Tak Harus Menunggu 25 Tahun, Alumni SMANTI 2001 Buktikan Silaturahmi Tak Lekang oleh Waktu

SUKABUMITIMES.com — Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat untuk kembali mempertemukan teman-teman yang pernah tumbuh bersama di bangku sekolah. Namun, bagi alumni SMA Negeri 3 (SMANTI) Sukabumi angkatan 2001, jarak, waktu, dan kesibukan bukan penghalang untuk merajut kembali persaudaraan.

Sebanyak 250 alumni berkumpul dalam Silver Reunion atau Reuni Perak yang digelar di salah satu kafe di Sukabumi, Sabtu (24/10/2026).

Mengusung tema “Cerita Lama, Berbagi Kebaikan”, pertemuan tersebut bukan sekadar ajang melepas rindu, melainkan juga momentum untuk menebarkan kepedulian sosial dan memperkuat ikatan persaudaraan.

Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kegiatan tersebut. Para alumni kembali mengenang cerita semasa sekolah, berbagi pengalaman perjalanan hidup, serta menyadari bahwa meskipun kini menjalani kehidupan dan kesibukan yang berbeda, ikatan persahabatan tetap terjaga.

Ketua panitia, Rizal, mengatakan reuni tersebut memiliki makna lebih dari sekadar pertemuan setelah seperempat abad berpisah. Menurut dia, keberhasilan mengumpulkan sekitar 250 alumni merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak yang terlibat.

“Ini bukan reuni biasa. Kami sudah melewati perpisahan selama 25 tahun dan menjalani kehidupan masing-masing. Namun, dengan upaya yang maksimal, akhirnya sekitar 250 alumni bisa berkumpul. Mereka hadir dengan penuh kebahagiaan dan antusiasme,” ujar Rizal.

Ia menjelaskan, persiapan reuni dilakukan dalam waktu kurang dari dua bulan. Seluruh proses dikerjakan secara mandiri oleh para alumni, mulai dari tim kreatif, tim lapangan, desainer, hingga pelaksana kegiatan.

Tantangan terbesar, kata Rizal, adalah menemukan kembali teman-teman yang telah lama kehilangan kontak. Panitia memanfaatkan media sosial, menelusuri informasi melalui rumah lama, serta menghubungi kerabat untuk mengetahui keberadaan para alumni.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Satu demi satu teman lama berhasil ditemukan dan diajak kembali berkumpul dalam suasana penuh nostalgia.

“Semua ini kami kerjakan bersama. Kami berusaha mencari teman-teman melalui media sosial, rumah lama, hingga informasi dari sanak saudara. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa kembali dipertemukan,” katanya.

Hal yang membuat reuni ini semakin bermakna adalah adanya kepedulian sosial yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Para alumni menghimpun dana untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim serta mengenang jasa para guru dan alumni yang telah meninggal dunia.

Bagi mereka, reuni bukan hanya tentang menghidupkan kembali kenangan masa lalu, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebaikan yang pernah tumbuh selama menempuh pendidikan bersama.

Semangat berbagi tersebut menjadi pengingat bahwa persahabatan sejati tidak berhenti ketika masa sekolah berakhir. Justru, setelah masing-masing menjalani perjalanan hidup, ikatan itu dapat menjadi kekuatan untuk saling mendukung dan memberikan manfaat bagi sesama.

Rizal menegaskan, reuni tersebut merupakan bentuk komitmen para alumni untuk terus terhubung, berkontribusi, saling mengingatkan, dan membantu satu sama lain.

Ia juga menyampaikan pesan kepada adik-adik kelas yang masih menimba ilmu di SMANTI agar menjaga hubungan baik sejak dini dan tidak membiarkan waktu terlalu lama memisahkan mereka.

“Kami ingin menyampaikan kepada adik-adik kelas yang masih menimba ilmu di SMANTI, tetaplah terhubung dan jaga persaudaraan. Jangan sampai harus menunggu 25 tahun seperti kami untuk bisa berkumpul kembali,” tuturnya.

Silver Reunion SMANTI 2001 menjadi bukti bahwa perjalanan waktu boleh mengubah banyak hal, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, hingga kehidupan keluarga. Namun, kenangan dan persahabatan yang dibangun bersama tetap memiliki ruang tersendiri di hati setiap orang.

Pertemuan tersebut sekaligus menyampaikan pesan sederhana tetapi kuat: menjaga silaturahmi tidak harus menunggu momentum besar atau perayaan puluhan tahun.

Sebab, pada akhirnya, reuni bukan semata-mata tentang seberapa lama seseorang berpisah, melainkan tentang bagaimana persaudaraan tetap hidup, kepedulian terus tumbuh, dan kebaikan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jangan menunggu 25 tahun untuk kembali terhubung. Karena persahabatan yang dijaga hari ini akan menjadi kenangan berharga di masa depan. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *