SUKABUMITIMES.com — Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, Maman Hidayat, menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter sebagai fondasi utama pembentukan generasi unggul. Melalui gagasan bertajuk “Madrasahku Adalah Surgaku”, ia mendorong madrasah menjadi ruang pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kesalehan individu dan sosial.
Menurut Maman, paradigma pendidikan madrasah harus berangkat dari konsep Panca Waluya, yakni pembentukan peserta didik yang cageur (sehat lahir batin), bageur (berperilaku baik), bener (berintegritas), pinter (cerdas), dan pada akhirnya menjadi pribadi singer (unggul dan kompetitif). Konsep tersebut, jelasnya, merupakan pendekatan holistik yang menyeimbangkan dimensi intelektual, moral, spiritual, dan sosial. Hal ini di sampaikan saat di temui sukabumitimes.com di ruang kerjanya pada Selasa (24/02/26).
“Kepintaran bukanlah tujuan utama, melainkan konsekuensi dari kesalehan. Ketika anak memiliki fondasi akhlak yang kuat, maka pencapaian akademik akan mengikuti,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut selaras dengan kerangka Kurikulum Kementerian Agama yang mengedepankan nilai rahmatan lil ‘alamin. Dalam implementasinya, terdapat dua nilai utama yang menjadi prioritas, yakni ta’dhu (beradab dan berkarakter) serta qudwah (menjadi suri teladan). Dengan demikian, pendidikan karakter ditempatkan sebagai modal dasar dalam proses transformasi ilmu pengetahuan.
Maman menekankan bahwa madrasah ideal harus menjadi ruang yang membahagiakan. Relasi harmonis antara guru dan peserta didik diyakini mampu menghilangkan sekat psikologis dalam proses transfer ilmu. Ia mengilustrasikan konsep tersebut dengan analogi “baiti jannati” (rumahku adalah surgaku), yang ditransformasikan menjadi “madrastii jannati” (madrasahku adalah surgaku).
“Ketika guru dan siswa merasa bahagia berada di lingkungan madrasah, maka proses pembentukan karakter positif akan berlangsung secara alamiah,” katanya.
Momentum Bulan Suci Ramadan, lanjutnya, menjadi wahana strategis untuk memperkuat dimensi kesalehan individu melalui peningkatan ibadah seperti shalat, puasa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Di sisi lain, kesalehan sosial diwujudkan melalui sikap empati terhadap sesama serta kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan madrasah.
Sebagai bentuk konkret, pihaknya meluncurkan sejumlah program penguatan budaya religius, di antaranya pembiasaan membaca Asmaul Husna serta program Si Madu (Civitas Madrasah Dawam Wudhu) yang mendorong warga madrasah senantiasa menjaga kesucian lahir dan batin. Selain itu, tengah dicanangkan pula program lingkungan bersih dan bebas asap rokok guna menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan representatif.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Maman berharap madrasah di Kabupaten Sukabumi mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam nilai moral dan spiritual, sehingga mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keislaman.
“Madrasah harus menjadi ruang pembinaan calon ahli surga, tempat ilmu dan akhlak tumbuh secara seimbang,” pungkasnya. (rus)































