SUKABUMITIMES.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi Ida Halimah mengakui bahwa ada tran kenaikan kasus penyakit campak di wilayah yang menjadi naungannya, yakni Kota Sukabumi.
Hal ini diungkapkan Kadis Ida Halimah kepada sukabumitimes.com ketika diwawancarai diruang kerjanya pada Senin (6/4/2026).
“Hingga per 31 Maret 2026, tercatat puluhan kasus suspek yang kini sedang dalam penanganan intensif pihak kesehatan,” ungkap Ida Halimah.
Meksipun ada tran peningkatan, pihaknya telah bergerak cepat melakukan berbagai langkah mitigasi.
“Kecenderungannya memang meningkat, tetapi kita sudah melakukan berbagai upaya terkait penanganan ini,” ujar Kadinkes.
Ida memerinci, berdasarkan data terbaru per 31 Maret 2026, Dinkes mencatat adanya angka kasus yang cukup signifikan di beberapa titik wilayah Puskesmas.
“Yaitu Suspek 44 kasus, Positif Campak 26 kasus, negatif 7 kasus,” rincinya.
Kadis Ida menjelaskan bahwa timnya telah mengirimkan sebanyak 36 spesimen untuk diperiksa lebih lanjut guna memastikan diagnosis pasti di lapangan.
“Telah diketahui hasil tersebut data diatas, dan 3 kasus masih menunggu hasil pemeriksaan spesimen
Dalam keterangannya, Kadinkes merinci beberapa wilayah Puskesmas yang menjadi titik fokus karena jumlah suspek yang menonjol dibandingkan daerah lainnya.
“Kalau berdasarkan Puskesmas, yang paling banyak itu di Puskesmas Sukabumi ada 7 suspek, kemudian di Puskesmas Karang Tengah juga 7 suspek, dan di Baros tercatat ada 6 kasus. Sisanya tersebar merata di wilayah lain dalam jumlah satuan,” jelasnya secara detail.
Ketika ditanya mengenai naikan kasus penyakit campak ini, Kadis Ida mengatakan sebenarnya ini mencuat sejak akhir tahun 2025 dan mencapai puncaknya pada momen mobilisasi massa yang tinggi, seperti libur Idul Fitri.
“Karakteristik campak inikan sangat menular ya, bahkan disebut menyerupai kecepatan penularan COVID-19, menjadi perhatian serius,” katanya.
Pihaknya menambahkan bahwa rata-rata pasien yang terinfeksi positif adalah anak-anak usia balita yang status imunisasinya belum lengkap.
“Kebanyakan anak-anak usia balita, terutama yang imunisasinya belum lengkap,” tambahnya.
Menanggapi situasi ini, Dinkes Kota Sukabumi akan segera melaksanakan program Imunisasi Kejar. Program ini menyasar warga masyarakat yang belum mendapatkan dosis imunisasi lengkap guna memutus rantai penularan.
Langkah-langkah yang akan dilakukan meliputi:
- Monitoring Ketat: Pemantauan langsung di fasilitas kesehatan (Puskesmas) dan penelusuran kasus (tracing) langsung ke lokasi temuan.
- Bimtek Tenaga Kesehatan. Melakukan Bimbingan Teknis sebelum pelaksanaan imunisasi massal.
- Koordinasi Lintas Sektor. Menggandeng pihak lain, termasuk Kementerian Agama (Kemenag), untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi.
“Kami tekankan bahwa imunisasi itu sangat penting. Kami akan terus meningkatkan rapat koordinasi dengan lintas sektor agar pemahaman masyarakat meningkat dan mereka mau membawa anaknya untuk melengkapi imunisasi,” pungkas Kadinkes. (sya)























