SUKABUMITIMES.com — Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menunjukkan langkah diplomasi yang tak biasa atau “out of the box” dengan membuka jejaring internasional melalui forum Diplomatic Club. Kehadiran 17 duta besar dari berbagai negara menjadi sinyal kuat bahwa Sukabumi mulai dilirik dalam percaturan kerja sama global.
Dalam keterangannya, Ayep Zaki menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan wadah berkumpulnya para duta besar yang bertugas di Indonesia, termasuk perwakilan Indonesia di luar negeri.
“Iya, ini kan Diplomatic Club, ya. Atau keluarga besar duta besar di seluruh dunia yang ada di Indonesia. Ya, dan hari ini ada 17 duta besar. 14 duta besar perwakilan dari 14 negara yang ada di Indonesia, 3 duta besar Indonesia ke negara luar,” ujar Ayep Zaki.
Momentum penting dalam agenda tersebut adalah bergabungnya Ayep Zaki sebagai anggota Diplomatic Club. Ia menilai keanggotaan ini membuka jalur komunikasi langsung dengan para diplomat dari berbagai negara.
“Tadi alhamdulillah Wali Kota Sukabumi sudah diangkat menjadi salah satu member Diplomatic Club. Sehingga Kota Sukabumi secara otomatis bisa berkomunikasi dengan seluruh anggota Diplomatic Club yang ada di Jakarta,” katanya.
Tak hanya bersifat seremonial, forum tersebut langsung menghasilkan peluang kerja sama konkret. Ayep mengungkapkan adanya ketertarikan dari sejumlah negara, termasuk Hongaria dan Georgia, untuk menjalin hubungan lebih lanjut.
“Dan yang tadi juga ada beberapa duta besar, terutama dari Hongaria, Georgia. Itu yang orang tuanya juga wali kota. Dan dia meminta saya untuk berangkat ke sana untuk menjalin satu kerja sama,” ungkapnya.
Salah satu fokus utama kerja sama adalah di sektor pendidikan. Bahkan, Pemkot Sukabumi berencana mengirim tenaga pengajar ke luar negeri sebagai bagian dari kolaborasi tersebut.
“Begitu pun juga dari negara Georgia, mereka segera harus mempercepat karena item untuk perjanjian untuk negara Georgia itu hanya ada tiga tahapan. Kalau Indonesia punya sekitar 7 sampai 11 tahapan. Tapi kita akan upayakan secepatnya supaya kita menjalin satu kerja sama sehingga Kota Sukabumi bisa memberangkatkan guru-guru, tenaga pengajar TK, SD maupun SMP ke negara Georgia,” jelasnya.
Selain pendidikan, kerja sama juga akan merambah sektor kesehatan dan ekonomi. Bahkan, Ayep memiliki visi besar untuk mendorong ekspor berbasis teknologi kesehatan.
“Tentu saja ini hal yang sangat baik. Selain pendidikan, kita juga akan kerja sama dengan masalah kesehatan. Kemudian juga secara otomatis bisnis ikutannya juga akan ini. Termasuk obsesi saya untuk bisa ekspor steam cell dari Indonesia ke berbagai negara,” katanya.
Menurut Ayep, seluruh upaya diplomasi ini bertujuan mempercepat pembangunan Kota Sukabumi dengan dukungan dari negara-negara maju.
“Outcome kita, apa yang kita harapkan nanti adalah percepatan pembangunan di Kota Sukabumi sehingga kita tidak hanya didukung oleh internal Kota Sukabumi, tapi kita juga bisa berkomunikasi dengan negara-negara yang sudah maju,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa diplomasi modern tidak lagi terbatas pada hubungan antarnegara, melainkan dapat dilakukan langsung antar kota dengan cakupan kerja sama yang luas.
“Hubungan diplomatik bukan hanya politik, bukan hanya negara antar negara, tapi bisa antar kota dari dua negara. Dan itu bukan hanya politik, melainkan bisa pendidikan, ekonomi, kesehatan, pertanian, sosial budaya, dan lain sebagainya,” tegasnya.
Dalam waktu dekat, langkah konkret akan segera dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan tiga negara.
“Besok kita akan ada penandatanganan perjanjian langsung. Ada dengan tiga negara langsung. Kota Sukabumi dengan Armenia, Kota Sukabumi dengan Georgia, Kota Sukabumi dengan Rumania. Ada tiga negara yang sudah sepakat, tapi tadi juga dari Hongaria juga ini,” ungkap Ayep.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut akan dimulai dari tahap MoU sebelum masuk ke implementasi lebih rinci.
“MOU dulu setelah itu kita tingkatkan menjadi perjanjian kerja sama. Kalau dalam kerja sama sudah ada item-itemnya,” pungkasnya. (sya)































