SUKABUMITIMES.COM – Puluhan siswa dari RA, MD, dan MTs Miftahul Barokah yang berlokasi Kampung Gempol, Palabuhanratu, kabupaten Sukabumi, harus menghadapi bahaya setiap hari.
Mereka terpaksa belajar di gedung sekolah yang rusak parah akibat pergerakan tanah. Kondisi ini sudah berlangsung berbulan-bulan tanpa adanya solusi konkret dari pemerintah.
“Kami tidak punya pilihan lain. Anak-anak terpaksa belajar di gedung yang sudah rusak ini,” ungkap Lela Helmiah, pimpinan Ponpes Miftahul Barokah, Senin (8/9/2025).
Menurut Lela, kerusakan parah ini bermula dari pergerakan tanah yang terjadi pada Desember 2024. Sejak Januari 2025, para siswa harus belajar di ruangan yang penuh retakan, dengan atap yang sewaktu-waktu bisa ambruk. Kondisi ini membuat para guru dan siswa selalu merasa waswas, terutama saat hujan turun.
Sebelumnya, siswa sempat belajar di tenda darurat. Namun, tenda tersebut tidak bertahan lama karena sering ambruk akibat hujan.
“Tenda ambruk, harus dirapikan berkali-kali, dan itu juga mengeluarkan biaya. Akhirnya kami kembali lagi ke gedung yang rusak ini, meski penuh kekhawatiran,” tutur Lela.
Lela menyayangkan, hingga kini belum ada solusi dari pihak berwenang. Relokasi hanya diprioritaskan untuk warga, sementara fasilitas pendidikan seperti sekolah dan pondok pesantren tidak tersentuh. Padahal, pihak BPBD dan BNPB sudah menyarankan agar area tersebut dikosongkan.
“Kalau untuk sekolah, tidak ada solusi sampai sekarang. Bahkan kami sempat berupaya mencari jalan keluar sendiri hingga ke Bandung, tapi tidak ada respons,” katanya.
Masih kata Lela, kondisi sekolah yang memprihatinkan ini berdampak besar pada semangat belajar siswa. Jumlah siswa menurun drastis karena banyak orang tua ragu mendaftarkan anaknya.
“Siswa jadi bingung. Ada yang ragu untuk mendaftar, karena tidak jelas kepastian tempat belajar,” tegasnya.
“Harapan kami sederhana, semoga cepat terealisasi bangunan baru yang layak. Kami ingin anak-anak belajar di tempat yang nyaman, aman, dan bisa berkembang,” tutup Lela dengan penuh harap.
Seorang guru lainnya, Usup Supriatman, juga merasakan hal yang sama. Ia harus mengajar di bawah ancaman bangunan yang bisa roboh kapan saja.
“Atapnya ada yang sudah jatuh. Alhamdulillah, waktu itu jatuhnya pas jam istirahat,” kenangnya.
“Saat hujan, terpaksa membawa siswanya ke luar ruangan karena khawatir, harapan kami pemerintah bisa segera memberikan bantuan relokasi untuk membangun fasilitas yang lebih layak dan aman,” sambungnya. (stm)
































