SUKABUMITIMES.COM – Dua sungai bersejarah yang selama ribuan tahun menjadi penopang kehidupan di kawasan Timur Tengah, yakni Sungai Eufrat dan Sungai Tigris, kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Penurunan debit air yang terus berlangsung membuat kedua sungai tersebut diperkirakan berpotensi mengering dalam beberapa dekade mendatang.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena kawasan yang dilalui kedua sungai merupakan Mesopotamia, wilayah yang dikenal luas sebagai tempat lahirnya peradaban pertama manusia. Di kawasan inilah berkembang kota-kota kuno seperti Uruk dan Babilonia yang kini berada di wilayah Irak modern.
Laporan Kementerian Sumber Daya Air Irak yang diterbitkan pada 2021 bahkan memperingatkan bahwa sistem Sungai Eufrat berisiko mengering pada sekitar tahun 2040 apabila tren penurunan debit air terus berlanjut.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama yang menyebabkan berkurangnya pasokan air. Kekeringan berkepanjangan serta terus menurunnya permukaan air membuat aliran Sungai Eufrat dan Tigris mengalami penyusutan signifikan.
Data pemantauan juga menunjukkan bahwa aliran sistem Sungai Eufrat-Tigris telah berkurang hampir 50 persen hanya dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan citra satelit, sekitar 144 kilometer kubik cadangan air tawar di kawasan tersebut dilaporkan hilang dalam kurun waktu 2003 hingga 2013.
Kondisi ini tidak hanya mengancam keseimbangan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Diperkirakan sekitar 60 juta penduduk di Turki, Suriah, dan Irak menggantungkan kebutuhan air bersih, pertanian, hingga aktivitas ekonomi pada sistem Sungai Eufrat-Tigris.
Selain menjadi perhatian ilmiah, mengeringnya Sungai Eufrat juga kerap dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW mengenai salah satu tanda akhir zaman.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan: “Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas sehingga manusia menjadi saling berperang dan saling membunuh untuk mendapatkannya.” (HR. Muslim No. 2894).
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa fenomena menyusutnya debit Sungai Eufrat dan Tigris saat ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui kombinasi perubahan iklim global, meningkatnya suhu bumi, berkurangnya curah hujan, serta tingginya pemanfaatan air di wilayah hulu.
Jika tidak ada upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan, krisis air di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan semakin memburuk dan mengancam keberlangsungan jutaan penduduk yang selama ini bergantung pada dua sungai bersejarah tersebut. (*/sya)

































