SUKABUMITIMES.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi menegaskan komitmennya untuk menurunkan angka stunting hingga 16 persen pada 2026. Target tersebut sejalan dengan prioritas pembangunan kesehatan daerah dan berada di bawah rata-rata nasional.
Komitmen itu disampaikan dalam sosialisasi Program Sipaling Berseri yang digelar di halaman Kantor Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Selasa (6/1/2026). Program ini merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Kota Sukabumi yang dirancang secara terintegrasi lintas sektor.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah, menjelaskan bahwa Sipaling Berseri tidak hanya berfokus pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga dikaitkan dengan pengelolaan lingkungan, khususnya pengurangan sampah melalui kolaborasi dengan bank sampah.
“Program Sipaling Berseri sejalan dengan prioritas pembangunan kesehatan tahun 2026, terutama dalam upaya percepatan penurunan stunting. Kami mengintegrasikannya dengan pengelolaan sampah sebagai bagian dari pendekatan kesehatan lingkungan,” ujar Ida.
Inovasi Graduasi Stunting
Dalam upaya menekan prevalensi stunting, Dinkes Kota Sukabumi saat ini tengah menjalankan inovasi Graduasi Stunting, yakni program intervensi gizi terukur bagi balita usia di bawah dua tahun yang terindikasi mengalami stunting.
Balita sasaran akan mendapatkan asupan gizi tambahan, termasuk susu, disertai pemantauan dan evaluasi secara berkala selama minimal enam bulan.
“Pertumbuhan anak diukur secara rutin, mulai dari berat badan dan indikator kesehatan lainnya. Jika hasil evaluasi menunjukkan kondisi normal, maka balita tersebut dinyatakan lulus graduasi stunting,” jelasnya.
Fokus Pencegahan Kasus Baru
Ida menambahkan, penurunan angka stunting menjadi salah satu indikator kinerja kepala daerah. Oleh karena itu, Dinkes tidak hanya fokus pada penanganan kasus yang ada, tetapi juga berupaya mencegah munculnya kasus baru dengan menargetkan zero new stunting.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah intervensi dini terhadap ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronik (KEK).
“Jika ibu hamil terdeteksi sejak usia kehamilan tiga bulan dan mendapatkan intervensi selama enam bulan, maka saat melahirkan diharapkan bayi lahir dengan berat badan normal dan tidak berisiko stunting,” katanya.
Program Lima Tahunan dan Layanan Gratis
Program Sipaling Berseri telah masuk dalam rencana strategis Dinas Kesehatan dan akan dijalankan secara berkelanjutan selama lima tahun ke depan. Pada 2026, angka stunting di Kota Sukabumi ditargetkan turun dari 19,7 persen menjadi sekitar 16 persen.
Selain isu stunting, Dinkes Kota Sukabumi juga memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat. Mulai 2026, warga yang memiliki KTP Kota Sukabumi dapat memperoleh layanan kesehatan di puskesmas secara gratis.
“Pelayanan di puskesmas, mulai dari pendaftaran, retribusi, hingga layanan di poli umum, poli gigi, dan tindakan medis dasar tidak dipungut biaya. Pengecualian hanya untuk layanan tertentu seperti layanan kecantikan,” ujarnya.
Hingga 2025, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah mengembangkan sekitar 204 inovasi layanan di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas, laboratorium, rumah sakit, hingga tingkat dinas. Inovasi tersebut akan terus dikembangkan guna meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat. (rus)



























