Ratu Shima, Hidup di Era Nabi Muhamamd SAW, Terkenal sampai Arab 

SUKABUMITIMES.com – Bayangkan sebuah masa di abad ke-7. Di padang pasir Jazirah Arab, seorang pria agung bernama Muhammad bin Abdullah baru saja diangkat menjadi Rasul, memulai risalah yang akan mengubah wajah dunia selamanya.

Di saat yang bersamaan, ribuan mil jauhnya di tanah Nusantara yang hijau, seorang bayi perempuan lahir di Sumatera Selatan. Kelak, ia akan dikenal sebagai penguasa paling adil yang pernah dimiliki tanah Jawa, yakni Ratu Shima.

Banyak dari kita sering memandang sejarah Nusantara seolah terisolasi dari garis waktu dunia. Padahal, catatan sejarah menunjukkan bahwa saat Nabi Muhammad membangun fondasi Islam di Makkah dan Madinah, Nusantara sudah memiliki peradaban yang sangat maju dengan tokoh-tokoh yang legendaris.

Pertemuan Dua Garis Waktu

Ratu Shima lahir sekitar tahun 611 Masehi. Saat itu, Nabi Muhammad berusia sekitar 41 tahun, baru setahun menjalani masa kerasulannya. Shima muda, putri seorang agamawan Hindu, tumbuh besar dan kemudian menikah dengan Kartikeyasinga, putra mahkota Kerajaan Kalingga.

Perjalanan hidup membawanya ke wilayah Jepara, Jawa Tengah. Di sana, ia tidak hanya menjadi pendamping raja, tetapi juga menyelami spiritualitas di kompleks candi Hindu kawasan Dieng.

Namun, takdir menempatkannya pada posisi yang lebih tinggi. Ketika suaminya wafat pada tahun 678 M—saat dunia Islam sedang dipimpin oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam periode Khulafaur Rasyidin—Shima naik takhta sebagai penguasa tunggal karena putra-putranya masih terlalu kecil.

Kalingga yang Berkilau di Mata Dunia

Di bawah kepemimpinan Ratu Shima yang bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara, Kalingga mencapai masa keemasan.

Ia bukan sekadar penguasa domestik, namun ia adalah seorang visioner ekonomi. Pelabuhan Jepara diubahnya menjadi pusat perdagangan internasional yang mempertemukan pedagang dari berbagai penjuru, termasuk dari Dinasti Tang, China.

Catatan Tionghoa (2009) mengungkap kesaksian para pedagang China tentang kekayaan Kalingga. Menariknya, komoditas utama yang membuat kerajaan ini makmur adalah garam—sesuatu yang sederhana namun sangat berharga di masa itu.

Tidak hanya kaya secara materi, rakyat Kalingga sudah mengenal aksara dan astronomi, bahkan menjadi pusat pembelajaran agama Buddha Hinayana bagi para pelajar mancanegara.

Ujian Emas dari Jazirah Arab

Keadilan Ratu Shima yang tanpa pandu bulu terdengar hingga ke Jazirah Arab, yang kala itu sudah memasuki era kekhalifahan. Seorang penguasa Arab yang disebut “Ta-Shih” merasa penasaran dengan kabar burung tentang kejujuran rakyat Kalingga.

Untuk membuktikannya, Sang Raja Arab mengirimkan satu karung emas dan meletakkannya di tengah jalanan Kalingga. Ia ingin melihat, benarkah tak ada yang berani menyentuh milik orang lain di tanah Shima?Bulan demi bulan berlalu. Karung emas itu tetap di sana, tak tersentuh, mengilap di bawah matahari Jawa tanpa ada tangan yang lancang mengambilnya.

Hingga suatu hari, sebuah ketidaksengajaan terjadi. Pangeran Narayana, putra kesayangan Ratu Shima, tak sengaja menyentuh karung tersebut dengan kakinya.

Hukum yang Menembus Kasih Ibu

Mendengar hal itu, Ratu Shima tidak goyah meskipun yang terlibat adalah darah dagingnya sendiri. Ia menjatuhkan hukuman mati. Para penasihat kerajaan memohon keringanan, mengingat sang pangeran tidak berniat mencuri, hanya menyentuh.

Dengan ketegasan yang legendaris, hukuman akhirnya diubah menjadi pemotongan kaki. Ratu Shima berpendapat bahwa kaki pangeran lah yang bersalah karena telah menggeser benda yang bukan miliknya.

Kejadian ini menjadi pesan kuat bagi seluruh dunia di Kalingga, hukum tidak mengenal kasta atau cinta.

Warisan yang Abadi

Ratu Shima wafat pada tahun 695 Masehi. Saat Kalingga perlahan mulai meredup dan akhirnya runtuh pada 752 M, Islam di Arab telah meluas hingga ke era Bani Umayyah. (*/sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *