Ayep Zaki Dorong Batik, Tas dan Batu Jadi Ikon Kota Sukabumi, Dekranasda Diminta Tembus Pasar Nasional hingga Internasional

SUKABUMITIMES.com – Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menyatakan bahwa Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Sukabumi harus fokus mengembangkan tiga produk unggulan daerah agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Hal tersebut disampaikan Ayep usai pelantikan Pengurus Antar Waktu (PAW) Dekranasda Kota Sukabumi periode 2025-2030 yang melengkapi susunan kepengurusan organisasi tersebut.

“Hari ini pelantikan pengurus Dekranasda yang PAW untuk periode 2025-2030, dan sekarang kepengurusannya sudah lengkap,” ujar Ayep Zaki.

Dalam kesempatan itu, Ayep menegaskan bahwa Dekranasda harus memiliki fokus yang jelas terhadap produk unggulan yang akan dikembangkan.

“Saya sampaikan kepada pengurus Dekranasda, cari unggulan Dekranasda apa. Jadi unggulannya ada tiga, yaitu kerajinan batik, kerajinan tas, dan kerajinan batu. Tiga ini harus diperkuat supaya kita bisa bersaing secara nasional maupun juga internasional,” tegasnya.

Menurut Ayep, pengembangan industri kerajinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Karena itu, ia meminta Dekranasda membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga dan program pembangunan yang sedang dijalankan Pemerintah Kota Sukabumi.

“Sukabumi ini antarlembaga, Dekranasda dengan lembaga-lembaga lainnya harus bersinergi. Semua harus bersinergi untuk memajukan Kota Sukabumi,” katanya.

Ia mencontohkan sejumlah program yang dapat diintegrasikan dengan pengembangan produk kerajinan daerah.

“Misalkan dengan program Sukabumi Walking Tour, kemudian dengan rencana Sukabumi membangun kawasan industri, rencana Sukabumi untuk membangun kawasan perkotaan. Semua itu harus bersinergi,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Sukabumi, Ranti Rachmatillah, menjelaskan bahwa pelaksanaan PAW dilakukan karena terdapat sejumlah pengurus sebelumnya yang sudah tidak lagi bertugas di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi.

“Di SK sebelumnya ada beberapa yang keluar, kemudian pindah dan tidak lagi menjadi bagian dari Pemkot. Ada yang bekerja di perbankan dan ada juga yang bekerja di tempat lain. Karena itu posisi yang kosong harus diisi kembali,” jelas Ranti.

Ia juga meluruskan informasi yang beredar terkait adanya pergantian pada posisi wakil ketua.

“Kia tidak diganti. Mungkin tidak hadir saja. Kalau wakil itu tidak diganti karena sifatnya ex officio,” katanya.

Terkait penetapan tiga produk unggulan Dekranasda, Ranti mengungkapkan bahwa pemilihan tersebut merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh Dekranasda Provinsi Jawa Barat dalam rangka persiapan kegiatan Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB).

“Untuk acara PKJB, dari Jawa Barat ada himbauan agar setiap daerah memilih lima item terbaik. Ternyata yang lolos dari Kota Sukabumi ada tiga, yaitu batik, tas dan batu,” ungkapnya.

Menurut Ranti, ketiga produk tersebut memiliki peluang besar untuk dipromosikan lebih luas melalui etalase Dekranasda Jawa Barat.

“Yang memilih itu Dekranasda Provinsi. Mudah-mudahan produk-produk ini bisa bersaing dengan kota dan kabupaten lain. Di Dekranasda Jawa Barat juga ada etalase produk daerah. Saat ini yang sudah masuk baru batik Lokatmala, nanti tas dan batu juga akan menyusul,” jelasnya.

Meski demikian, Ranti menegaskan bahwa pihaknya masih perlu melakukan kajian mendalam terkait kesiapan para pengrajin dalam memenuhi kebutuhan pasar yang lebih besar.

“Kita harus meneliti dulu, apakah siap ketika nanti ada permintaan pasar yang sangat banyak. Karena itu menyangkut permodalan dan berbagai hal lainnya,” katanya.

Ia berharap pengembangan produk unggulan tersebut mampu meningkatkan kapasitas dan daya saing para pelaku usaha kerajinan di Kota Sukabumi.

“Mudah-mudahan ke depan Dekranasda dan para pengrajin kita bisa lebih baik lagi,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai dukungan anggaran untuk pengembangan produk unggulan tersebut, Ranti mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada rencana suntikan dana khusus. Namun, pihaknya membuka peluang kolaborasi dengan sektor perbankan untuk membantu pengrajin yang ingin naik kelas.

“Kalau suntikan dana belum terpikirkan. Tapi kalau pengrajin memang ingin naik kelas dan produknya diterima masyarakat, nanti kita akan berkolaborasi dengan Bank BJB. Jadi lebih kepada fasilitasi agar mereka bisa berkembang,” pungkasnya. (sya/rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *