SUKABUMITIMES.com – Menanggapi situasi darurat puluhan pelajar dan guru mengalami dugaan keracunan makanan dari program MBG di wilayah kecamatan Simpenan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi langsung menetapkan status siaga untuk menyelamatkan nyawa para korban.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Maskur Alawi, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah life saving atau penyelamatan nyawa.
Maskur menjelaskan bahwa Puskesmas Simpenan telah dikerahkan secara maksimal sejak laporan pertama masuk. Petugas medis melakukan sistem triase untuk memilah pasien berdasarkan tingkat keparahan kondisi mereka.
“Prinsipnya, ketika ada kejadian seperti ini, tugas kami mulai dari Puskesmas adalah penanganan pasien. Kita lakukan penilaian, kita pilah-pilih, dan intinya dilakukan life saving. Ini adalah prinsip dasar penanganan kesehatan,” ujar Maskur. Kamis (29/1/2026).
Setelah kondisi pasien distabilisasi di Puskesmas, lanjut Maskur, Dinkes telah berkoordinasi dengan rumah sakit Palabuhanratu sebagai faskes rujukan utama. “Mereka (RSUD) sudah siap siaga di sana jika ada pasien yang perlu penanganan lebih lanjut,” tambahnya.
Menyadari potensi adanya korban susulan, kata Maskur lagi, Dinkes Sukabumi bergerak cepat melakukan langkah antisipatif. Mengingat kapasitas Puskesmas yang terbatas, pihak Dinkes bahkan sampai berkoordinasi dengan instansi lain untuk memenuhi fasilitas medis.
“Kami sudah koordinasi dengan Kodim dan Basarnas untuk meminjam bed (kasur). Kita harus berpikir antisipatif karena kemungkinan korban bisa bertambah lagi, makanya kita siapkan tempatnya,” ungkap Maskur.
Soroti Pengawasan Dapur MBG
Kejadian ini juga memicu pertanyaan terkait pengawasan dapur penyedia makanan (MBG). Maskur Alawi menjelaskan bahwa secara prosedur, jika sebuah dapur atau SPPG telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), maka pengawasan menjadi tanggung jawab mutlak Dinkes.
“Ketika sudah diterbitkan SLHS, itu sudah menjadi kewajiban melekat bagi kami untuk melakukan monitoring dan pengawasan rutin terhadap dapur tersebut,” tegasnya.
Di lokasi yang sama, dr. Egi dari tim medis yang menangani korban mengungkapkan hasil diagnosa sementara. Berdasarkan gejala klinis yang dialami para siswa dan guru, kuat dugaan mereka mengalami gangguan pencernaan hebat.
“Diagnosa awal ini adalah muntaber atau enteritis akut. Ada peradangan pada lambung yang diduga kuat akibat keracunan makanan. Namun, kepastiannya masih kita selidiki lebih dalam,” jelas dr. Egi. (stm)

































