SUKABUMITIMES.com – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa rumah, tempat kerja, hingga sekolah di Eropa tidak pernah dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem seperti yang terjadi saat ini.
“Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini,” tegas Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa. WHO melaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia sejak 21 Juni akibat suhu udara yang melonjak hingga melampaui 40 derajat Celsius di berbagai wilayah.
Kondisi tersebut memicu krisis kesehatan, meningkatkan jumlah pasien yang membutuhkan penanganan medis darurat, sekaligus memberikan tekanan besar terhadap sistem layanan kesehatan di sejumlah negara.
Dampak paling serius terjadi di Prancis. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis, Santé publique France, melaporkan adanya lonjakan angka kematian dalam waktu singkat akibat cuaca panas yang berkepanjangan.
“Sejak 24 Juni, tercatat ada sekitar 1.000 kematian tambahan (angka yang belum dikonsolidasikan) dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya,” ungkap perwakilan Santé publique France dalam pernyataan resminya.
Gelombang panas melanda sejumlah wilayah yang berada dalam status peringatan merah, di antaranya Île-de-France, Nouvelle-Aquitaine, Brittany, Centre-Val de Loire, Normandy, dan Pays de la Loire.
Mayoritas korban meninggal berasal dari kelompok usia lanjut. Data menunjukkan sekitar 85 persen korban merupakan warga berusia 65 tahun ke atas yang dinilai paling rentan terhadap paparan suhu ekstrem.
Situasi darurat tersebut memaksa pemerintah di Paris mengambil berbagai langkah antisipasi. Selain menghadapi lonjakan panggilan darurat ke rumah sakit, pemerintah juga memberlakukan larangan konsumsi alkohol di tempat umum selama akhir pekan untuk mengurangi potensi kericuhan maupun insiden medis yang dapat membebani petugas kesehatan.
Sejumlah destinasi wisata terkenal, seperti Menara Eiffel dan Museum Louvre, bahkan ditutup lebih awal demi menjaga keselamatan pengunjung dan para pekerja.
Di tengah suhu yang menyengat, banyak warga berusaha mencari kesejukan dengan mendatangi taman maupun kanal-kanal kota. Namun upaya tersebut justru memakan korban setelah seorang pria dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam di Kanal Saint-Martin.
Menanggapi insiden itu, Wali Kota Paris, Emmanuel Grégoire, mengingatkan masyarakat agar tidak berenang di lokasi yang tidak diawasi.
“Kami telah mengatakannya sebelumnya dan akan mengatakannya lagi: berenang di luar waktu yang diizinkan, dan di luar area yang diawasi, berbahaya,” tulis Emmanuel Grégoire melalui platform X.
Gelombang panas juga membawa duka bagi dunia olahraga. Pemain sepak bola muda berusia 21 tahun, Kenzo Kies, dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di Sungai Rhône saat berusaha mendinginkan tubuhnya.
Klubnya, En Avant Guingamp, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian pemain mudanya tersebut.
“Kami sangat sedih mendengar kabar kematian pemain berusia 21 tahun itu,” tulis Guingamp dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, gelombang panas juga meluas ke Inggris Raya. Badan meteorologi nasional, Met Office, mencatat suhu tertinggi pada bulan Juni sepanjang periode pemantauan tahun ini.
“Angka sementara menunjukkan desa Santon Downham di Suffolk mencapai 37,3°C,” lapor Met Office.
Tak hanya Inggris, suhu udara di Spanyol dan Jerman juga dilaporkan melampaui 40 derajat Celsius, memperlihatkan bahwa gelombang panas kini melanda hampir seluruh kawasan Eropa. (*/sya)

































