Oleh: M Aditya Prayoga M (Mahasiswa ICBI Sukabumi)
Wisata bahari adalah kegiatan rekreasi yang memanfaatkan keindahan dan keunikan wilayah pesisir, pulau, dan laut, seperti pantai, bawah laut, dan lautan. Kegiatan ini meliputi berbagai aktivitas seperti menyelam, berselancar, berlayar, memancing, dan menikmati pemandangan laut. Wisata bahari juga mencakup olahraga air dan rekreasi yang dikelola secara komersial di perairan (kompas.com, 2024 ).
Pariwisata bahari kini menjadi salah satu sektor andalan bagi banyak wilayah pesisir di Indonesia. Keberhasilannya tidak hanya bergantung pada sumber daya alam atau kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan generasi muda. Mereka bukan sekadar tenaga tambahan, melainkan agen perubahan yang dapat memastikan destinasi wisata berkembang secara berkelanjutan.
Berdasarkan paparan (Madani Berkelanjutan, 2022), keunggulan wisata bahari Indonesia terletak pada keanekaragaman hayati bawah laut yang kaya, budaya pesisir yang unik, potensi aktivitas yang beragam, dan kontribusi ekonomi yang signifikan. Indonesia memiliki keindahan alam yang memukau, seperti terumbu karang terkaya di dunia dan lebih dari 2.000 spesies ikan, serta kekayaan budaya masyarakat pesisir. Selain itu, wisata bahari juga memberikan dampak positif bagi perekonomian negara dan masyarakat lokal.
Di Pulau Wakatobi, sejumlah pemuda lokal terlibat aktif dalam pengelolaan homestay dan penyediaan paket wisata bahari. Keterlibatan mereka tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan bagi wisatawan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut dan terumbu karang. Hal ini menunjukkan bagaimana representasi strategis generasi muda dapat mendorong keberlanjutan sekaligus memberdayakan komunitas.
Partisipasi generasi muda dalam pengambilan keputusan juga terlihat di Desa Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Pemuda di sini dilibatkan dalam perencanaan kegiatan wisata, termasuk pengaturan jumlah pengunjung dan pengelolaan sampah. Pendekatan ini memastikan manfaat ekonomi merata, sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Kemampuan adaptasi generasi muda terhadap teknologi menjadi salah satu keunggulan strategis. Melalui media sosial, aplikasi digital, dan platform pemasaran daring, mereka mempromosikan destinasi secara kreatif dan ramah lingkungan. Strategi ini terbukti menarik wisatawan muda yang peduli terhadap kelestarian alam, sekaligus memperkuat identitas destinasi.
Generasi muda juga menjadi penghubung antara aspek ekonomi, sosial, dan ekologi. Konsep ekonomi biru menekankan pemanfaatan sumber daya laut secara produktif namun tetap berkelanjutan. Pemuda yang memahami prinsip ini dapat mendorong pembangunan wisata yang menguntungkan tanpa merusak lingkungan.
Keberadaan pemuda di komunitas pesisir membuka peluang diversifikasi ekonomi. Mereka menginisiasi usaha homestay, panduan wisata lokal, hingga kerajinan berbasis laut. Contoh di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa inisiatif ini mampu meningkatkan pendapatan keluarga lokal sambil menjaga kualitas ekosistem laut.
Selain aspek ekonomi, pemuda juga berperan sebagai advokat lingkungan. Mereka mengedukasi masyarakat dan wisatawan tentang praktik ramah lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kelestarian terumbu karang. Peran ini membantu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekologi.
Generasi muda berkontribusi besar dalam wisata bahari Indonesia melalui promosi berbasis teknologi, konservasi lingkungan seperti rehabilitasi terumbu karang dan penanaman mangrove, serta pengembangan destinasi wisata baru. Mereka juga berperan sebagai agen perubahan ekonomi kreatif, edukator lingkungan, dan pencipta ekosistem pariwisata yang berkelanjutan, baik di tingkat lokal maupun nasional (Kementerian Komunikasi dan Digital, 2024).
Dari sisi kebijakan, generasi muda berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal. Keterlibatan mereka memastikan bahwa keputusan yang diambil lebih partisipatif dan mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang, bukan hanya keuntungan sesaat.
Generasi muda menghadapi tantangan global, seperti perubahan iklim dan tekanan terhadap ekosistem laut. Kesadaran mereka terhadap isu-isu ini mendorong penerapan praktik wisata yang lebih bertanggung jawab, serta menjaga keberlanjutan destinasi dalam jangka panjang.
Pendidikan dan pelatihan menjadi faktor penting agar peran mereka efektif. Literasi lingkungan, manajemen pariwisata, dan kemampuan digital membekali pemuda agar mampu mengambil peran strategis, bukan hanya sekadar tenaga kerja lapangan.
Secara sosial-budaya, keterlibatan pemuda memperkuat identitas komunitas dan menjaga tradisi lokal. Mereka menjadi penghubung antara generasi tua dan wisatawan, memastikan nilai budaya tetap dihargai sambil memanfaatkan peluang ekonomi.
Poin utama nya representasi strategis generasi muda menjadi fondasi bagi pariwisata bahari berkelanjutan. Dengan keterlibatan mereka sejak tahap perencanaan hingga implementasi, destinasi wisata dapat berkembang secara berkelanjutan, adil, dan memberdayakan masyarakat lokal sebagai pengelola sumber daya. (*)































