SUKABUMITIMES.com – Dunia usaha ternyata bukan fenomena modern. Aktivitas berwirausaha telah ada sejak masa lampau, bahkan sejak era para nabi. Menariknya, ada sebuah perusahaan yang usianya sudah melintasi lebih dari 14 abad dan telah berdiri sejak masa kecil Nabi Muhammad SAW.
Namun, perusahaan tersebut bukan berasal dari Timur Tengah, melainkan dari Jepang. Negeri Sakura memang dikenal sebagai rumah bagi banyak perusahaan berusia ratusan tahun. Di antara semuanya, nama Kongo Gumi menjadi yang paling legendaris.
Kongo Gumi merupakan perusahaan konstruksi asal Osaka yang didirikan pada tahun 578 Masehi. Dengan usia lebih dari 1.400 tahun, perusahaan ini disebut sebagai salah satu bisnis tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini.
Sejarahnya bermula ketika seorang pangeran Jepang, Pangeran Shotoku, mengundang keluarga perajin kayu dari Korea untuk membangun kuil Buddha. Dari sinilah cikal bakal Kongo Gumi lahir, seiring berkembangnya Buddhisme di Jepang pada periode Asuka.
Menariknya, pada masa itu di Mekkah, seorang anak bernama Nabi Muhammad diperkirakan masih berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun. Artinya, Kongo Gumi telah memulai aktivitas bisnisnya bersamaan dengan masa kecil Rasulullah.
Spesialis Konstruksi Kuil Bersejarah
Sejak awal, Kongo Gumi memposisikan diri sebagai spesialis pembangunan kuil Buddha. Perusahaan ini telah membangun berbagai bangunan bersejarah, seperti kompleks kuil di Horyu-ji, kawasan suci Koyasan, hingga Istana Osaka.
Selama berabad-abad, perusahaan ini melewati berbagai fase sejarah, mulai dari masa feodal Jepang, restorasi Meiji, dua perang dunia, hingga era ekonomi modern. Meski menghadapi berbagai gejolak, Kongo Gumi tetap berdiri sebagai simbol ketahanan bisnis berbasis tradisi.
Rahasia Bertahan: Tradisi, Reputasi, dan Adaptasi
Keberlangsungan Kongo Gumi bukanlah kebetulan. Fondasi utama perusahaan ini terletak pada nilai budaya, kepercayaan, serta reputasi yang terus dijaga lintas generasi.
Permintaan terhadap jasa mereka relatif stabil karena berkaitan erat dengan identitas budaya Jepang, khususnya dalam perawatan bangunan religius. Selain itu, Kongo Gumi mempertahankan teknik tradisional pengerjaan kayu tanpa paku yang diwariskan turun-temurun.
Model bisnis keluarga juga menjadi kunci penting. Meski diwariskan secara turun-temurun, kepemimpinan tidak semata berdasarkan garis keturunan, melainkan kompetensi. Hal ini menjaga kualitas dan profesionalisme perusahaan.
Perjalanan panjang Kongo Gumi tidak selalu mulus. Mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik politik pada periode Heian, perubahan sosial di era Kamakura, hingga bencana alam seperti gempa dan kebakaran.
Memasuki era modern, terutama pada periode Meiji, perusahaan mulai beradaptasi dengan menggabungkan teknik tradisional dan material modern seperti baja dan batu bata. Langkah ini menjadi titik penting dalam menjaga relevansi di tengah modernisasi Jepang.
Kisah dramatis juga pernah terjadi dalam kepemimpinan perusahaan. Pemimpin ke-37, Haruichi Kongo, bahkan melakukan bunuh diri karena tekanan ekonomi. Sementara itu, pada 1934, kepemimpinan sempat beralih ke seorang perempuan, Yoshie, yang menjadi pemimpin ke-38—sebuah langkah yang tidak biasa pada masa itu.
Pada era gelembung ekonomi Jepang, Kongo Gumi sempat tergoda untuk berinvestasi besar di sektor properti dengan pembiayaan utang. Namun ketika krisis ekonomi melanda pada 1990-an, perusahaan mengalami tekanan berat.
Puncaknya terjadi pada 2006, ketika Kongo Gumi harus dilikuidasi akibat kesulitan finansial. Perusahaan kemudian diakuisisi oleh Takamatsu Construction Group dan resmi menjadi anak usaha.
Meski demikian, nama Kongo Gumi tetap dipertahankan, termasuk tradisi dan spesialisasi konstruksi kuil. Saat ini, perusahaan masih mempekerjakan sekitar 100 tukang kayu tradisional dan tetap melibatkan anggota keluarga Kongo sebagai simbol warisan.
Kini, perusahaan-perusahaan tua di Jepang menghadapi tantangan baru, mulai dari penurunan angka kelahiran, keterbatasan tenaga kerja, hingga meningkatnya biaya operasional.
Regenerasi menjadi isu krusial. Tanpa penerus yang kompeten, banyak bisnis keluarga bersejarah terancam berhenti. Selain itu, tekanan ekonomi dan kebutuhan adaptasi terhadap sistem bisnis modern juga menjadi tantangan besar.
Meski demikian, kisah Kongo Gumi membuktikan bahwa perpaduan antara tradisi dan inovasi mampu menjaga keberlangsungan bisnis lintas zaman. Perusahaan ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga simbol bagaimana nilai budaya dapat menjadi fondasi kuat dalam dunia usaha.
Di tengah perubahan dunia yang cepat, Kongo Gumi tetap berdiri sebagai pengingat bahwa ketahanan bisnis bukan hanya soal keuntungan, melainkan juga soal warisan, identitas, dan kemampuan beradaptasi.


























