SUKABUMITIMES.COM – Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi mengelar syukuran milad ke-15 yang disertai dengan pelepasan para Dai yang tergabung dalam Ustadz Garis Depan (UGD 5) dan Dai 3T di Pulau Buru Maluku yang berlangsung di Aula Syekh Quro Ponpes Modern Dzikir Al-Fath pada Kamis (9/1/2025).
Hadir dalam kegiatan ini Penjabat Wali Kota Sukabumi Kusmana Hartadji, Kepala seksi Bimas Islam Ludi Jalaludin, Kepala Kakan Kemenag Kota Sukabumi Samsul Puad, dan Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Prof. Fajar Laksana.
Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Prof. Fajar Laksana mengatakan pengiriman UGD ke pukul Buru sampai saat ini sudah memasuki tahap yang ke lima.
“Alhamdulillah, sampai saat ini kami bisa konsisten mengirimkan UGD dan juga dai 3T di Pulau buru yang ke lima kalinya,” ucap Prof. Fajar Laksana dihadapan sukabumitimes.com pada Kamis (9/1/2025).
Perlu kami sampaikan, kata Prof Fajar Laksana bahwa capaian pengiriman Ustadz Garis Depan ke empat desa di pulau buru, yakni kita sudah membangun dua masjid, delapan majelis dzikir.
“Bahkan juga sudah terbentuk jamaah rutin yang jamaahnya mencapai 250 orang yang meliputi 4 desa, yakni desa Widit, Dava, Gogorea, Wabloy dan Basalale Pulau Buru Maluku,” bebernya.
Demikian juga di Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, sampai saat ini sudah menampung 92 siswa dari Pulau Buru untuk belajar, yang meliputi tingkatan SD, SMP, SMA, dan juga tingkatan mahasiswa.
“Ke 92 siswa ini mendapatkan beasiswa secara full. Adapun jumlah beasiswa yang kita berikan mencapai Rp8,2 miliar,” urainya.
Komitmen kami dalam program UGD ini akan terus berjalan dan untuk membangun ke empat desa di pulau buru tersebut sudah menghabiskan anggaran sebesar Rp8,4 miliar.
“Semua anggaran ini murni berasal dari Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi,” lanjutnya.
Kemampuan ini kami peroleh, karena mempunyai 30 bisnis dan mempunyai lembaga zakai, infaq, dan shodaqoh (Lazis) internal.
“Semua siswa yang belajar di sini, kita memberikan beasiswa gratis total, termasuk makan dan tempat tinggal, namun setelah mereka sudah bekerja mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan zakat, infaq, dan shodaqoh,” jelasnya.
Lazis ini sudah berjalan 15 tahun dengan 1.500 alumni yang tersebar di berbagai negara, antara lain Jepang, Kuwait, Makkah Arab Suadi.
“Para alumni yang mendapat beasiswa belajar dari Al Fath terikat MoU, artinya semua belajar gratis di sini, tetapi setelah bekerja mereka harus mengeluarkan Zakat, infaq, dan shodaqoh. Makannya kita sebut dengan istilah sistem ekonomi shodaqoh,” sebutnya.
Dengan Lazis Internal ini, Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi mampu mencukupi kebutuhan sosial, diantaranya pembangunan masjid di Cugenang Kabupaten Cianjur yang anggrannya mencapai Rp1 miliar dan juga untuk membiayai pembangunan ke empat desa di pulau Buru tersebut yang memang desa 3T dengan kemiskinan struktural yang diwariskan turun temurun.
“Pendidikan agama sangat rendah, pengolahan sumber daya alam, kewirausahaan, dan sekarang ini prioritas UGD adalah masalah pendidikan,” urainya.
Ponpes mengirimkan UGD ke sana dengan membawa kebaikan universal. Artinya kita ke sana murni membantu desa tersebut, tidak adalah istilah Islam atau Kristen atau yang berbau agama. Intinya semua manusia kita bantu.
“Selain itu, disana kita juga mengajarkan IT, disana ada bantuan dari pemerintah yang masuk ke desa, makanya kita disana juga membuatkan website, peta desa, juga membuatkan program-program desa.,” tambahnya.
“Atas capaian ini, UGD saat ini mendapat apresiasi dari pusat, yakni dari Kementerian Agama melalui Bimas dan diakomodir menjadi program nasional bagian dari program Dai 3T (terjauh, tertinggal, dan terluar),” tutupnya
Sementara itu, Penjabat (Pj) Wali Kota Sukabumi Kusmana Hartadji mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Ponpes Modern Dzikir Al-Fath pimpinan Prof. Fajar Laksana.
“Kalau tidak ada acara yang bentrok, saya selaku meluangkan waktu ke sini. Saya sangat mengapresiasinya,” ungkap Kusmana Hartadji kepada sukabumitimes.com pada Kamis (9/1/2025).
Ponpes ini tidak hanya menekankan belajar agama an-sich, namun lebih dari itu juga memberdayakan santri dalam bidang ekonomi,
Mempertahankan budaya daerah dengan tidak mengesampingkan agamanya.
“Ini bisa menjadi contoh bagi pesantren lain, cetusnya.
Kusmana Hartadji yang sebentar lagi akan meninggalkan Kita Sukabumi ini mempunyai harapan kepada Wali Kota Sukabumi terpilih untuk terus memperhatikan akan keberadan ponpes Al-Fath ini..
“Semoga Wali Kota terpilih terus melanjutkan, memperhatikan keberadaan Ponpes Al-Fath ini sebagai penjaga dan pelestarian budaya daerah dan utamanya sebagai kawah candradimuka para dai muda,” harapnya.
“Dan setelah saya purna dan kembali ke Bandung, saya akan selalu ingat bahwa saya pernah disini,” pungkasnya. (sya)































