SUKABUMITIMES.com – Di balik hamparan kebun singkong yang tumbuh subur di berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi, tersimpan potensi ekonomi yang belum banyak dilirik.
Bukan hanya sebagai bahan pangan sehari-hari, singkong kini menjadi komoditas strategis yang dapat diolah menjadi gaplek, produk sederhana yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan menjadi pintu masuk bagi berbagai industri.
Gaplek merupakan singkong atau ubi kayu yang telah dikupas kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kadar airnya berkurang. Proses pengeringan ini membuat singkong memiliki daya simpan jauh lebih lama, sehingga mudah dipasarkan maupun diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Di tangan masyarakat, gaplek telah lama dikenal sebagai bahan baku makanan tradisional seperti tiwul dan gatot. Namun, manfaatnya tidak berhenti sampai di situ. Gaplek juga dapat digiling menjadi tepung singkong atau cassava yang banyak dimanfaatkan industri makanan, farmasi, tekstil, hingga pakan ternak.
Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Denis Eriska, mengatakan Kabupaten Sukabumi memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas singkong sebagai bahan baku gaplek karena didukung lahan pertanian yang luas dan produktif, dimana menurutnya, Produksi Ubi Kayu di kabupaten Sukabumi tahun 2025 sebesar 110.332 ton umbi segar/basah. Dengan produksi terbesar di kecamatan Lengkong sebesar 18.175 ton, sentra budidaya singkong tersebar di sejumlah kecamatan seperti Cikembar, Warungkiara, Ciracap, Waluran, Lengkong, Cikidang, dan beberapa wilayah lainnya. Daerah-daerah tersebut selama ini menjadi penghasil ubi kayu yang memiliki kualitas cukup baik.
“Potensi singkong di Kabupaten Sukabumi sangat besar. Jika dikelola dengan baik melalui pengolahan menjadi gaplek dan produk turunannya, tentu akan memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus meningkatkan perekonomian daerah,” ujar Denis.
Ia menjelaskan, pengolahan singkong menjadi gaplek tidak hanya memperpanjang masa simpan hasil panen, tetapi juga menjadi solusi ketika produksi melimpah sehingga harga singkong segar di pasaran mengalami penurunan.
“Dengan diolah menjadi gaplek, petani memiliki kesempatan menyimpan hasil panen lebih lama sambil menunggu harga membaik atau memasok kebutuhan industri secara berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih jauh Denis mengatakan, keunggulan Kabupaten Sukabumi semakin lengkap dengan hadirnya Varietas Unggul Lokal Singkong Manggu MHAS yang telah memperoleh rekomendasi secara nasional. Varietas ini dikenal memiliki ukuran umbi yang besar, produktivitas tinggi, serta sangat cocok dijadikan bahan baku berbagai olahan, termasuk gaplek dan tepung singkong.
Denis menilai, keberadaan varietas unggul tersebut menjadi modal penting dalam mendorong pengembangan industri berbasis singkong di Kabupaten Sukabumi.
“Ke depan, bukan hanya hasil panennya yang meningkat, tetapi juga nilai tambah yang diperoleh petani melalui pengolahan pascapanen,” paparnya.
“Inilah yang terus kami dorong agar sektor pertanian tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi juga produk yang memiliki daya saing tinggi,” katanya.
Masih kata Denis, dengan potensi lahan yang luas, varietas unggul lokal, serta kebutuhan industri yang terus meningkat, gaplek diyakini dapat menjadi salah satu komoditas andalan baru Kabupaten Sukabumi.
“Kami optimis, dari kebun-kebun singkong milik petani, lahir peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui hilirisasi hasil pertanian,” pungkasnya. (stm)
































