Oleh: Syarif Hidayat (Pemerhati Sosial)
Makan Bergizi Gratis (MBG) kalau sebelumnya makan siang gratis bagi anak sekolah dari PAUD hingga SLTA menjadi program prioritas atau unggulan masa pemerintahan presiden ke-8 Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Memang suatu ikhtiar mencerdaskan anak atau generasi bangsa sangat lah mulia dan pantas untuk didukung bersama. Apalagi sebentar lagi bangsa ini akan memasuki Indonesia emas 2045 yang sudah dicanangkan oleh presiden ke-7 Jokowi.
MBG sesuatu yang memang ditunggu para siswa, meski terkadang antara harapan dan kenyataan berbeda. Terutama dari isi menu yang ada didalamnya. Banyak kita lihat dari berbagai postingan yang dilakukan para siswa, terutama terkait menu yang jauh dari kata bergizi. Karena sebagian mungkin hanya mengejar keuntungan atau juga untuk menutup kerugian produksi.
Tetapi lebih dari itu, ekses yang ditimbulkannya MBG ini adalah harga bahan pokok yang cendrung naik terus di masyarakat. Mulia dari harga beras, telur, daging ayam, serta minyak goreng maupun yang lainnya.
Kenaikan ini memang sejalan dengan hukum ekonomi dimana permintaan meningkat, sedang barang stagnan, tentu harga akan ikut naik.
Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik, niscaya lama kelamaan akan menjadi fenomena gunung es yang sewaktu-waktu bisa mencair dan menimbulkan masalah besar.
Saat ini memang belum begitu terasa di masyarakat, karena yang mendapat program ini belum ada seperempatnya. Tetapi sejalan dengan perkembangan yang ada, semakin banyak MBG masuk sekolah, maka akan semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pasar.
Berdasarkan target dari Badan Gizi Nasional (BGN), bahwa sampai akhir tahun 2025 penerima manfaat MBG itu sebesar 82,9 juta. Artinya hampir semua siswa diharapkan mampu terakomodir semuanya. Sedangkan sampai bulan Agustus 2025, baru menjangkau lebih kurang 20 juta penerima manfaat.
Dengan kebutuhan yang diperkirakan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG rata-rata membutuhkan 200 kilogram (kg) beras, 3 ribu butir telur, 350 ekor ayam, 300 kg sayur, 350 kg buah, dan 450 liter susu setiap hari.
Begitu besarnya, kebutuhan yang harus dipenuhi pasar untuk serupa SPPG ini tentu bukan hanya sekedar harapan banyak tenaga kerja terserap, UMKM menggeliat saja, tetapi lebih jauh dari pada itu, yakni sanggupkah pasar memenuhi kebutuhan tersebut tanpa mengorbankan yang lainnya.
Masyarakat tentu saja yang akan menjadi korban, karena permintaan kebutuhan naik, maka secara ekonomi, harga juga akan berimbas ikut serta mengalami kenaikan.
Daya beli masyarakat yang turun akan mengakibatkan fenomena tersendiri dan inilah fenomena gunung es itu.
Alih-alih akan menyelesaikan persoalan, kalau tidak diantisipasi dengan baik, maka akan menjadi persoalan baru yang justru lebih urgen, karena sudah menyangkut kemampuan daya beli masyarakat. (*)
































