SUKABUMITIMES.com – Ratusan mahasiswa STAI Al-Mas’udiyah Sukabumi mengikuti kegiatan Stadium General yang digelar di Kampus STAI Al-Mas’udiyah Sukabumi, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan akademik tersebut mengangkat dua isu strategis, yakni profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) serta hilirisasi produk halal berbasis kearifan lokal sebagai upaya memperkuat daya saing ekonomi syariah Indonesia menuju ekosistem industri halal yang berkelanjutan.
Stadium General menghadirkan Ketua Program Studi Pascasarjana (S2) Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Asep Nursobah, serta Ketua Program Studi Pascasarjana (S2) Hukum Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sofian Al-Hakim. Jalannya diskusi dipandu oleh Pembantu Ketua II STAI Al-Mas’udiyah Sukabumi, Saehudin, yang bertindak sebagai moderator.
Dalam sesi mengenai profesionalisme Guru PAI, mahasiswa diajak memahami berbagai tantangan pendidikan Islam di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah masih adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.
Para narasumber menegaskan bahwa agama memiliki posisi strategis sebagai benteng moral agar perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial tetap berjalan dalam koridor nilai-nilai keislaman.
Selain itu, persoalan akhlak juga menjadi perhatian utama. Guru PAI dinilai memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi turats dan khazanah keilmuan Islam yang kokoh, sekaligus mampu mengontekstualisasikannya dengan kebutuhan masyarakat modern.
Perkembangan teknologi dan digitalisasi juga disebut membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Guru tidak hanya dituntut menguasai teknologi informasi, tetapi juga mampu membangun budaya komunikasi yang santun di ruang digital.
Prinsip “سلامة الإنسان بحفظ اللسان” atau keselamatan manusia dapat dijaga melalui kemampuan mengendalikan lisan dan bahasa menjadi salah satu pesan penting dalam pembahasan tersebut.
Melalui pendekatan itu, pendidikan dipandang tidak semata-mata bertujuan mencerdaskan peserta didik, melainkan juga membentuk akhlak al-karimah melalui pembiasaan nilai-nilai empati sejak dini.
Sementara itu, pada sesi kedua, pembahasan diarahkan pada pentingnya hilirisasi produk halal berbasis kearifan lokal sebagai penggerak ekonomi syariah.
Mahasiswa diajak melihat potensi besar yang dimiliki Sukabumi untuk dikembangkan menjadi produk halal bernilai tambah melalui inovasi, standardisasi, sertifikasi halal, hingga penguatan akses pasar.
Para pemateri juga menekankan bahwa tanggung jawab terhadap produk halal bukan hanya berada di tangan konsumen, tetapi juga produsen. Pemahaman agama menjadi fondasi penting agar seluruh proses produksi hingga konsumsi berjalan sesuai prinsip halal dan thayyib.
Landasan tersebut diperkuat dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir, “Al-halalu bayyinun wal-haramu bayyinun wa bainahuma umurun musytabihat,” yang mengingatkan bahwa perkara halal dan haram telah jelas, sedangkan perkara yang masih samar memerlukan kehati-hatian dan pemahaman yang memadai.
Diskusi juga membahas kesiapan pelaku usaha menghadapi kebijakan Wajib Halal Oktober 2026. Mahasiswa diajak memahami pentingnya membangun daya saing produk halal lokal agar mampu menembus pasar nasional hingga global, termasuk memahami proses memperoleh sertifikasi halal yang diakui secara internasional.
Menutup sesi diskusi, moderator Saehudin menegaskan bahwa konsep halal tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebatas persoalan makanan atau minuman.
“Halal hari ini bukan sekadar hanya tantangan apa yang kita makan, tetapi tentang bagaimana kita membangun sebuah ekosistem kehidupan halal, thayyib, berkeadilan dan berkelanjutan dalam kehidupan bernegara,” ujar Saehudin.
Ia menjelaskan bahwa konsep halal harus dipahami sebagai bagian dari sebuah sistem kehidupan yang menyeluruh.
“Halal tidak hanya berbicara tentang produk yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana produk dihasilkan, bagaimana aktivitas ekonomi dijalankan, bagaimana keadilan diwujudkan, serta bagaimana keberlanjutan dijaga,” katanya.
Saehudin menambahkan bahwa orientasi ekonomi syariah tidak semata mengejar keuntungan finansial, tetapi juga harus menghadirkan keberkahan dan kemanfaatan bagi masyarakat.
“Keuntungan yang besar belum tentu membawa keberkahan. Ekonomi syariah harus mampu menghadirkan nilai keberkahan, keadilan, kemanfaatan, dan keberlanjutan dalam setiap aktivitasnya,” tegasnya.
Antusiasme ratusan mahasiswa selama kegiatan berlangsung menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu pendidikan Islam dan ekonomi syariah. Stadium General tersebut menjadi ruang akademik yang mempertemukan tradisi keilmuan dengan inovasi, potensi lokal dengan tantangan global, serta penguatan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter.
Melalui kegiatan ini, STAI Al-Mas’udiyah Sukabumi menegaskan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang mampu melahirkan lulusan yang berilmu, profesional, berakhlak mulia, adaptif terhadap perubahan, sekaligus mampu mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan bagi kemajuan masyarakat dan bangsa. (sya)
































