SUKABUMITMES.com – Semangat perubahan dari pelosok selatan Kabupaten Sukabumi berhasil mengantar Jenal Abidin (33), petani milenial asal Kampung Sukasirna, Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, menembus babak Grand Final Young Ambassador Agriculture (YAA) 2026 tingkat nasional.
Jenal Abidin yang juga sebagai Ketua Umum Waluran Green Farmer (WGF) menjadi satu dari 30 finalis terbaik se-Indonesia dalam ajang bergengsi yang diinisiasi Kementerian Pertanian melalui program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), International Fund for Agricultural Development (IFAD), dan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP).
Di balik pencapaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Jenal mengaku terjun ke dunia pertanian berawal dari rasa prihatin melihat kondisi generasi muda di wilayahnya yang banyak meninggalkan sektor pertanian dan beralih menjadi pekerja tambang ilegal.
“Awalnya kami prihatin melihat banyak warga yang beralih profesi ke tambang ilegal. Saya sendiri juga pernah menjadi pekerja tambang ilegal. Risikonya berat, nyawa jadi taruhan. Akhirnya saya memilih pertanian sebagai jalan hidup,” ujar Jenal saat diwawancarai.
Bersama empat rekannya, yakni Tajudin, Misbah, Abdul Patah dan Asep, Jenal kemudian membangun komunitas Waluran Green Farmer sebagai wadah pemberdayaan pemuda tani di wilayah selatan Sukabumi. Komoditas cabai dipilih sebagai langkah awal usaha mereka. Menurutnya, cabai memiliki nilai ekonomi tinggi yang mampu bersaing dengan penghasilan dari pekerjaan tambang ilegal.
“Cabai ini punya harga kejut. Kadang bisa Rp70 ribu sampai Rp80 ribu per kilogram. Jadi kami melihat pertanian juga bisa menjanjikan secara ekonomi,” katanya.
Namun perjalanan membangun WGF tidak berjalan mulus. Keterbatasan modal, minimnya lahan sekretariat hingga rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi tantangan besar di awal pembentukan komunitas tersebut.
Dengan modal patungan Rp50 ribu per orang atau total Rp250 ribu, mereka nekat membangun greenhouse sederhana berukuran 10×12 meter untuk rumah bibit cabai.
“Bambu kami ambil dari kebun orang tua, plastiknya bayar setelah panen ke kios pertanian, dan pengerjaan dilakukan swadaya,” ungkapnya.
Kini, Waluran Green Farmer berkembang menjadi komunitas pertanian dengan berbagai unit usaha dan program. Selain sebagai kelompok taruna tani dan klaster cabai, WGF juga bergerak di bidang Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), brigade pangan, hingga pembinaan petani muda.
Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 40 anggota aktif dan membina sekitar 375 petani di wilayah Jampangkulon. Jenal menuturkan, kekuatan utama komunitas yang dibangunnya terletak pada komitmen dan transparansi antaranggota.
“Kami selalu terbuka soal laporan dan anggaran. Itu yang membuat anggota percaya dan tetap solid sampai sekarang,” jelasnya.
Menurutnya, pertanian memiliki masa depan yang sangat potensial bagi generasi muda.
“Selama manusia hidup, hasil pertanian akan selalu dibutuhkan. Makanya kami ingin semakin banyak anak muda tertarik masuk ke dunia pertanian,” katanya.
Dalam proses seleksi YAA 2026, Jenal harus melewati tahapan administrasi, presentasi hingga wawancara daring bersama dewan juri. Dari ratusan bahkan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, hanya 30 peserta yang lolos ke grand final nasional.
Ia mengaku kemampuan public speaking, kekompakan tim, serta konsistensi aktivitas komunitas di media sosial menjadi nilai tambah yang mengantarkannya lolos ke tahap akhir.
“Media sosial sangat penting. Dari sana banyak pihak tahu aktivitas kami, bahkan ada perusahaan pertanian yang akhirnya bekerja sama dan memberikan dukungan,” ujarnya.
Grand final YAA 2026 sendiri akan berlangsung di Bogor pada 19-21 Mei 2026 melalui sistem bootcamp dan presentasi langsung di hadapan juri dari Kementerian Pertanian serta psikolog profesional. Meski belum tentu keluar sebagai juara nasional, Jenal mengaku bangga bisa membawa nama Kabupaten Sukabumi dan Jawa Barat ke tingkat nasional.
“Ini amanah besar bagi kami untuk membawa nama baik pertanian daerah, keluarga, komunitas dan Jawa Barat,” ucapnya.
Ke depan, Jenal memiliki mimpi besar membangun pertanian modern di wilayah selatan Sukabumi. Ia ingin memperluas rumah bibit, mengembangkan tanaman anggur, menambah sarana pertanian seperti drone dan sumur bor, hingga menarik lebih banyak generasi muda terjun ke sektor pertanian.
“Harapan terbesar kami adalah semakin banyak milenial, Gen Z dan Gen Alfa yang mau terjun langsung ke dunia pertanian. Karena pertanian bukan pekerjaan kuno, tapi sektor masa depan,” tandasnya. (stm)































