SUKABUMITIMES.com – Suasana haru menyelimuti Muhammadiyah pada tanggal 23 Februari 1923, disebabkan sang pendiri yaitu Kiai Ahmad Dahlan berpulang setelah merasakan sakit beberapa bulan. Kepergiannya meninggalkan pesan dan kesan mendalam bagi gerakan ini, dan tentu saja kepada istri tercinta Nyai Siti Walidah.
Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah menikah pada tahun 1889. Dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah edisi 11 Tahun 2014 disebutkan, Nyai Walidah dinikahkan dengan Kiai Dahlan ketika berusia 17 tahun. Jarak usia keduanya ketika menikah terpaut angka antara 3 atau 4 tahun.
Dalam catatan Kiai Soedja’, diceritakan acara pernikahan antara Kiai Dahlan dan Nyai Walidah terbilang sederhana namun riang gembira. Perundingan kedua keluarga – Kiai Haji Abu Bakar (ayah Kiai Dahlan) dengan Kiai Haji Muhammad Fadhil (ayah Nyai Walidah) untuk menikahkan anaknya juga berlangsung singkat.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai enam anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Situ Busyro, Irfan Dahlan (Djumhan), Siti Aisyah, dan Siti Zaharah. Anak pertama mereka, Djohanah telah mendahului – berpulang ke haribaan Allah SWT.
Djarnawi Hadikusumo dalam bukunya Matahari-matahari Muhammadiyah (2010) menceritakan, ketika anak ketiganya Djumhan atau Irfan Dahlan sakit, Nyai Walidah menyusul meminta suaminya yang sedang mengajar para santri untuk pulang karena sakit anaknya yang semakin keras.
Pesan Tawakal: Hidup dan Mati Mutlak Kehendak Allah
Setelah melakukan pertimbangan dan saran dari para santri, Kiai Dahlan kemudian menyusul pulang. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya sedang sakit dan terbaring di atas tempat tidur. Lalu Kiai Dahlan berpesan ke anaknya untuk bertawakal kepada Allah, dicium kening anaknya itu dan melanjutkan mengajar.
Sebelum pergi, Kiai Dahlan juga berpesan kepada Nyai Walidah supaya tidak bersedih hati lantaran sakit yang diderita anaknya. Bahwa kesembuhan maupun kematian datangnya dari Allah SWT, kehadirannya di samping anaknya tidak membuat sembuh atau menghadirkan kematian.
“Wahai Nyai, janganlah engkau menyangka bahwa jika aku tetapi menunggui anakmu ini, dia akan sembuh, dan jika aku tinggalkan dia, dia akan mati. Tidak Nyai, mati dan hidup di tangan Allah, Tuhanmu dan Tuhanku, dan Tuhan dan Jumhan juga,” kata Kiai Dahlan ditulis Djarnawi Hadikusumo.
Sikap tawakal atas kehendak Tuhan itu juga diterapkan pada dirinya sendiri. Kiai Dahlan telah sakit selama sebulan sebelum meninggal. Meski sudah diminta untuk istirahat dan mengurangi aktivitas dakwahnya, namun Sang Kiai tidak menghiraukan sakitnya dan tetap berdakwah dan mengenalkan Muhammadiyah.
Pesan Teguh Hati Bermuhammadiyah Sampai Akhir Hayat
Meskipun badannya sudah kurus kering, dan hanya berada di atas tempat tidur, namun Kiai Dahlan masih mengikuti perkembangan Muhammadiyah. Tak hanya keluarga, teman sejawat pengurus Muhammadiyah, santri, tapi juga dokter yang merawatnya juga berpesan supaya beristirahat dan tidak lagi memikirkan Muhammadiyah.
Namun ketika Nyai Walidah ikut berpesan demikian – untuk beristirahat dan berhenti dahulu memikirkan Muhammadiyah, Kiai Dahlan memberikan jawaban yang begitu romantis dengan bumbu menggoda dan bercanda layaknya seorang suami kepada istri tercintanya.
“Aduhai, kalau tadi sore setan merupakan diri sebagai dokter dan melarang memikirkan Muhammadiyah, mak, kini setan itu memperalat istriku. Wahai Nyai, bertobatlah engkau kepada-Nya yang telah menjadikan engkau,” ucap Kiai Dahlan yang mulai tersendat suaranya dan terdengar parau.
Bersebab lembutnya hati Nyai Walidah dan tingginya rasa hormat dan cinta kepada sang suami, Nyai Walidah sampai terisak tangisnya mendengar pesan romantis yang keluar dari sosok pencerah bagi umat Islam itu. Kemudian Nyai Walidah membaca istighfar berkali-kali dan memohon maaf.
Pesan untuk Beramal Nyata Tanpa Pandang Masa
Bulan Januari 1923, penyakit Kiai Dahlan semakin keras. Namun dia masih sadar bahwa tugas keumatan masih belum tuntas pula. Di mana pada Bulan Februari, Muhammadiyah berencana melakukan peresmian pembangunan rumah sakit PKU Muhammadiyah yang pertama.
Kiai Dahlan mendengarkan laporan perkembangan rencana pembangunan Rumah Sakit PKU itu dari ranjang tempat tidurnya. Pada tahun menjelang ajal Kiai Dahlan, menurut catatan Kiai Sudja’, Muhammadiyah sedang gencar melakukan pembangunan seperti Rumah Miskin, Musala ‘Aisyiyah, HIS dan Kweekschool.
Pada 13 Januari 1923, Rumah Miskin (Armenhuis) diresmikan. Banyak tokoh Muhammadiyah hadir, berbagai utusan pemerintahan juga hadir, termasuk tetamu yang berasal dari luar baik yang diundang maupun tidak, namun Kiai Dahlan urung hadir disebabkan sakitnya yang semakin keras.
Salah satu tamu dari luar yang tak terundang adalah Dokter Sumowidagdo dari Malang Jawa Timur. Dia menyampaikan maksud dan tujuannya langsung ke rumah Kiai Dahlan, bahwa dia ingin menjadi bagian dari Muhammadiyah sekaligus ingin mendirikan Balai Pengobatan bersama Bahagian PKO.
Beberapa hari sebelum agenda peresmian pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jogja, Djarnawi Hadikusumo mencatat, pada suatu malam hari, Kiai Dahlan merasa hidupnya tak lama lagi dan memanggil Nyai Walidah untuk menyampaikan pesan:
“Ketahuilah, aku harus bekerja keras dalam meletakkan batu pertama daripada amal yang besar ini. Kalau sekiranya aku terlambat atau aku hentikan sementara karena sakitku ini, maka tiada seorangpun akan sanggup mebina batu pertama itu. Aku merasa hayatku tidak akan lama lagi. Maka jika aku terus kerjakan amal ini, mudah-mudahan orang di belakangku nanti tidak akan mendapat kesukaran untuk menyempurnakan,” kata Kiai Dahlan ke Nyai Walidah.
Tak lama setelah menyampaikan pesan itu, Kiai Dahlan berpulang pada Jumat malam Sabtu, tanggal 7 Rajab 1341 H atau bertepatan dengan 23 Februari 1923 M. Tubuh Sang Pencerah itu dimandikan malam itu juga, lalu dikafani dan disemayamkan sementara di Langgar Kidul untuk esok harinya dibawah ke Makam Karangkajen. (*)

























