SUKABUMITIMES.com – Kepala BKPSDM Kota Sukabumi Taufik Hidayah menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi, yang salah satunya melalui kegiatan pelatihan keprotokolan bagi pegawai aparatur.
Hal tersebut ditegaskannya ketika diwawancarai sukabumitimes.com di ruangan kantornya setelah membuka pelatihan keprotokoleran bagi pegawai aparatur di Ruang Pertemuan BKPSDM Kota Sukabumi pada Jumat (22/5/2026).
Didampingi Sekretaris BKPSDM Kota Sukabumi Anton Lugiawan, Taufik menyebut pelatihan tersebut merupakan bagian dari kewajiban pemerintah daerah dalam memfasilitasi peningkatan kompetensi pegawai.
“Pelatihan protokol sekarang adalah bagian dari kewajiban pemerintah daerah memfasilitasi pegawainya untuk up-grade kemampuannya,” ujar Taufik.
Kaban Taufik menjelaskan, pelatihan tersebut mengacu pada PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai, yang mewajibkan setiap pegawai mendapatkan kesempatan pengembangan kompetensi minimal 20 jam pelajaran dalam satu tahun.
“Kalau kita rujukannya ke PP 11 Tahun 2017 tentang manajemen pegawai, di situ negara memfasilitasi para pegawainya minimal 20 jam pelajaran dalam satu tahun untuk meningkatkan kemampuan. Bisa melalui pendidikan formal, pelatihan teknis, seminar, atau bimtek,” katanya.
Menurutnya, 20 jam pelajaran itu setara dengan dua hari pelatihan. Dalam kegiatan tersebut, BKPSDM mengundang 27 peserta yang mayoritas merupakan pegawai yang bertugas di bidang protokol, mulai dari pejabat hingga staf pelaksana.
“Teman-teman yang bekerja di protokol tadi kita undang 27 orang. Dari mulai pak kabagnya sampai staf terbawah. Mereka sekarang sudah diberikan kesempatan itu oleh negara. Minimal dua hari mereka sudah dikasih,” ungkapnya.
Taufik mengatakan, pelatihan khusus keprotokolan sengaja digelar karena selama ini belum pernah ada kelas khusus yang diperuntukkan bagi seluruh pegawai protokol di Kota Sukabumi.
“Kenapa hari ini protokol? Karena memang sepanjang kita jadwalkan, khusus untuk protokol itu belum pernah kita mengadakan pelatihan satu kelas mereka,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan sebuah acara pemerintahan sangat ditentukan oleh kemampuan tim protokol. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang tersebut menjadi penting demi menjaga citra daerah.
Gelaran acara Hari Jadi ke-112 misalnya, akan berjalan lancar kalau teman-teman protokol kompeten dan kapabel menjalankannya. Itu membawa citra daerah. Lamun acara acak-acakan, orang bilang kumaha sih Kota Sukabumi teh. Tapi lamun acaranya bagus, keren Kota Sukabumi,” kata Taufik.
Menurutnya, beban kerja pegawai protokol cukup besar karena melekat langsung dengan aktivitas pimpinan daerah.
“Itu di pundak mereka gelaran-gelaran seremonial dibebankan. Makanya ayo kita upgrade kemampuannya,” tegasnya.
Taufik juga menyoroti pentingnya kemampuan adaptasi pegawai protokol terhadap gaya kepemimpinan kepala daerah yang berbeda-beda.
“Kepala daerah itu tipikal kepemimpinannya beda-beda. Sehingga kru yang melekat juga harus bisa menyesuaikan,” katanya.
Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan penggunaan kecerdasan buatan atau AI juga menjadi tantangan baru bagi aparatur pemerintahan.
“Sekarang era disrupsi, teknologi informasi, sering mengandalkan AI. Mereka dituntut menyesuaikan dengan era hari ini. Jangan tenggelam dengan kemampuan masa lalu,” ujarnya.
Ia mencontohkan perubahan cara kerja dalam menyusun sambutan kepala daerah.
“Dulu bikin sambutan harus mengetik, tiga jam baru selesai. Tapi sekarang ketika ada AI, bikinkan sambutan, sut-sut, 15 menit beres. Nah kemampuan beradaptasi itu harus kita push sekarang,” ucapnya.
Pada hari pertama pelatihan, peserta mendapatkan materi terkait etika komunikasi dan dasar-dasar kedisiplinan melalui latihan baris-berbaris yang melibatkan unsur TNI.
“Hari pertama menekankan kepada etika komunikasi, kemudian kemampuan dasar baris-berbaris. Kedisiplinan itu penting,” jelasnya.
Menurut Taufik, peserta juga dilatih sikap dasar keprotokolan seperti berdiri tegak, membawa map hingga tata cara penghormatan.
“Hal yang kelihatannya sederhana tapi hese. Bawa map, maju ke depan, berdiri tegak. Itu dilatih. Tidak goyang,” katanya.
Sementara pada hari kedua, peserta akan mendapatkan materi lanjutan dari tim protokol Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Hari keduanya kita akan berbagi pengalaman dengan protokol provinsi. Teman-teman protokol provinsi akan ke sini, bagaimana mendesain acara seremonial besar dari A sampai Z-nya,” pungkasnya. (sya)






























