SUKABUMITIMES.COM – Dunia teknologi sempat dikejutkan dengan keputusan Sergey Brin, salah satu pendiri Google, untuk mundur dari operasional harian Alphabet pada akhir 2019. Namun, pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) telah membatalkan rencana pensiun dini sang pionir internet tersebut.
Brin kini kembali aktif di lini depan riset Google, mengakui bahwa menjauh dari dunia teknis adalah sebuah kesalahan.
Berbicara dalam sebuah sesi di Universitas Stanford baru-baru ini, Brin mengungkapkan refleksi personal yang jujur mengenai masa pensiunnya.
Ia awalnya memutuskan berhenti hanya sebulan sebelum pandemi Covid-19 melanda, dengan ambisi untuk mempelajari fisika lebih dalam secara mandiri.
Namun, rutinitas yang hilang justru membawa dampak tak terduga. Brin mengaku sempat merasa kehilangan arah dan merasa kemampuan mentalnya tidak lagi setajam dahulu karena kurangnya stimulasi teknis.
“Saya merasa kehilangan ruang stimulasi teknis yang biasa saya dapatkan setiap hari,” ungkapnya.
Hal inilah yang mendorongnya kembali ke kantor pusat Google ketika kebijakan kerja terbatas mulai diberlakukan, hingga akhirnya ia tenggelam dalam pengembangan model AI terbaru Google, Gemini.
Brin tidak segan memberikan kritik internal terhadap perjalanan investasi AI di Alphabet. Meski Google adalah penemu arsitektur Transformer pada tahun 2017—yang menjadi fondasi bagi semua model bahasa besar (LLM) saat ini—perusahaan dinilai kurang agresif dalam melakukan komersialisasi.
Brin menyebutkan bahwa kekhawatiran berlebih soal akurasi dan reputasi membuat Google sempat ragu meluncurkan chatbot ke publik.
Di sisi lain, pesaing seperti OpenAI bergerak jauh lebih cepat, yang kemudian memicu ledakan AI generatif secara global.
“Memilih untuk tetap pensiun di tengah revolusi ini akan menjadi kesalahan besar bagi saya,” ujar Brin.
Baginya, kepuasan yang didapat dari mengerjakan proyek Gemini AI jauh melampaui rencana libur panjangnya.
Brin juga merefleksikan beberapa kegagalan ikonik di masa lalu, termasuk Google Glass. Dengan nada bergurau namun serius, ia mengakui adanya ego besar di masa itu.
“Semua orang (saat itu) mengira mereka adalah Steve Jobs berikutnya. Aku juga pernah melakukan kesalahan itu,” katanya.
Merujuk pada produk yang dinilai terlalu dini dan kurang diterima pasar.
Terkait masa depan talenta digital, Brin memberikan pesan kuat kepada para mahasiswa. Meski AI kini mampu menulis kode (coding) dengan sangat mahir, ia mendorong generasi muda untuk tetap menekuni bidang teknis.
Menurutnya, pemrograman tetap merupakan nilai fundamental yang tidak tergantikan dalam membangun sistem AI itu sendiri.
Meskipun sempat tertinggal dalam peluncuran produk konsumen, Brin tetap optimis pada keunggulan jangka panjang Google.
Ia menekankan bahwa Alphabet memiliki kontrol penuh atas seluruh rantai nilai AI: mulai dari riset jaringan saraf, produksi chip khusus (TPU), hingga infrastruktur pusat data berskala global.
Keberhasilan Google dalam mengejar ketertinggalan di bidang AI juga berimplikasi langsung pada pundi-pundi kekayaan para pendirinya. Berkat kenaikan saham Alphabet, Sergey Brin kini tercatat sebagai orang terkaya ketiga di dunia dengan total kekayaan mencapai US$ 253,5 miliar atau setara dengan Rp 4.273 triliun.
Bagi Brin, keterlibatannya saat ini bukan lagi soal uang, melainkan adrenalin dari dinamika riset yang berubah setiap hari.
“Jika Anda melewatkan berita AI selama satu bulan saja, Anda akan tertinggal jauh,” pungkasnya. (sya)


























