SUKABUMITIMES.com – Memasuki awal bulan suci Ramadan 1447 H, program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sukabumi justru menuai polemik tajam. Bukannya menjadi berkah bagi para siswa di hari pertama masuk sekolah di bulan ramadan, distribusi menu dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang diduga dimiliki oleh salah satu rumah makan terkenal di Kota Sukabumi memicu gelombang protes dan kekecewaan mendalam dari para orang tua murid di media sosial.
Keriuhan ini bermula dari unggahan akun Facebook bernama View Mpiw sekitar lima jam yang lalu.
Dalam foto yang diunggahnya, terlihat jatah menu MBG untuk anak sekolah hanya berupa bubur sumsum, potongan singkong, dan empat butir kurma.
Menu tersebut diklaim sebagai jatah asupan gizi untuk anak-anak di salah satu sekolah di Kota Sukabumi selama masa Ramadan.
Unggahan tersebut segera menyebar luas dan menu serupa juga di unggah oleh akun Shafa SR.
Dengan nada getir, Shafa mengungkapkan rasa kecewanya karena ketiga anaknya mendapatkan menu yang serupa.
“Semiskin2nya kami, ga jugalah harus menunggu seperti ini. Tolonglah dapur SPPG M*mih *Ng**, tidak harus kayak gini. apakah ini pantas dan layak dijadikan makanan bergizi? Ketiga anakku dapatnya begini semua. Bukan tidak bersyukur, tapi ini seperti penghinaan bagi kita,” tulis akun Shafa SR dalam keterangan fotonya.
Kritik Pedas Terkait Standar Gizi Nasional
Kekecewaan orang tua murid tidak hanya berfokus pada jenis makanannya, tetapi juga pada kandungan gizinya yang dianggap jauh dari standar gizi nasional. Padahal, esensi dari program MBG adalah untuk memperbaiki kualitas kesehatan dan pertumbuhan anak bangsa.
Di beberapa titik di Kota Sukabumi, sejumlah SPPG dikabarkan membagikan jatah menu sekaligus untuk durasi dua hingga tiga hari. Namun, praktik ini justru memperkeruh suasana karena menu yang diberikan dianggap tidak memenuhi spesifikasi yang dijanjikan pemerintah.
Kolom komentar di berbagai grup Facebook warga Sukabumi pun “meledak” dengan beragam reaksi sinis dan tuntutan transparansi.
Akun Surahman Nanang menuliskan sindiran tajam dengan memplesetkan singkatan MBG. “MBG (maling berkedok gizi). Kalau dikritik malah tidak terima, tapi kenyataannya seperti ini. Katanya kalau menolak atau kritik MBG melanggar hak asasi. Tidak tahu rakyat yang cerdas atau pemerintah yang bodoh. Yang jelas MBG ini menghabiskan uang rakyat sambil rakyat diperas,” tulisnya.
Senada dengan hal tersebut, Pandi Grin mendesak para orang tua untuk langsung mendatangi pelaksana program. “Bawa ke pelaksananya, kasih tahu kok bahannya tidak sesuai spek. SPPG mana? Bawa ke situ biar agak cerdas sedikitlah,” tegasnya.
Tuntutan akan peran ahli gizi juga muncul dari akun Liandy Andi. Ia menantang pihak SPPG untuk memaparkan data ilmiah terkait menu tersebut.
“Ahli gizinya di setiap SPPG perlu menjelaskan persentase kecukupan gizinya setiap kali menu dibagikan. Siap tidak nih? Agar transparan,” cetusnya.
Sementara itu, Asep Dadang memberikan komentar sarkastis terhadap efisiensi anggaran yang dilakukan pihak penyedia. “Ahli gizinya hebat… memperkecil pengeluaran, menghasilkan pendapatan yang melimpah,” tulisnya, menyiratkan adanya dugaan pengurangan kualitas demi keuntungan pribadi. (sya)






























