Oleh: Boby es-Syawal (Penulis dan Kolumnis Asal Sukabumi)
Sekarang lagi rame nih soal kasus mantan Jampidsus Kejagung, FA, yang ketemu uang miliaran sama emas batangan 74 kg di rumahnya. Miris banget, apalagi ini oknum penegak hukum. Daripada ikut-ikutan gosip, yuk kita liat gimana sih sebenarnya pandangan agama soal praktek kayak gini.
Suap = Risywah, Dosa Besar yang Dilaknat
Dalam Islam, praktek suap-menyuap ini namanya risywah. Dan hukumnya? HARAM BANGET! Bahkan Nabi Muhammad SAW sampai melaknat para pelakunya. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Nabi bersabda:
“Rasulullah SAW melaknat penyuap, penerima suap, dan perantaranya.”
Ngeri kan? Laknat itu bukan sekadar marah, tapi doa agar dijauhkan dari rahmat Allah. Ini menunjukkan betapa kejamnya dosa ini. Apalagi kalo yang nerima suap adalah aparat penegak hukum. Jabatan itu kan amanah, bukan buat dijual-belikan.
Nah, bahkan ada hadis lain yang lebih “ngegas” lagi. Rasulullah SAW bersabda:
“Ar-roosyi wa al-murtasyi fin-naar.”
(Artinya: Orang yang menyuap dan orang yang menerima suap (tempatnya) di neraka.)
Bayangin, udah disebutin gamblang tuh tempatnya. Bukan main-main, ini udah level “booking ticket” ke neraka. Jadi buat yang masih mikir “ah paling cuma dosa kecil”, stop! Ini dosa besar yang janjinya api neraka.
Antara “Hadiah” dan “Suap” yang Sering Kabur
Emang sih, kadang suka kabur batasannya. Ada yang bilang “itu mah hadiah, bukan suap”. Tapi dalam fiqih, bedanya jelas. Imam Al-Ghazali bilang, kalo pemberian itu karena mulusin urusan atau nyari pengaruh biar dapet untung dari jabatan, itu udah masuk kategori risywah, bukan hadiah biasa.
Intinya, risywah itu pemberian yang punya “niat belakang” buat mempengaruhi keputusan. Mau dikasih nama “hadiah”, “uang terima kasih”, atau “amplop lebaran”, kalo tujuannya nyogok, ya haram hukumnya. Rasulullah aja tegas bilang: “Hadiah untuk pejabat adalah ghulul (pengkhianatan).”
Dalih dengan solat Dhuha yang HARAM bisa jadi HALAL.
Nih, yang paling bahaya dan BANGSAT BENERAN pola pikirnya: ada sebagian orang yang mikir, “Ah, harta haram sih ga masalah, nanti juga bisa dicuci bersih pake solat Dhuha.”
Waduh, ini nih yang bikin geleng-geleng kepala. Mereka pake dalih doa solat Dhuha yang ada kalimat:
“Wa inkana haroman fathoh-hirhu”
Artinya: Dan jika ada yang haram, maka bersihkanlah.
Emang sih, doa ini ada dan bagus banget. Tapi fungsinya buat keharaman yang tidak disengaja atau tidak diketahui, misalnya lo beli makanan, ternyata ada campuran haram tapi lo ga tau. Atau lo terima uang, ternyata sumbernya haram tapi lo ga sadar. Nah, buat case kayak gitu, doa ini sah-sah aja dipake.
LAH KALO YANG DISENGAJA?! Ini beda urusan, bro! Kalo lo udah tau itu uang suap, tau itu risywah, tau itu haram, terus lo ambil juga, itu udah level berani-beraninya sama Allah. Bukan soal “ga tau” lagi, tapi “tau tapi bandel”. Masa sih, lo pikir doa Dhuha seampuh itu buat “nyucinin” uang hasil korupsi? Hadeeh.
Ini sama aja kayak orang mabok, terus abis itu solat taubat, besoknya mabok lagi. REPET! Taubat itu bukan “kartu kuning” buat balik maksiat lagi. Dalil yang jelas-jelas ngomong haram, udah lo tau, terus lo langgar dengan sengaja, trus lo minta dibersihin? Ya udah, namanya cari aman doang. Bukan tobat yang sesungguhnya.
Tegas di Quran: Jangan Makan Harta Batil!
Selain hadis, Al-Quran juga udah terang-terangan melarang. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 188:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini ngegas banget kan? Tegas melarang “memakan” harta orang lain dengan cara batil, termasuk nyuap hakim. Allah pake kata “padahal kamu mengetahui” —nah ini nih! Kalo udah tau, ga ada alesan lagi buat pake dalih “ga sengaja”. Udah tau haram, ya haram. Titik.
Bahkan dalam Surat Al-Maidah, Allah juga mengingatkan bahwa kebiasaan suap-menyuap adalah salah satu penyebab kehancuran suatu kaum. Bayangin, jabatan Jampidsus yang seharusnya jadi benteng pemberantasan korupsi malah terlibat. Mirisnya, mereka yang seharusnya menegakkan hukum malah jadi contoh pelanggar hukum.
Kepercayaan Publik Dikhianati
Kasus ini udah jelas bikin malu institusi hukum. Pas orang yang seharusnya berantas korupsi malah jadi tersangka, kepercayaan publik runtuh. Ini pelajaran buat kita semua: hati-hati sama “hadiah”. Kalo ada yang kasih sesuatu, pikir-pikir lagi, jangan-jangan itu adalah batu loncatan menuju laknat Allah dan neraka.
Jangan pernah cari pembenaran atau “celah” biar harta haram terasa halal. Kalo udah tau haram, ya tolak! Kalo terpaksa terlanjur, ya tobat beneran dan kembalikan. Bukan malah cuci pake solat Dhuha sambil berdoa “fathoh-hirhu” padahal lo tau persis itu uang korupsi. Itu mah namanya mengolok-olok agama, bukan beribadah!
Semoga kasus ini jadi pelajaran buat kita dan momentum buat bersih-bersih, dan kita semua dijauhkan dari godaan risywah. Aamiin. Wallahu a’lam. (*)

























