SUKABUMITIMES.com – Ketua Fraksi Rakyat, Rojak Daud, mempertanyakan beredarnya informasi yang menyebutkan pelaksanaan Sumatif Akhir Tahun (SAT) di sejumlah sekolah diundur karena adanya aksi warga Kota Sukabumi pada 2 Juni 2026.
Menurut Rojak, hingga saat ini tidak ada sumber resmi yang dapat menjelaskan siapa pihak yang mengeluarkan pengumuman tersebut, apakah dari Dinas Pendidikan maupun pihak sekolah.
Hal tersebut disampaikannya kepada sukabumitimes.com melalui aplikasi perpesanan WhatsApp pada Senin (1/6/2026).
“Informasi yang beredar bahwa karena tanggal 2 Juni ada aksi maka kegiatan sekolah, khususnya SAT, diundur ke tanggal 3 Juni. Namun tidak ada sumber informasi yang jelas bahwa pengumuman itu dikeluarkan oleh siapa, apakah Dinas Pendidikan atau pihak sekolah,” ungkap Rojak Daud
Karena tidak adanya kejelasan sumber informasi, Rojak menilai publik patut mempertanyakan kebenaran pesan tersebut.
“Karena tidak ada sumber yang jelas, maka kita anggap bahwa ini adalah kerjaan buzzer penguasa yang tidak mampu mengimbangi opini tentang aksi besok Selasa,” tegasnya.
Ia menduga pesan tersebut sengaja disebarkan untuk membangun persepsi negatif terhadap aksi yang akan berlangsung.
“Mereka mencoba membangun provokasi melalui pesan ini untuk membuat publik panik. Seolah-olah menyampaikan aspirasi di depan umum adalah sesuatu kegiatan yang membahayakan masyarakat, sehingga orang tua harus waspada terhadap anak-anaknya,” katanya.
Rojak justru memandang aksi penyampaian pendapat di muka umum sebagai bagian dari proses pendidikan politik bagi masyarakat.
“Saya berharap aksi besok adalah bagian dari pendidikan politik terhadap publik, termasuk anak sekolah yang sudah cukup usia. Biar generasi kita ini lahir menjadi orang-orang yang kritis,” ujarnya.
Sebelumnya, beredar pesan berantai di sejumlah grup WhatsApp yang ditujukan kepada orang tua atau wali murid kelas 7, 8, dan 9. Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa sehubungan dengan adanya aksi warga Kota Sukabumi pada 2 Juni 2026 mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, pihak sekolah disebut melakukan sejumlah penyesuaian kegiatan.
Pesan itu antara lain menyebutkan siswa kelas 7 dan 8 diperkenankan belajar dari rumah pada 2 Juni 2026, pelaksanaan SAT tanggal 2 Juni diundur menjadi 10 Juni 2026, serta pengumuman kelulusan kelas 9 wajib diambil oleh orang tua pada pukul 07.15 hingga 08.30 WIB.
Selain itu, terdapat imbauan kepada orang tua agar mengawasi putra-putrinya dan memastikan tidak ikut melihat maupun terlibat dalam aksi yang direncanakan berlangsung pada hari tersebut.
Namun demikian, isi pesan tersebut menuai pertanyaan karena tidak mencantumkan identitas sekolah maupun instansi yang mengeluarkannya.
“Jika melihat dan mencermati informasi di atas, kemungkinan memang ditujukan untuk jenjang SMP atau MTs karena menyebut kelas 7, 8, dan 9. Tetapi informasi yang bersifat seruan ini tidak spesifik ditujukan kepada sekolah mana,” kata Rojak.
Ia juga menyoroti tidak adanya tanda tangan, kop surat, maupun identitas resmi dalam pesan yang beredar luas tersebut.
“Bukan hanya itu, sumber informasi tersebut juga tidak jelas siapa yang membuat. Karena itu masyarakat harus lebih kritis dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai keabsahan pesan berantai tersebut. (sya)
































