untuk melayani rakyat. Padahal dalam sistem demokrasi modern, kekuasaan bukanlah mahkota yang harus disembah, melainkan mandat yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik.

Cak Lontong menyebut karakter ini sebagai flashback, yakni politikus yang terus hidup dalam romantisme masa lalu. Mereka gemar menceritakan jasa-jasa lama, pengalaman panjang, atau keberhasilan yang pernah diraih bertahun-tahun silam, tetapi sering kali kurang mampu menawarkan solusi terhadap tantangan masa depan. Padahal Indonesia saat ini menghadapi perubahan yang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu. Revolusi digital, perkembangan kecerdasan buatan, ancaman perubahan iklim, bonus demografi, hingga kompetisi ekonomi global menuntut kepemimpinan yang adaptif dan berpikir ke depan. Bangsa ini membutuhkan inovasi, bukan nostalgia. Sayangnya, budaya senioritas yang masih mengakar membuat gagasan dari generasi muda sering kali dipandang sebelah mata hanya karena dianggap belum cukup pengalaman. Akibatnya, regenerasi kepemimpinan berjalan lambat dan kreativitas sering kali kalah oleh budaya hierarki yang terlalu kuat.

Karakter ketiga yang menurut Cak Lontong paling berbahaya adalah politisi Pak Ogah. Dalam serial Si Unyil, Pak Ogah selalu meminta imbalan sebelum membantu orang lain. Kalimat khasnya, “Cepek dulu dong,” menjadi simbol bahwa tidak ada tindakan tanpa keuntungan pribadi. Analogi inilah yang digunakan untuk menggambarkan politik pragmatis, yaitu ketika seluruh aktivitas politik diukur berdasarkan uang dan keuntungan. Karakter ini disebut sebagai cashback, karena segala sesuatu selalu dihitung dalam nilai transaksi. Jabatan dianggap sebagai investasi, kekuasaan dipandang sebagai modal ekonomi, sementara loyalitas dapat berubah mengikuti besarnya keuntungan yang ditawarkan. Politik akhirnya kehilangan nilai pengabdian dan berubah menjadi pasar kepentingan, tempat semua hal memiliki harga.

Fenomena seperti ini tentu bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan politik Indonesia. Biaya politik yang semakin mahal membuat banyak orang memandang jabatan sebagai investasi yang harus menghasilkan keuntungan setelah berhasil diraih. Ketika logika investasi masuk ke dalam politik, maka muncul kecenderungan untuk mengembalikan modal melalui berbagai cara yang menyimpang, mulai dari praktik korupsi, penyalahgunaan kewenangan, jual beli proyek, hingga penyalahgunaan anggaran. Lebih memprihatinkan lagi, pragmatisme tidak hanya berkembang di kalangan elite, tetapi juga mulai menjalar ke masyarakat. Tidak sedikit pemilih yang menilai pemilu sebagai kesempatan memperoleh keuntungan sesaat, sementara sebagian kandidat menganggap pemberian uang sebagai strategi memenangkan kontestasi. Hubungan antara rakyat dan pemimpin akhirnya berubah menjadi hubungan transaksional, bukan hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan tanggung jawab.

Yang menarik, ketiga karakter yang disampaikan Cak Lontong sebenarnya tidak selalu berdiri sendiri. Dalam praktiknya, seorang politikus dapat memiliki ketiga sifat tersebut sekaligus. Ia bisa menjadi Unyil ketika sibuk memainkan drama politik demi popularitas, berubah menjadi Pak Raden ketika telah memperoleh jabatan dan ingin selalu dihormati, lalu menjelma menjadi Pak Ogah ketika setiap keputusan diukur berdasarkan keuntungan politik maupun ekonomi. Inilah yang membuat kritik Cak Lontong terasa sangat relevan hingga sekarang. Persoalan terbesar politik Indonesia bukan semata-mata terletak pada sistem, aturan, atau mekanisme demokrasi, melainkan pada karakter manusia yang mengisinya. Sebagus apa pun sistem yang dibangun, hasilnya tidak akan maksimal jika dijalankan oleh orang-orang yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan publik.

Pada akhirnya, masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada keberanian melahirkan karakter politik baru. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak bermain-main dengan amanah rakyat, tidak terjebak dalam budaya feodal, dan tidak menjadikan uang sebagai ukuran utama dalam setiap keputusan politik. Masyarakat pun memiliki peran yang sama pentingnya karena kualitas pemimpin tidak pernah lahir dari ruang kosong, melainkan dari kualitas pemilih yang menentukan pilihannya secara rasional. Humor yang disampaikan Cak Lontong sejatinya bukan sekadar lelucon yang mengundang tawa. Di balik kesederhanaan analoginya tersimpan pesan bahwa politik seharusnya menjadi sarana untuk melayani, bukan arena bermain; menjadi ruang pengabdian, bukan panggung kesombongan; dan menjadi jalan memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan alat mencari keuntungan pribadi. Selama karakter Unyil, Pak Raden, dan Pak Ogah masih lebih dominan dibandingkan karakter negarawan sejati, selama itu pula demokrasi Indonesia akan terus menghadapi tantangan untuk menghadirkan pemerintahan yang benar-benar berpihak kepada rakyat. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *