SUKABUMITIMES.com– Bank Dunia resmi menaikkan status Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income), sebuah pencapaian yang mencerminkan kuatnya pertumbuhan ekonomi kedua negara dalam beberapa tahun terakhir. Status baru ini dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor sekaligus memperkuat posisi keduanya di kawasan Asia Tenggara.
Dalam pembaruan klasifikasi pendapatan negara yang dirilis Bank Dunia, Vietnam dan Filipina kini bergabung dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand sebagai negara Asia Tenggara yang telah masuk kelompok berpendapatan menengah atas atau lebih tinggi.
Bank Dunia menjelaskan, keberhasilan Vietnam ditopang oleh strategi pembangunan yang berorientasi ekspor. Sementara Filipina dinilai berhasil mencatat pertumbuhan yang merata di hampir seluruh sektor ekonomi.
“Hal ini mencerminkan pertumbuhan di semua industri utama, bukan lonjakan di satu sektor saja, melainkan sebuah pergeseran menyeluruh di seluruh aspek ekonomi,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.
Berdasarkan data 2025, pendapatan nasional bruto (Gross National Income/GNI) per kapita Vietnam mencapai US$4.970, sedangkan Filipina sebesar US$4.850. Kedua angka tersebut telah melampaui ambang batas Bank Dunia sebesar US$4.636 untuk masuk kategori negara berpendapatan menengah atas.
Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, mengatakan peningkatan status tersebut merupakan hasil dari upaya pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah berbagai tantangan global.
“Meski menghadapi guncangan global maupun domestik, kami terus berupaya mewujudkan pertumbuhan yang inklusif, memperkuat fondasi ekonomi, dan tetap berada di jalur agenda pembangunan kami,” kata Balisacan.
Vietnam sendiri masih memasang target ambisius dengan mengejar pertumbuhan ekonomi dua digit pada tahun ini. Target tersebut didukung reformasi yang lebih ramah terhadap dunia usaha serta percepatan pembangunan infrastruktur untuk menarik investasi.
Sementara itu, Filipina masih harus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pemerintah negara tersebut telah menurunkan target pertumbuhan ekonomi periode 2026–2030 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta dampak fenomena El Niño terhadap perekonomian.
Selain Vietnam dan Filipina, Bank Dunia juga menaikkan status Yordania, Mikronesia, dan Sri Lanka ke kelompok negara berpendapatan menengah atas. Adapun Togo berhasil naik dari kelompok negara berpendapatan rendah menjadi negara berpendapatan menengah bawah.
Bank Dunia mencatat tren positif tersebut sejalan dengan semakin berkurangnya jumlah negara berpendapatan rendah di dunia. Jika pada 1987 mencapai sekitar 30 persen, kini porsinya tinggal sekitar 11 persen.
Dampak terhadap Pendanaan
Di balik pencapaian tersebut, status baru juga membawa konsekuensi. Negara yang naik kelas berpotensi kehilangan akses terhadap sejumlah skema pinjaman lunak yang selama ini dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, program sosial, hingga pemulihan pascabencana.
Kepala Ekonom Union Bank of the Philippines, Ruben Carlo Asuncion, menilai kondisi itu merupakan konsekuensi wajar dari meningkatnya kapasitas ekonomi suatu negara.
“Intinya, semakin tinggi klasifikasi suatu negara, berarti negara tersebut semakin mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan serta sumber dayanya sendiri, termasuk dari sisi fiskal,” ujarnya.
Meski demikian, Balisacan optimistis manfaat yang diperoleh Filipina akan lebih besar dibandingkan potensi berkurangnya bantuan pembangunan.
“Manfaat dari fondasi ekonomi yang lebih kuat dan akses pasar yang semakin baik diperkirakan akan lebih besar dibandingkan penyesuaian tersebut,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa status baru tersebut bukan berarti seluruh persoalan telah selesai. Menurutnya, kesenjangan pendapatan masih menjadi pekerjaan rumah besar dan masih banyak masyarakat Filipina yang menghadapi tekanan ekonomi sehingga pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif. (*/sya)


























