SUKABUMITIMES.com — Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai berdampak terhadap aktivitas budidaya ikan air tawar di Kota Sukabumi. Sejumlah kolam pembudidaya mengalami kekeringan sehingga kegiatan produksi ikan terpaksa terhenti.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi pun turun langsung memantau kondisi kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) yang terdampak. Dari puluhan Pokdakan yang ada, sejauh ini tiga kelompok terdeteksi mengalami dampak kekeringan.
Ketiga Pokdakan tersebut yakni Pokdakan Meguro di Karang Tengah, Pokdakan Mina Makmur di Limusnunggal, serta satu Pokdakan Mina Makmur lainnya.
Kepala Bidang Perikanan DKP3 Kota Sukabumi, Suriya Bagia Gandhana, mengatakan pemantauan dilakukan untuk mengetahui kondisi pembudidaya sekaligus mengidentifikasi kebutuhan mereka akibat kemarau.
“Dari beberapa Pokdakan di Kota Sukabumi, baru tiga Pokdakan yang terdeteksi mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang cukup panjang,” ujar Suriya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (23/9/2026).
Menurut Suriya, kekeringan membuat sebagian pembudidaya tidak dapat melanjutkan kegiatan budidaya. Kolam yang menjadi sarana utama pemeliharaan ikan mengalami kekurangan air, sehingga pembudidaya harus menghentikan sementara aktivitas produksi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian DKP3 karena terhentinya budidaya berpotensi memengaruhi pendapatan para pembudidaya yang menggantungkan usaha pada kegiatan perikanan.
“Kami memahami kondisi cuaca saat ini berdampak kepada pembudidaya ikan. Karena itu, DKP3 berinisiatif mengajukan bantuan bagi para pembudidaya ikan yang terkena dampak musim kemarau,” kata Suriya.
DKP3 Kota Sukabumi saat ini tengah mengajukan bantuan melalui Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu pembudidaya yang tergabung dalam Pokdakan dan mengalami dampak langsung akibat kekeringan.
Suriya mengatakan sebagian besar pembudidaya ikan di Kota Sukabumi mengembangkan ikan air tawar, terutama nila dan lele. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha budidaya tersebut.
“Mayoritas pembudidaya ikan di Kota Sukabumi membudidayakan ikan air tawar seperti nila dan lele,” ujarnya.
Selain bantuan untuk menghadapi dampak kemarau, DKP3 juga menyiapkan langkah pemulihan ketika kondisi cuaca kembali normal. Pemerintah daerah berencana berkoordinasi dengan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBAT) untuk mendukung penyediaan benih ikan.
Menurut Suriya, bantuan benih tersebut nantinya dapat diberikan kepada pembudidaya yang terdampak dan tergabung dalam Pokdakan. Dengan demikian, mereka dapat kembali memulai kegiatan budidaya setelah kondisi air memungkinkan.
“Ketika cuaca sudah kembali normal, DKP3 Kota Sukabumi akan melakukan kerja sama dengan BBAT untuk menyediakan bibit ikan bagi para petani yang terdampak musim kemarau,” katanya.
DKP3 Kota Sukabumi juga masih memantau kondisi Pokdakan lainnya. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan dampak kemarau terhadap sektor perikanan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Bagi pembudidaya ikan, keberadaan air bukan sekadar kebutuhan teknis dalam pemeliharaan ikan, tetapi menjadi penentu keberlanjutan produksi. Ketika kolam mengering, aktivitas budidaya ikut terhenti dan pembudidaya harus menunggu hingga kondisi kembali memungkinkan. (rus)






























