SUKABUMITIMES.com — Pasca perayaan Idul Fitri 1447 H, persoalan penumpukan sampah kembali menjadi sorotan di Kota Sukabumi. Hingga Rabu pagi (25/3/2026), tumpukan sampah yang belum diangkut di kawasan Jalan Kenari, Kelurahan Selabatu, dilaporkan semakin menggunung dan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas warga.
Keluhan ini ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi viral, salah satunya disuarakan oleh akun Mang Wibisana. Dalam unggahannya, ia mengungkapkan keresahan atas kondisi sampah yang dinilai semakin parah dari hari ke hari.
“Masya Allah ini sampah apakah tidak akan diangkat? Makin ke sini makin menggunung. Baunya tercium ke mana-mana,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Ia juga menyoroti lokasi tumpukan sampah yang berada di kawasan strategis, yakni di sekitar Jalan Kenari yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat. Di area tersebut terdapat berbagai fasilitas publik seperti kafe Sono Space, Kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kota Sukabumi, hingga sejumlah fasilitas lainnya.
Tak hanya itu, kawasan Jalan Kenari juga dikenal sebagai area wisata dan ruang aktivitas warga. Di sekitarnya terdapat Kolam Renang Rengganis, area olahraga Kenari Trok, deretan kafe, Sekolah Yuwati Bhakti, hingga Kantor Dekranasda. Kondisi sampah yang menumpuk di lokasi tersebut dinilai berpotensi merusak citra kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik keramaian di Kota Sukabumi.
“Kami mengingatkan kepada dinas yang berwenang di Pemkot Sukabumi, ini kawasan wisata. Sampahnya harus segera diangkat karena baunya sudah sangat menyengat dan busuk,” tambah Mang Wibisana dalam unggahannya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Cecep, yang mengaku heran dengan lambannya penanganan sampah di kawasan tersebut. Ia mempertanyakan mengapa tumpukan sampah dibiarkan begitu lama tanpa ada tindakan cepat dari pihak terkait.
“Mau didiamkan saja ini? Padahal ini kawasan perkantoran, kafe, wisata, bahkan ada hotel. Baunya sudah seperti bau bangkai, bukan bau sampah biasa,” ujarnya saat ditemui di sekitar lokasi.
Menurut Cecep, kondisi ini tidak hanya mengganggu warga sekitar, tetapi juga berdampak langsung pada kenyamanan pengunjung yang datang ke kawasan tersebut. Ia menyebut banyak tamu dari luar kota yang mengeluhkan bau tidak sedap saat berada di area kafe maupun tempat wisata.
“Kebayang pesan menu di kafe, seperti nasi goreng, tapi aromanya bercampur bau sampah. Ini sangat mengganggu dan bisa menurunkan minat pengunjung,” katanya.
Ia menambahkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan berdampak pada penurunan jumlah pengunjung dan merugikan pelaku usaha di sekitar Jalan Kenari.
“Kalau tamu kapok datang, yang rugi bukan hanya masyarakat, tapi juga pelaku usaha. Padahal ini kawasan yang potensinya besar,” lanjutnya.
Warga lainnya juga menyampaikan kekhawatiran terkait dampak kesehatan akibat tumpukan sampah yang tidak segera diangkut. Bau menyengat yang terus muncul dikhawatirkan menjadi sumber penyakit, terutama bagi anak-anak dan warga yang tinggal di sekitar lokasi.
“Kalau dibiarkan lama, ini bisa jadi sarang penyakit. Apalagi sekarang cuaca kadang panas, kadang hujan, bau makin menyengat,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi segera turun tangan dan mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan ini. Penanganan yang sigap dinilai sangat penting, tidak hanya untuk menjaga kenyamanan lingkungan, tetapi juga untuk melindungi kesehatan warga dan menjaga citra kawasan.
“Harapan kami sederhana, sampah ini segera diangkut. Jangan sampai menumpuk berhari-hari seperti ini,” kata Cecep.
Senada dengan itu, Mang Wibisana juga berharap ada respons cepat dari pemerintah daerah agar persoalan ini tidak terus berulang, terutama setelah momen besar seperti Idul Fitri yang biasanya meningkatkan volume sampah.
“Ini harus jadi perhatian serius. Jangan sampai setiap habis Lebaran selalu terjadi hal yang sama,” tutupnya. (sya)































